Pelajaran 11 Triwulan IV 2015 Sekolah Sabat, Penuntun Guru dan Berita Misi

Pelajaran 11



 Terima Kasih Tak Terhingga kami ucapkan kepada 
KELUARGA A. TANJUNG-TANNY 
yang telah menjadi sponsor utama dalam KKR KELUARGA ALLAH di Togola-Kec.Ibu, Halmahera Barat (1-8 November 2015). 
 Terima Kasih kepada TIM & PANITIA yang sudah bekerja sama dan sama-sama kerja semuanya untuk hormat dan kemuliaan bagi nama TUHAN. TOTAL MEMBER INVOLVEMENT !!!
Kiranya TUHAN memberkati dengan berkelimpahan. Kepada para babtisan kiranya tetap setia hingga MARANATHA.


5-11 Desember
Perjanjian
(Materi ini dalam bentuk epub untuk Apple dan Android silahkan downlod di sini)
SABAT PETANG
Untuk Pelajaran Pekan Ini, Bacalah: Kej. 9:1-17; 12:1-3; Gal. 3:6-9,15-18; Kel. 24; Yer. 31:31-34; 1 Kor. 11:24-26.
AYAT HAFALAN: "Sesungguhnya, akan datang waktunya, demiki­anlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda" (Yeremia 31:31).
               Meskipun Alkitab bcrbicara tentang "perjanjian-perjanjian dalam ben­tuk jamak (Rm. 9:4; Gal. 4:24), hanyalah ada satu dasar perjanjian,perjanjian anugerah, di mana Allah mencurahkan keselamatan ke atas manusia berdosa yang memintanya dengan iman. Gagasan "perjanjian- perjanjian" yang jamak muncul dari beberapa cara Allah dalam menyatakan kembali esensi perjanjian untuk memenuhi keperluan umat-Nya dalam waktu dan keadaan yang berbeda.
Tetapi apakah itu perjanjian Adam (Kej. 3:15), perjanjian Abraham (Kej. 12:1-3; Gal. 3:6-9), perjanjian di Sinai (Kel. 20:2), perjanjian Daud (Yeh. 37:24-27), atau Perjanjian Baru (Yer. 31:31-33), gagasannya adalah sama. Ke­selamatan yang Allah siapkan adalah sebuah pemberian, tanpa jasa kita serta tidak semestinya diberikan. Dan respons manusia terhadap pemberian itu—de­ngan maksud, kemanusiaan memegang sisi kesepakatan itu—adalah kesetiaan dan penurutan.
Perjanjian Baru pertama kali disebut adalah dalam kitab Yeremia, dalam konteks kembalinya Israel dari pembuangan, dan berkat-berkat yang Allah akan berikan kepada mereka. Bahkan di tengah malapetaka dan masalah, Tu­han memberikan kepada umat-Nya yang bertingkah ini harapan dan pemulih­an.
*Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat, 12 Desember.

Minggu 6 Desember
Perjanjian Allah dengan Semua Manusia
Kita melihat betapa buruknya dunia sekarang ini; yakni, kita melihat semua kejahatan ada di dalamnya, namun Allah tetap sabar terhadap kita. Maka, kita hanya dapat membayangkan betapa buruknya sesuatu sehingga Allah harus menghancurkan seluruh dunia dengan air bah. "Tuhan lelah memberikan ke­pada manusia hukum-hukum-Nya sebagai peraturan hidup, tetapi hukum-Nya itu dilanggar dan sebagai akibatnya timbullah segala macam dosa. Kejahatan manusia dilakukan dengan terang-terangan, keadilan diinjak-injak dan teriak­an orang-orang yang teraniaya naik sampai ke surga"—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 97.

Bacalah Kejadian 9:1-17. Perjanjian apakah yang dibuat antara Allah dengan manusia, dan bagaimanakah itu mcnccrminkan karunia Allah ke­pada makhluk ciptaan?
Kejadian 9:1-17
9:1. Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya serta berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi.
9:2 Akan takut dan akan gentar kepadamu segala binatang di bumi dan segala burung di udara, segala yang bergerak di muka bumi dan segala ikan di laut; ke dalam tanganmulah semuanya itu diserahkan.
9:3 Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.
9:4 Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.
9:5 Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia.
9:6 Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.
9:7 Dan kamu, beranakcuculah dan bertambah banyak, sehingga tak terbilang jumlahmu di atas bumi, ya, bertambah banyaklah di atasnya."
9:8. Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia:
9:9 "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu,
9:10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi.
9:11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi."
9:12. Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya:
9:13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.
9:14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan,
9:15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.
9:16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi."
9:17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi."


Perjanjian yang Allah tunjukkan kepada Nuh adalah yang paling luas di an­tara perjanjian-perjanjian dalam Alkitab; itu mencakup semua manusia, terma­suk binatang dan juga alam (Kej. 9:12). Juga, ini adalah sebuah pengaturan se­pihak: Tuhan tidak memaksakan syarat atau ketentuan apa pun kepada mereka yang kepada siapa perjanjian ini dibangun. Ia tidak akan lagi menghancurkan bumi dengan air, titik. Berbeda dengan perjanjian-perjanjian lain, perjanjian ini tidak bersyarat.
Kemudian Allah memeteraikan perjanjian-Nya dengan tanda yang terlihat, yaitu pelangi, yang menyimbolkan peijanjian yang menyatakan janji bahwa bumi tidak akan pernah lagi dihancurkan oleh air bah. Maka, setiap kali kita melihat pelangi, faktanya bahwa kita di sini melihatnya—-dalam caranya sen­diri—adalah sebuah pembelaan dari perjanjian yang lama ini. (Bagaimana pun, jika kita telah dimusnahkah dalam air bah yang universal, kita tidak akan berada di sini untuk melihat pelangi!). Di tengah dosa yang terus-menerus ser­ta kejahatan di bumi, terkadang kita diberkati dengan keindahan pelangi, tanda kemurahan Allah kepada seluruh dunia. Kita dapat menatap ke atas kepada pe­langi dan memanjatkan harapan, bukan hanya keindahan di dalam dan di luar pelangi itu, tetapi juga karena kita tahu bahwa itu adalah pekabaran dari Allah, satu pekabaran kasih-Nya kepada planet kita yang malang.

Pikirkanlah kemegahan dan keindahan pelangi. Khususnya dalam te­rang Alkitab yang mengatakan kepada kita mengenai pelangi, dalam cara apakah pelangi membawa kita kepada Allah, kepada hal-hal yang luar biasa, kepada sesuatu yang lebih besar daripada apa yang dunia ini ta­warkan?


Senin 7 Desember
Perjanjian dengan Abraham
Baca Kej. 12:1-3; 15:1-5; 17:1-14. Apakah yang ayat-ayat ini katakan mengenai rcncana yang Allah akan lakukan melalui perjanjian yang Ia buat dengan Abraham?
Kej. 12:1-3; 15:1-5; 17:1-14
12:1. Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."

15:1. Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar."

15:2. Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu."
15:3 Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku."
15:4 Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu."
15:5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu."

17:1. Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.
17:2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak."
17:3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya:
17:4. "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
17:5 Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
17:6 Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.
17:7. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.
17:8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."
17:9 Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
17:11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.
17:12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
17:13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
17:14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."


Perjanjian karunia Abraham adalah dasar dari perjalanan sejarah keselamat­an. Itulah sebabnya Paulus menggunakannya untuk menolong menjelaskan rencana keselamatan yang telah digenapi dalam diri Yesus.

Baca Galatia 3:6-9,15-18. Bagaimanakah Paulus menghubungkan per­janjian yang dilakukan dengan Abraham kepada Yesus dan kepada kese­lamatan oleh iman?
Galatia 3:6-9,15-18
3:6. Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
3:7 Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham.
3:8 Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati."
3:9 Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.

3:15 Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorangpun.
3:16 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.
3:17 Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya.
3:18 Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham.

Melalui keturunan Abraham- merujuk bukan hanya kepada keturunannya yang banyak, tetapi secara khusus kepada satu orang, yaitu Yesus (lihat Gal. 3:16), Allah akan memberkati seluruh dunia. Semua yang termasuk keturun­an Abraham, yang terjadi oleh iman di dalam Kristus (Gal. 3:29), akan tahu bahwa Allah Abraham akan menjadi Allah mereka juga. Bahkan di zaman itu, "Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepa­danya sebagai kebenaran" (Gal. 3:6). Abraham tidak diselamatkan oleh perbu­atan tidak terkecuali pencuri di atas kayu salib; selalu dan hanya karunia Allah yang menyelamatkan yang membawa keselamatan. Abraham memenuhi per­janjian itu, bukan karena ia sempurna, di mana ia tidak sempurna, tetapi karena ia menurut, yang menyatakan iman yang berpegang kepada janji keselamatan. Perbuatannya tidak membenarkan dia; gantinya, perbuatan-perbuatannya me­nunjukkan bahwa ia sudah dibenarkan. Itulah esensi perjanjian dan bagaimana itu tergambar dalam kehidupan beriman (lihat Roma 4:1 -3).
Tinggallah dalam kebenaran bahwa harapan keselamatan Anda hanya datang dari kebenaran Yesus yang dikreditkan kepada Anda. Harapan dan kebahagiaan besar apakah yang dapat Anda ambil dari janji indah yang dibuat untuk Anda ini?

Selasa, 8 Desember
Perjanjian di Sinai
Bagaimanakah perjanjian dibuat antara Israel dan Allah di Gunung Sinai? (Kel. 24).
Keluaran 24
24:1. Berfirmanlah Ia kepada Musa: "Naiklah menghadap TUHAN, engkau dan Harun, Nadab dan Abihu dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel dan sujudlah kamu menyembah dari jauh.
24:2 Hanya Musa sendirilah yang mendekat kepada TUHAN, tetapi mereka itu tidak boleh mendekat, dan bangsa itu tidak boleh naik bersama-sama dengan dia."
24:3 Lalu datanglah Musa dan memberitahukan kepada bangsa itu segala firman TUHAN dan segala peraturan itu, maka seluruh bangsa itu menjawab serentak: "Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan."
24:4 Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu. Keesokan harinya pagi-pagi didirikannyalah mezbah di kaki gunung itu, dengan dua belas tugu sesuai dengan kedua belas suku Israel.
24:5 Kemudian disuruhnyalah orang-orang muda dari bangsa Israel, maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan menyembelih lembu-lembu jantan sebagai korban keselamatan kepada TUHAN.
24:6 Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu.
24:7 Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: "Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan."
24:8 Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: "Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini."

24:9. Dan naiklah Musa dengan Harun, Nadab dan Abihu dan tujuh puluh orang dari para tua-tua Israel.
24:10 Lalu mereka melihat Allah Israel; kaki-Nya berjejak pada sesuatu yang buatannya seperti lantai dari batu nilam dan yang terangnya seperti langit yang cerah.
24:11 Tetapi kepada pemuka-pemuka orang Israel itu tidaklah diulurkan-Nya tangan-Nya; mereka memandang Allah, lalu makan dan minum.

24:12. TUHAN berfirman kepada Musa: "Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung, dan tinggallah di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu, yakni hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka."
24:13 Lalu bangunlah Musa dengan Yosua, abdinya, maka naiklah Musa ke atas gunung Allah itu.
24:14 Tetapi kepada para tua-tua itu ia berkata: "Tinggallah di sini menunggu kami, sampai kami kembali lagi kepadamu; bukankah Harun dan Hur ada bersama-sama dengan kamu, siapa yang ada perkaranya datanglah kepada mereka."
24:15 Maka Musa mendaki gunung dan awan itu menutupinya.
24:16 Kemuliaan TUHAN diam di atas gunung Sinai, dan awan itu menutupinya enam hari lamanya; pada hari ketujuh dipanggil-Nyalah Musa dari tengah-tengah awan itu.
24:17 Tampaknya kemuliaan TUHAN sebagai api yang menghanguskan di puncak gunung itu pada pemandangan orang Israel.
24:18 Masuklah Musa ke tengah-tengah awan itu dengan mendaki gunung itu. Lalu tinggallah ia di atas gunung itu empat puluh hari dan empat puluh malam lamanya.


Musa dan beberapa pemimpin naik ke atas Gunung Sinai. Para pemimpin ini termasuk Harun dan dua anaknya, yang mewakili imam-imam; dan 70 tua-tua, para pemimpin, dan para hakim, yang mewakili bangsa itu. Mereka yang menemani Musa harus berhenti di kejauhan, namun Musa diizinkan untuk naik ke tempat di mana Allah menampakkan diri-Nya.
Kemudian Musa datang dan meneguhkan peijanjian dengan seluruh bangsa. Ia mengumumkan apa yang Allah telah sampaikan kepadanya, dan bangsa itu menyahut dengan perkataan-perkataan berikut: "Segala firman yang telah diu­capkan TUHAN itu, akan kami lakukan" (lihat Kel. 24:3.)
Tentunya, sebagaimana sejarah suci menunjukkan dan sebagaimana peng­alaman kita sering membuktikan, mudah mengaku menjadi penurut; sedikit berbeda halnya dengan menjangkau keluar dengan iman dan berserah agar me­manfaatkan kuasa Ilahi yang dapat memberikan kita karunia untuk melakukan apa yang kita katakan kita akan lakukan.

Baca Ibrani 4:2. Bagaimanakah ayat ini menerangkan kegagalan Isra­el? Bagaimanakah kita belajar untuk menghindari kesalahan yang sama?
Ibrani 4:2
4:2 Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya.

Hanya melalui iman dan oleh memahami janji-janji yang datang dengan iman, kita dapat menjadi penurut, sebuah penurutan yang ditunjukkan oleh kepatuhan kepada hukum Allah. Penurutan terhadap hukum tidak lagi berten­tangan dengan perjanjian kekal di zaman Musa dengan di zaman kita. Cara pandang umum yang salah tentang hukum dan perjanjian-perjanjian, yang bi­asanya muncul dari membaca tulisan-tulisan Paulus, berasal dari kegagalan dalam mempertimbangkan konteks saat Paulus menulis, yakni berhubungan dengan musuh-musuhnya sesama Yahudi. Mereka ingin menjadikan hukum dan penurutan sebagai pusat iman; sebaliknya Paulus, ingin menjadikan Kris­tus dan kcbenaran-Nya sebagai komponen utama.

Berapa seringkah Anda berkata, "Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan"? Namun gagal dalam menurutinya? Bagaimanakah kenyataan yang tidak beruntung ini membuat janji karu­nia menjadi begitu berharga? Harapan apakah yang akan Anda peroleh tanpa itu?

Rabu, 9 Desember
Perjanjian yang Baru: Bagian 1

Baca Yeremia 31:31-34. Apakah arti ayat ini, baik dalam konteks uta­manya dan di zaman kita sekarang?
Yeremia 31:31-34
31:31 Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,
31:32 bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN.
31:33 Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.
31:34 Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka."

Yeremia menyampaikan perkataan-perkataan ini di tengah krisis terhebat yang belum dihadapi bangsa itu: Serangan Babel yang akan datang, ketika bangsa itu terancam musnah kecuali kemusnahan tertentu. Tetapi, kembali di sini, seperti di tempat-tempat lain, Tuhan menawarkan mereka harapan, janji bahwa ini tidak akan menjadi akhir, dan mereka akan mendapat kesempatan lain untuk berkembang di hadapan Tuhan.
Jadi, janji pertama dari "perjanjian baru" di dalam Alkitab adalah dalam konteks kembalinya Israel dari penawanan Babel, dan berkat yang Allah akan berikan kepada mereka setelah kembali. Sebagaimana pelanggaran atas per­janjian yang dibuat di Sinai (Yer 31:32) membawa mereka kepada pengasing­an, jadi pembaruan perjanjian ini akan memelihara mereka, dan harapan me­reka bagi masa depan. Seperti perjanjian di Sinai, perjanjian yang baru akan menjadi penghubung, dan itu termasuk hukum yang sama, Sepuluh Hukum Allah, namun sekarang tertulis bukan hanya pada loh batu, tetapi di dalam hati mereka, tempat yang seharusnya semua ada bersama-sama.
"Hukum yang sama yang diukirkan di atas loh batu dituliskan oleh Roh Kudus di atas loh hati manusia. Gantinya kita berusaha meneguhkan kebenar­an kita sendiri, maka kita menerima kebenaran Kristus. Darah-Nya menebus dosa-dosa kita. Penurutan-Nya diterima bagi kita. Kemudian hati yang telah dibarui oleh Roh Kudus akan menghasilkan "buah-buah Roh itu." Melalui anugerah Kristus kita akan hidup dalam penurutan kepada hukum Allah yang ditulis dalam hati kita. Setelah memiliki Roh Kristus, kita akan hidup sama se­perti Dia."—EUen G. White, Alfa dan Omega, jld. 1, hlm. 442.

Di bawah perjanjian baru, dosa-dosa mereka akan diampuni, mere­ka akan mengenal Tuhan bagi diri mereka, dan mereka akan menurut hukum Allah melalui kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam mereka. Perjanjian lama dalam bayangan-bayangan dan dalam simbol-simbol, sedangkan perjanjian yang baru adalah dalam kenyataan, keselamatan selalu oleh iman, iman yang akan menyatakan "buah-buah Roh."

Kamis. 10 Desember
Perjanjian yang Baru: Bagian 2
Nubuatan Yercmia tentang perjanjian yang baru berisi aplikasi ganda: Per­tama, itu merujuk kepada kembalinya Israel kepada Allah dan Ia membawa mereka pulang ke rumah; kedua, itu merujuk kepada pelayanan Yesus sang Mesias, yang kematian-Nya mengesahkan perjanjian dan akan mengubah hu­bungan antara manusia dengan Allah. Dalam perjanjian barulah kita menemu­kan kepenuhan gambaran dari rencana keselamatan, yang sebelumnya hanya dinyatakan dalam bayangan dan simbol (Ibr. 10:1).
Baca Lukas 22:20 dan 1 Kor. 11:24-26. Bagaimanakah ayat-ayat ini berhubungan dengan nubuatan Yeremia?
Lukas 22:20
22:20 Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.

1 Kor. 11:24-26
11:24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!"
11:25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"
11:26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.

Roti adalah simbol tubuh Kristus yang dipccah-pccahkan, dilambangkan oleh domba Paskah yang dikorbankan pada zaman Perjanjian Lama. Anggur melambangkan darah Yesus yang tercurah di salib, dinyatakan dalam Perjanji­an Baru. Pelayanan Yesus tidak dimulai dengan Perjanjian Baru; itu termasuk Perjanjian Lama juga, dan dalam upacara perjamuan kudus kita dapat melihat hubungan yang menyatukan apa yang Yesus telah lakukan sepanjang sejarah keselamatan.
Kemudian, roti dan anggur menyediakan ringkasan pendek dari sejarah ke­selamatan. Meski hanya dalam simbol-simbol, namun tetap melalui simbol-simbol ini kita dapat mengerti pekeijaan Allah yang luar biasa untuk kita.
Paulus menggunakan upacara perjamuan untuk menunjukkan bukan hanya kematian Kristus, tetapi juga kcdatangan-Nya, tanpa kcdatangan-Nya, kema­tian-Nya tidak berarti apa-apa. Bagaimanapun, apa untungnya kedatangan Kristus yang pertama tanpa yang kedua, saat kita dibangkitkan dari kubur (1 Tes. 4:16; 1 Kor. 15:12-18)? Yesus membangun mata rantai yang sama ketika Ia berkata, "Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku" (Mat. 26:29). Tidak diragukan, kedatangan Kristus pertama kali tidak dapat dipisah­kan dari kcdatangan-Nya yang kedua kali. Yang pertama menemui kepenuhan- nya yang utama hanya dalam kedatangan yang kedua.
Bila kemudian Anda mengambil bagian dalam upacara perjamuan, pi­kirkan tentang janji Kristus untuk tidak meminum cawan anggur hingga Ia melakukannya bersama-sama dengan kita di dalam kerajaan Allah. Apakah yang Anda rasakan? Apakah yang hal itu katakan tentang hu­bungan yang sangat dekat yang Kristus cari dengan kita?
130 Yeremia

Jumat, 11 Desember
Pendalaman: Sebagaimana kita lihat, Alkitab mengajarkan bahwa pela­ngi adalah tanda peijanjian Allah yang tidak akan lagi menghancurkan bumi dengan air. Tentunya, terima kasih untuk ilmu pengetahuan, kita tahu bahwa pelangi itu terjadi saat matahari dibiaskan dan dipantulkan oleh butiran air yang menyebarkan cahaya pada berbagai sudut. Cahaya kemudian menero­bos tetesan air dari satu sisi ke sisi tetesan air lainnya, menciptakan warna- warni yang kita lihat. Penyair John Keats khawatir bila ilmu pengetahuan akan "mengurai pelangi," tetapi meski kita dapat mengurai, mengukur, mempredik­si, dan mengurut segala sesuatu tentang pelangi hingga kepada setiap bagian partikel dasar dan setiap isi partikel terkecil, apa yang dapat dibuktikan selain bahwa kita memahaminya lebih baik tentang hukum-hukum alam yang Allah gunakan untuk menciptakan tanda-tanda dari peijanjian ini? Ilmu pengetahuan mungkin suatu saat sanggup menjelaskan segala sesuatu tentang bagaimana pelangi itu tercipta—bahkan hingga 25 digit angka desimal—tetapi tidak akan pernah sanggup menjelaskan mengapa mereka tercipta.
Tetapi, kita tahu mengapa. Karena Allah menciptakan dunia kita dengan cara tertentu hingga ketika matahari dan kabut bertemu satu sama lain, kabut memecah cahaya dengan cara membiaskan dan memantulkannya pada bebera­pa sudut yang menciptakan kumpulan gelombang-gelombang elektromagnetik yang mana ketika mencapai mata kita, pelangi itu akan membekas di pikiran kita. Dan Ia melakukannya (pertanyaan "mengapa" yang ilmu pengetahuan tidak dapat jelaskan) untuk mengingatkan kita akan peijanjian-Nya bahwa Ia tidak akan pernah lagi menghancurkan dunia dengan air.
Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:
1.              Apakah kebenaran yang sangat penting lainnya, yang dinyatakan oleh Alkitab, yang ilmu pengetahuan tidak akan pernah ajarkan kepada kita? Bahkan, dapatkah Anda berargumentasi bahwa hal paling penting yang kita tahu tidak akan pernah dinyatakan oleh ilmu pengetahuan? Jika ya, kebenaran-kebenaran apakah itu?
2.               Di dalam UKSS, diskusikanlah hubungan yang penting antara iman dan perbuatan dalam rencana keselamatan. Yakni, apakah peran iman, dan apakah peran perbuatan, dan bagaimanakah ke­duanya berhubungan dengan pengalaman Kekristenan?
3.               Apakah artinya mengatakan bahwa hukum itu diukir pada hati kita? Bagaimanakah pemikiran ini menunjukkan kekekalan hu­kum itu, bahkan dalam Perjanjian Baru?


PENUNTUN GURU
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Yeremia 31:31-34; Galatia 3:15-18
Anggota Kelas akan:
Mengetahui: Meninjau kembali pembaruan perjanjian yang terjadi di se­luruh Perjanjian Lama dan bagaimana perjanjian-perjanjian itu menunjuk kepada pembaruan perjanjian yang utama—Perjanjian Baru sebagaimana dinubuatkan pertama kali oleh Yeremia.
Merasakan: Mengalami kasih karunia menyelamatkan Allah yang tidak bersyarat yang didasarkan pada kebenaran melalui iman.
Melakukan: Memeluk keindahan hidup yang menurut di bawah janji pela­ngi abadi dari kasih karunia Allah yang menyelamatkan.
Garis Besar Pelajaran:
I.              Mengetahui: Perjanjian Abadi
A.              Bagaimanakah pcijanjian-perjanjian dengan Nuh, Abraham dan bangsa Israel di Sinai mempersiapkan jalan kepada keselamatan?
B.               Apakah yang "baru" tentang Perjanjian Baru yang Yeremia nubu- atkan? Mengapakah itu penting?
II.          Merasakan: Diselamatkan oleh Kasih Karunia
A.              Bagaimanakah kita bisa menangani ketegangan yang teijadi anta­ra hukum dan kasih karunia? Bagaimanakah Anda menghadapi hal ini dalam hidup Anda sendiri?
B.               Apakah yang penting dari pekabaran kebenaran oleh iman bagi hi­dup Anda? Dengan cara apakah Anda melihat pekabaran ini di­khotbahkan di gereja Anda?
III.    Melakukan: Kehidupan di Bawah Pelangi Allah
A.              Sebagai anggota Gereja Masehi Advcnt Hari Ketujuh kita sering dituduh sebagai legalis mengikuti hukum Perjanjian Lama. Apa­kah dampak yang hukum miliki dalam perjalanan Kckristcnan An­da setiap hari?
B.               Apakah artinya, dalam istilah praktis, memiliki hukum Allah ter­tulis di loh hati kita?
Rangkuman: Nubuatan Yeremia tentang Perjanjian Baru adalah penegasan kembali akan perjanjian Allah yang kekal, yang menemukan pernyataan uta­manya dalam kematian Kristus di kayu salib. Perjanjian Allah dalam berbagai tahapannya selalu menawarkan keselamatan melalui kebenaran oleh iman da­lam kematian Kristus.

Siklus Pelajaran
Langkah 1 — Memotivasi Fokus Alkitab: 1 Korintus 11:24-26
Kunci Utama untuk Pertumbuhan: Kita membutuhkan kesempatan-ke­sempatan untuk memperbarui peijanjian yang kita buat dengan Kristus ketika kita awalnya disatukan kepada tubuh Kristus, gereja, melalui baptisan. Per­jamuan Kudus menawarkan kesempatan yang luar biasa untuk memperbarui peijanjian oleh mengingat bagaimana kehidupan dan kematian Kristus telah membuat keselamatan mungkin bagi kita.
Untuk Guru: Konsep pembaruan perjanjian, seperti yang ditunjukkan oleh berbagai peijanjian di Perjanjian Lama, bukanlah sesuatu yang aneh sebagai­mana yang sering digambarkan. Kita melakukannya dalam setiap perjanjian jasa. Perjanjian Allah adalah seperti sebuah rumah yang Ia telah sewakan ke­pada umat-Nya, memberikan kepada mereka surat peijanjian kontrak yang menetapkan syarat-syarat untuk penempatan. Namun, si penyewa, umat Allah Perjanjian Lama—Israel, mengabaikan kontrak dan mulai menghancurkan ru­mah tersebut.
Selama berabad-abad, Allah mengirimkan nabi-nabi-Nya, dan pada berba­gai peristiwa, Ia memperbarui kontrak, bukan karena kontrak itu tidak sem­purna tetapi karena para penghuni lidak mematuhinya dan bahkan mencoba merubahnya. Akhirnya, Allah harus membuat kontrak baru, Perjanjian Baru, yang masih didasarkan pada kondisi yang sama, tetapi sekarang disahkan oleh darah Kristus; dan dengan demikian, itu adalah manifestasi terlengkap dari perjanjian kekal. Apa yang fase perjanjian dari Perjanjian Lama harapkan, per­janjian dari Perjanjian baru selesaikan dalam Kristus. Ini hanya sebuah analogi (dengan beberapa keterbatasan), tetapi itu dapat menolong untuk menggam­barkan ke anggota UKSS ide dari perjanjian kekal dalam fase-fasenya.
Aktivitas Pembuka: Selama liburan beberapa waktu yang lalu, sepasang suami istri mengunjungi gereja, terlibat dalam Perjamuan Kudus. Untuk upa­cara basuh kaki, gereja ini tidak menyediakan ruangan terpisah di mana yang berpasangan dapat mencuci kaki satu sama lain. Jadi, pasangan suami istri ini diwajibkan untuk bergabung dengan kelompok pria atau wanita dan mencari pasangan untuk cuci kaki.
Betapa suatu pengalaman yang menyegarkan! Sang suami menyadari bah­wa ia telah begitu menjadi terbiasa untuk mencuci kaki istrinya pada saat Per­jamuan Kudus di mana ia berada dalam bahaya merampok dirinya sendiri dari berkat untuk menjangkau saudara yang lain (atau saudari yang lain untuk da­lam kasus sang istri) dengan siapa ia mungkin memiliki beberapa perbedaan yang harus diselesaikan atau hanya untuk kesenangan semata melayani teman atau orang asing melalui upacara kerendahan hati.
Sayangnya, lebih sering daripada tidaknya, gereja-gereja di beberapa tempat terasa kosong pada Sabat Perjamuan Kudus dibandingkan Sabat-sabat yang lain. Beberapa gereja bahkan membahas pilihan untuk meninggalkan upacara basuh kaki sama sekali atau mempertimbangkan penghematan bagian lainnya dari pelayanan ini, kehilangan kesempatan untuk pembaruan perjanjian.
Hal penting apakah yang dimainkan Perjamuan Kudus dalam gereja Anda dan pengalaman pribadi kekristenan Anda?
Langkah 2 — Menyelidiki
Untuk Guru: Peijanjian adalah satu topik teologis yang penting, dan Per­janjian Baru Yeremia menimbulkan pertanyaan yang jelas: bagaimana dengan Perjanjian yang Lama? Banyak gereja mendasarkan pemahaman mereka akan perjanjian pada dikotomi (pembagian akan dua hal) antara Perjanjian Lama dan Peijanjian Baru, yang mewujudkan kepada keadaan yang tidak berkesi­nambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sering kali kita diha­dapkan dengan pernyataan-pernyataan seperti berikut ini: "Di Perjanjian Lama mereka hidup di bawah hukum, namun sekarang kita berada di bawah kasih karunia, dan di Perjanjian baru hukum telah dipakukan di kayu salib dan tidak mengikat lagi." Satu tujuan dari pelajaran ini adalah untuk menunjukkan ke­sinambungan antara Perjanjian Lama dan Peijanjian Baru (yang sebenarnya berarti "Perjanjian").
Komentar Alkitab
Apa saja kebingungan mengenai peijanjian (peijanjian-peijanjian) disele­saikan melalui pernyataan di Surat Paulus kepada orang-orang Ibrani: "Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah peijanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita" (Ibr. 13:20; bandingkan juga Kej. 17:7; Im. 24:8, dll. untuk per­janjian kekal Perjanjian Lama). I lal ini penting bagaimana fase-fase yang ber­beda dari perjanjian kekal ini bergerak ke arah dan menunjuk kepada Kristus.
I.       Perjanjian Abraham
(Pelajari Kembali Bersama UKSS, Kejadian 15:1-6 dan Galatia 3:6-9.)
Menyusul perjanjian universal Allah dengan manusia setelah air bah yang beijanji bahwa bumi tidak akan pernah lagi dihancurkan dengan air (banding­kan Kej. 9:7-17; perhatikan bahwa perjanjian ini disahkan hanya setelah Nuh diselamatkan), peijanjian Abraham lebih jelas dalam menyusun syarat-syarat perjanjian. Dan tidak mengherankan, itu sebanyak kasih karunia dan pembe­naran oleh iman dalam Perjanjian Baru: "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran" (Kej. 15:6). Penegasan ini diikuti oleh ritual perjanjian (Kej. 15:7-21), yang mana (kembali) Allah mengambil inisiatif.
Namun, adalah perlu untuk menjadikan jelas bahwa iman Abraham bukan­lah prasyarat untuk kebenaran sebaliknya penerimaan akan kebenaran. Bahasa Ibrani membuatnya jelas dalam Kejadian 15:6; yang telah diterjemahkan se-bagai "percaya" adalah dalam bentuk Hiphil dari kata kerja amn di mana kata modern "Amen" berasal. Kita juga bisa menerjemahkan ayat ini dengan: "Dan Abraham menyatakan 'Amin' pada Yahweh, dan itu diperhitungkan kepada­nya sebagai kebenaran." Abraham menerima janji Allah sebagai yang benar, dan semua yang ia bisa ucapkan sebagai manusia adalah Amen—jadilah se­perti itu!

Pertimbangkanlah Hal Ini: Iman adalah berkata Amen kepada janji Allah. Mengapa tidak ada yang lain yang perlu ditambahkan kepada Amen yang se­derhana ini agar diselamatkan?

II. Perjanjian di Gunung Sinai

(Pelajari Kembali Bersama UKSS, Keluaran 24:1-18 dan Kejadian 12:1-3.)

                Pembaruan perjanjian yang menyertai diberikannya Sepuluh Hukum Allah
di Gunung Sinai adalah satu peristiwa yang penting, khususnya dalam urutan­nya setelah Keluaran. Kembali, pekabarannya jelas: Hukum adalah bagi me­reka yang telah diselamatkan. Namun, tanggapan Israel dan peristiwa setelah Keluaran 24:7 sesuatu yang serius: "Segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan" (Kel. 24:7).
Beberapa waktu kemudian, kepercayaan kepada diri sendiri ini tergelincir oleh episode anak lembu emas di Kejadian 32. Pembenaran oleh iman diban­dingkan dengan pembenaran oleh perbuatan, dan itu kembali ke janji-janji per­janjian awal dibuat kepada Abraham dalam Kejadian 12:2 "Aku akan... mem­buat namamu masyhur." Hal ini berbeda dengan pasal sebelumnya, Kejadian 11, yang menjelaskan Menara Babel, contoh dari perbuatan (bandingkan Kej. 11:4) "marilah kita cari nama." Perjanjian Allah didasarkan pada kasih karu­nia melalui pembenaran oleh iman dan bukan oleh perbuatan, dan Peijanjian Lama tahu betul bagaimana membedakan antara keduanya.
Pertimbangkanlah Hal Ini: Apakah perbedaan antara pembenaran oleh iman dengan pembenaran oleh perbuatan?

III. Perjanjian Baru
(Pelajari Kembali Bersama UKSS, Yeremia 31:31-34.) Perjanjian Baru Yeremia dinubuatkan pada saat yang dingin dan gelap ber­beda dengan apa yang Perjanjian Baru ini ramalkan. Israel di sepanjang se­jarahnya telah, lagi dan lagi, melanggar perintah dari peijanjian kekal Allah yang Ia telah sampaikan dengan jelas awal mula manusia (bandingkan Kej. 3:15). Sudah waktunya untuk pembaruan peijanjian yang akan melampaui se­mua yang lama: Peijanjian Baru. Hal itu baru karena itu menunjuk kepada pemenuhan akhir dari ketentuan perjanjian oleh Yesus Kristus atas nama kita. Maka, itu menciptakan perbedaan dengan Perjanjian Lama yang Yeremia hu- V bungkan dengan Gunung Sinai. Itu menawarkan jalan yang berbeda kepada keselamatan karena cara lama telah diselewengkan oleh ketidaksetiaan manu­sia (Yer. 31:32).
Perhatikan bahwa khadash, kata Ibrani untuk "baru," bisa juga diterjemahkan "diperbarui" dan digunakan dengan arti itu di bagian yang lain dari Per­janjian Lama (contohnya, Rat. 3:23; bandingkan Mzm. 103:5 di mana kata ini digunakan sebagai kata kerja). Rincian penting dari Perjanjian Baru ini adalah penyatuan hukum di dalam hati dan pikiran (Yer. 31:33). Namun meskipun ini bukan perintah baru tetapi undangan yang diperbarui untuk memiliki hubung­an pribadi dan keselamatan dengan Allah sebagai telah dinyatakan dalam Lima Kitab Taurat (bandingkan Ul. 6:4-6).
Pertimbangkanlah Hal Ini: Dalam hal praktis, apakah artinya memiliki hukum Allah tertulis di hati?

Langkah 3 — Mempraktikkan
Untuk Guru: Perjanjian kelihatannya menjadi masalah yang sangat teolo­gis dan abstrak yang para teolog bisa berdebat selama berjam-jam tanpa ada makna praktis bagi kehidupan kita. Namun, teologi tidak pernah sebagai usaha teoritis tetapi selalu perlu diaplikasikan dalam hidup anak-anak Allah. Perjan­jian sesungguhnya adalah dasar dari hubungan antara Allah dan manusia.
Pertanyaan-pertanyaan:
  • Hukum dan kasih karunia sering berkembang melawan satu sama lain, dan, sebagai orang Advent, kita menemukan diri kita sendiri terkadang pada sisi hukum dari konflik tersebut. Bagaimanakah kita bisa mengkomunikasikan pentingnya hukum tanpa menjadi legalistik?
  • Sejak awal, semua perjanjian selalu dibangun di atas kasih karunia. Di atas apakah perjanjian Anda dengan Allah di bangun?
Langkah 4 — Menciptakan
Untuk Guru: Perjamuan Kudus adalah kesempatan yang besar untuk mem­perbarui perjanjian yang kita telah buat dengan Allah. Pastikan bahwa tidak ada bagian dari upacara yang penting ini diabaikan di dalam gereja Anda.
Aktivitas:
  • Rayakan pembaruan perjanjian dalam bentuk pelayanan perjamuan suci yang dirancang khusus untuk UKSS Anda. Ini mungkin bisa dilakukan pada hari Jumat malam dan harus memberikan waktu yang cukup untuk basuh kaki dan kesaksian.
  • Bersiap untuk perjamuan kudus tersebut sepanjang minggu dengan menyele­saikan perbedaan dengan orang-orang dengan siapa kita memiliki ketegangan.



  • BERITA MISI 12 DESEMBER 


    PERLUAS PANDANGAN SAYA

    ZAMBIA
    MOSES




    Saya tidak pernah bermaksud menjadi orang Kristen. Saya bertemu Tuhan saat sementa­ra mendaftar di sekolah pemerintah berasrama. Sebenarnya, saya ber­temu dengan seorang gadis yang saya ingin untuk berkencan. Saya mendapatkan keberanian pergi mengajaknya, lalu saya ke ruangan belajar merayu dia agar berkencan dengan saya. Saya tahu dia adalah seorang Kristen, tapi hal itu tidak mengganggu saya. Ketika saya me­masuki ruangan, saya menemukan dia membaca pamflet. Saya duduk di sampingnya dan bertanya apa yang dia baca. Dia menawarkan saya salah satu pamflet, dan saya berpura-pura membacanya hanya untuk membuatnya terkesan. Keti­ka saya memintanya untuk kencan, dengan lembut dia menolak, tetapi meminta saya untuk membawa pamflet itu. Malam itu saya duduk dan membacanya. Itu adalah pela­jaran Suara Nubuat tentang neraka, dan saya khawatir. Saya hampir tidak tidur malam itu.

    Saya sering bermasalah karena sering melanggar peraturan seko­lah. Pada Sabtu pagi, sehari sete­lah saya meminta gadis ini untuk berkencan, saya pergi ke gedung administrasi untuk melihat apakah saya melanggar aturan apa pun pe­kan itu dan telah ditugaskan dalam pekerjaan di kampus.
    Sebuah Undangan
    Ketika saya sedang membaca sebuah daftar, seseorang datang di samping saya dan mengundang saya untuk datang ke kebaktian bersama dia di auditorium. Saya ti­dak tertarik pada agama, tapi untuk beberapa alasan, saya menerima undangan itu. Kami berjalan ke au­ditorium kampus. Sedikit saja yang saya tahu bahwa gadis yang saya minta berkencan hari sebelumnya adalah Advent.
    Saya punya dua dolar di saku sehingga saya berencana untuk menggunakan uang itu untuk mabuk-mabukan pada Sabtu ma­lam. Tapi ketika pundi-pundi per­sembahan dijalankan, saya terkejut sendiri saat memberikan 2 dolar ke dalamnya. Kemudian saya menya­dari bahwa tindakan ini menyela­matkan saya dari mabuk-mabukan di akhir pekan.
    Sementara saya tidak bisa me­nerima undangan untuk mengha­diri gereja, hanya karena gadis yang saya ingin berkencan sehingga saya hadir, tetapi saya sangat senang ketika saya melihat dia di sana. Dia ramah kepada saya dan membantu saya merasa diterima dalam ibadah gereja. Tapi dia tetap tidak mau per­gi berkencan dengan saya.
    Dari hari pertama saya mengha­diri gereja, saya memutuskan untuk berhenti merokok dan minum minuman keras. Terima kasih Tuhan, saya tidak pernah merokok atau minum minuman keras lagi. Ketika saya memisahkan diri dari teman- teman lama, mereka memberi saya kesulitan untuk minat pada agama baru saya. Mereka meminta saya pergi minum bersama mereka, dan melakukan segala yang mereka bisa untuk mendapatkan saya kembali. Tapi saya menolak. Saya memiliki teman-teman baru di gereja. Bebe­rapa bulan kemudian saya mem­berikan hidup saya kepada Kristus dan mengikuti Dia melalui baptisan. Saya berusia 17 tahun saat itu.
    Sebuah Realisasi Seadanya
    Setelah menyelesaikan SMA, saya bekerja sebagai penginjil lite­ratur selama tiga tahun. Suatu hari saya mengunjungi rumah sakit, dan di sana saya melihat seseo­rang yang tampak saya kenal. Saya hampir tidak mengenalinya, tapi dia adalah salah satu mantan teman minum saya, teman masa kecilku. Dia sedang sekarat menderita TB dan AIDS. Saya menatapnya kaget saat ia berbaring di sana tidak sa­darkan diri. Sudah sangat terlam­bat bagi saya untuk membagikan Kristus kepada dia, tapi saya tidak bisa hilang kesadaran bahwa jika saya menolak panggilan Tuhan, bisa saja saya terbaring di sana. Mantan teman saya itu meninggal bebera­pa hari kemudian. Pengalaman ini memperdalam keyakinan saya bah­wa saya harus menjawab panggilan Allah kapan pun dan di mana pun panggilan itu datang. Untuk me­nundanya bisa berarti kematian.
    Saya berencana untuk menja­di penginjil literatur selama sisa hidup saya. Setelah semuanya, saya dipengaruhi oleh halaman cetak untuk menerima Kristus. Tapi kantor konferens setempat menelepon saya untuk menjadi pendeta untuk tiga gereja. Saya tidak memiliki pe­latihan sebagai pendeta, dan tidak pernah berpikir untuk melakukan pekerjaan semacam ini. Saya ber­juang untuk memutuskan apakah akan menerima telepon ini, karena itu tidak dalam tujuan sebagaimana saya pikirTuhan telah memimpin saya. Namun demikian, saya akhir­nya menerima panggilan itu.
    Setelah saya dalam pelayanan selama beberapa tahun, konferens mensponsori saya untuk belajar di Solusi University di Zimbabwe. Selama liburan sekolah saya meng­adakan KKR di mana pun seseorang meminta saya untuk pergi. Saya mau Firman Tuhan tersebar, dan banyak lagi undangan datang. Saya menemukan bahwa ini adalah sesu­atu yang saya suka lakukan.
    Jangan Batasi Tuhan
    Selama penginjilan sekolah lapangan pembicara menantang kami untuk memperluas visi kami tentang bagaimana Allah dapat memakai kami. "Jangan membatasi diri," katanya, "dan jangan memba­tasi Allah."Kata-kata pembicara me­nantang saya. Tapi bagaimana saya bisa memperluas visi saya tentang apa yang Allah harapkan dari saya? Dia sudah melakukan jauh lebih ba­nyak daripada yang mungkin saya pernah pikirkan!
    Beberapa bulan kemudian saya menerima panggilan untuk meng­adakan KKR di Afrika Selatan. Saya melihat kalender dan menyadari bahwa tanggal yang mereka beri­kan adalah tanggal ujian akhir saya. Karena doa saya kepada Tuhan un­tuk memperluas wilayah saya, saya tidak memberitahu orang-orang di Afrika Selatan dilema saya, tapi saya berpuasa dan berdoa bahwa Allah akan memungkinkan bagi saya un­tuk pergi. Saya percaya Tuhan akan membuka jalan. Saya tahu bahwa tanggal untuk KKR tidak berubah, dan saya tahu saya tidak bisa meng­ubah jadwal ujian saya. Tuhan mulai bekerja atas nama saya, akhirnya saya tahu bahwa semua ujian telah pindah seminggu!
    KKR itu diberkati. Sembilan belas orang memberikan hidup mereka kepada Allah. Tentunya Allah telah meningkatkan wilayah saya, memperbesar visi saya, dan membuat orang berdosa yang tidak berharga menjadi instrumen bagi kuasa Allah. Saya menyelesaikan kuliah saya di Solusi dan sekarang melayani sebagai pendeta di Zam­bia.

     







No comments:

Post a Comment