Pelajaran 13 Triwulan 1 2015, Penuntun Guru dan Berita Misi

Perempuan dan Anggur
 
SABAT PETANG
 
UNTUK PELAJARAN PEKAN INI, BACALAH: AMS. 31; AYB. 29:15; AMS. 8; 1 KOR. 1:21; WHY. 14:13.
 
AYAT HAFALAN: ”Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja. Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras” (Amsal 31:3, 4).
 
Kitab Amsal mulai dengan pengajaran-pengajaran dari seorang ayah (Ams. 1:1, 8; 4:1) dan berakhir dengan pengajaran-pengajaran dari seorang ibu (Ams. 31:1). Nama Lemuel mungkin menyinggung kepada Salomo; jika demikian, maka ibu Lemuel adalah ibu Salomo, dan ia mengamarkan anaknya terhadap dua ancaman paling serius bagi sang raja: anggur dan wanita.
 
Hubungan anggur dan hikmat adalah disengaja. Untuk menjadi efisien sebagai penguasa, sang raja harus berhati-hati terhadap pengaruh-pengaruh yang ia hadapi, dan kedua faktor ini bisa sangat berkuasa. Meskipun wanita yang tepat dapat bermanfaat, alkohol hanyalah masalah.
 
Pendahuluan sang ayah berkaitan dengan pemahaman rohani hikmat. Sekarang kesimpulan sang ibu berkaitan dengan penerapan hikmat dalam kehidupan nyata. Untuk prinsip-prinsip rohani yang diajarkan sang ayah tidak akan berarti apa-apa jika nasihat praktis yang ditawarkan sang ibu tidak diikuti.
 
*Pelajarilah pelajaran pekan ini sebagai persiapan untuk Sabat, 28 Maret.
 
 
Sebuah Salam Hormat "Untuk Kehidupan? -Minggu, 22 Maret
 
Dalam banyak budaya, meminum alkohol dikaitkan dengan kehidupan. Orang-orang mengangkat gelas dan berharap satu dengan yang lain umur panjang, meskipun ironis bahwa setiap gelas mengupayakan kehancuran bagi kehidupan. Botol yang didisain dengan bagus, lagu-lagu puitis dan lucu pengiring minuman, iklan yang pintar; dan bahkan beberapa penemuan-penemuan “ilmiah,” semuanya membuat nyaman para peminum dalam pemikiran mereka bahwa alkohol adalah baik bagi mereka. Amsal telah mengamarkan kita terhadap penipuan yang mematikan ini (Ams. 23:30-35). Sekarang tema itu muncul kembali, menunjukkan kepada kita kerusakan lebih banyak lagi yang minuman dapat akibatkan.
 
Bacalah Amsal 31:4, 5, 8, 9. Secara bersama, apakah yang ayat-ayat ini sampaikan, dan bagaimana pekabarannya berlaku kepada setiap pengikut Tuhan, bukan hanya sang raja?
Amsal 31:4, 5, 8, 9
(4) Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras,
 
(5) jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas.
 
(8) Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana.
 
(9) Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.
 
Dalam bahasa yang sama, Ayub menggambarkan dirinya sendiri sebagai “mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayb. 29:15). Demikian juga raja atau mereka yang kaya harus membantu mendukung orang miskin dan yang membutuhkan--mereka yang “terdiam” dalam hal itu adalah mereka tidak memiliki suara karena tidak seorang pun mendengarkan mereka.
 
Efek merusak dari anggur bisa juga dilihat pada bagaimana itu dapat dengan mudah menyimpangkan pertimbangan seseorang. Sementara alkohol cukup buruk bagi orang biasa, namun bagi seorang raja atau seseorang yang berkuasa, alkohol dapat menciptakan situasi yang mengerikan. Raja yang minum tidak hanya “melupakan hukum” dan tidak mengetahui apa yang benar, tetapi ia kemudian mengeluarkan keputusan yang menyimpang: Yang bersalah dinyatakan tidak bersalah, dan yang tidak bersalah dinyatakan bersalah.
 
Apa yang dipertaruhkan di sini adalah kemampuan untuk membedakan antara, yang benar dan yang salah, baik dan jahat. Larangan minum anggur berkaitan dengan hikmat dasar, dengan demikian, harus berlaku kepada setiap manusia. Perlu dicatat bahwa kekhawatiran ini justru alasan yang tersirat dalam larangan khusus minum bagi imam: “Supaya kamu dapat membedakan yang kudus dengan yang tidak kudus” (Im. 10:9,10).
 
Siapakah yang belum melihat dampak yang menghancurkan dari alkohol dalam begitu banyak kehidupan? Bagaimanakah Anda bisa menolong orang lain, terutama orang muda, tetap jelas apa yang bisa membawa kerugian kepada mereka dan orang lain?
 
Bersulang "untuk Kematian"-Senin, 23 Maret
 
Bacalah Amsal 31 :6, 7. Bagaimanakah kita memahami ayat-ayat ini?
Amsal 31 :6, 7
(6) Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati.
 
(7) Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya.
 
Pembacaan cepat ayat-ayat ini memberikan kesan bahwa ibu Lemuel mangizinkan penggunaan anggur atau minuman alkohol lainnya bagi orang yang hampir mati (ayat 6) atau bagi orang yang menderita depresi (ay. 7). Bacaan ini, bagaimanapun juga, akan bertentangan bukan hanya dengan konteks yang ada -ibu Lemuel baru saja mengamarkan sang raja terhadap meminum anggur—tetapi juga konteks secara umum dari kitab Amsal, yang secara sistematis dan tegas melarang meminum anggur.
 
Selain itu, tidak masuk akal untuk menawarkan sesuatu kepada yang mau mati yang hanya akan membuat kesehatan dan kesejahteraan mereka menjadi semakin buruk. Dan memberikan alkohol kepada orang yang depresi adalah seperti memberikan garam kepada seseorang yang sudah mengalami dehidrasi. Jika, sebagaimana kita ketahui, Allah peduli tentang tubuh dan kesehatan kita, tidak masuk akal untuk melihat ayat-ayat ini, khususnya di dalam konteks, mendorong penggunaan alkohol.
 
Lebih penting lagi, sebuah analisis penggunaan ungkapan “yang sedang binasa” dalam kitab Amsal mengungkapkan bahwa ayat ini selalu dikaitkan dengan orang jahat (Ams. 10:28; 11:7, 10; 19:9; 21:28; 28:28). Melalui ungkapan “yang sedang binasa,” ibu Lemuel sesungguhnya menunjuk, dalam kaitannya, kepada orang jahat. Sebagaimana ungkapan “susah hati,” itu mengacu kepada orang-orang yang depresi (Ams. 31:6), yang seperti orang jahat menjadi tidak peka dan “melupakan” kemiskinan (Ams. 31:7).
 
“Setan telah mengumpulkan malaikat-malaikat yang telah jatuh untuk merencanakan beberapa cara untuk melakukan hal yang paling jahat bagi manusia. Usul demi usul telah dikemukakan hingga akhirnya Setan sendiri menyodorkan satu rencana. Dia akan mengambil buah anggur itu, juga gandum dan bahan-bahan lain yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai makanan, akan diubahnya menjadi racun, yang akan merusak tubuh, mental dan kuasa moril manusia dan dengan saraf yang demikian rupa sehingga Setan dapat mengendalikan manusia itu sepenuhnya. Oleh pengaruh minuman keras, manusia akan dikendalikan untuk melakukan segala macam kejahatan. Melalui selera makan yang diselewengkan itu dunia ini akan menjadi rusak. Dengan memimpin manusia meminum minuman keras, Setan akan membuat manusia itu makin lama makin rendah derajatnya.”--Ellen G. White, Pertarakan, hlm. 14.
 
Wanita Saleh - Selasa, 24 Maret
 
“Istri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata” (Ams. 31:10).
 
Siapakah “wanita saleh” pada Amsal 31:10 ini? Sejumlah petunjuk menunjukkan bahwa penulis memiliki dalam pikiran lebih daripada seorang wanita yang saleh atau istri yang ideal. Mengikuti jejak banyak ayat-ayat dari kitab tersebut (Ams. 1:2-33; 3:13-20; 4:5-9; Ams. 8), kita memiliki alasan yang baik untuk berpikir bahwa “wanita saleh” melambangkan hikmat. Penjelmaan hikmat sebagai seorang wanita dibenarkan bukan hanya karena kata Ibrani untuk “hikmat,” chokmah, adalah kata benda feminin, tetapi juga karena itu memungkinkan penulis Ibrani untuk menggambarkan semua jenis pelajaran nyata bagi kehidupan kita setiap hari. Hikmat tidak digambarkan sebagai suatu cita-cita yang agung dan tak terjangkau, tetapi sebagai seorang wanita yang sangat praktis dan mudah ditemui yang bisa menjadi pendamping hidup kita.
 
Pengajaran terakhir tentang hikmat diberikan melalui puisi akrostik yang indah: Setiap ayat mulai dengan huruf Ibrani mengikuti urutan abjad, sebagaimana di buku Ratapan dam di Mazmur.
 
Bandingkan ayat tentang hikmat di Amsal 8 dengan ayat kita tentang “wanita saleh.” Apakah ciri-ciri “wanita saleh” yang mengingatkan kita akan hikmat dalam kitab Amsal?
 
1. Ia sangat berharga dan penemuan yang berharga (Ams. 31:10; 8:35). 2. Ia lebih berharga daripada permata (Ams. 31:10; 8:10, 11, 18, 19). 3. Ia menyediakan makanan (Ams. 31 :14, 8:19). 4. Ia kuat (Ams. 31:17, 25; 8:14). 5. Ia berhikmat (Ams. 31:26; 8:1). 6. Ia dipuji (Ams. 31:28; 8:34).
 
Meskipun kita hidup dalam apa yang disebut era reformasi, dan meskipun kita telah memperoleh begitu banyak pengetahuan lebih daripada generasi sebelumnya, ada sedikit untuk menunjukkan bahwa generasi kita lebih berhikmat dari generasi sebelumnya. Memang, seperti Martin Luther King Jr. katakan, “Kita memiliki peluru kendali pria sesat.”
 
Bacalah 1 Korintus 1:21. Apakah yang ayat ini katakan kepada Anda, dan bagaimana ide ini bisa menolong Anda hidup dengan iman?
1 Korintus 1:21
(21) Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.
 
Ia Bekerja - Rabu, 25 Maret
 
Wanita saleh dalam Amsal 31 tidaklah malas; ia. bekerja keras dan sangat aktif. Puisi ini bersikukuh pada sifat ini (Ams. 31 :27) yang mencirikan orang berhikmat melawan orang bodoh (Ams. 6:6; 24:33, 34). Bidang kegiatannya meliputi banyak hal dan konkret. Menjadi rohani tidak berarti bahwa kita harus bermalas-malas, dengan berdalih bahwa kita prihatin dengan isu-isu agama yang sangat panting, sehingga tidak punya waktu untuk mengurus hal-hal “sepele.” (Lihat Luk. 16:10). Sang wanita “senang bekerja dengan tangannya” (Ams. 31:13). Sangat menarik bahwa orang yang sangat rohani ini tidak pernah digambarkan berdoa atau bermeditasi. Dia ditampilkan sebagai seorang wanita yang produktif dan efisien, seperti Mafia dalam buku Injil (Luk. 10:38-40).
 
Bacalah Amsal 31:12, 15, 18. Mengapakah wanita itu selalu bekerja?
Amsal 31:12, 15, 18
(12) Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.
(15) Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.
 
(18) Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam.
 
Sang wanita tidak pernah beristirahat. Ia bekerja “sepanjang umurnya” (ay. 12), bahkan pada malam hari (ay. 15,18). Keaktifan dan kewaspadaannya adalah efektif sepanjang waktu. Alasan untuk perhatiannya yang tetap adalah tanggung jawabnya. Dia harus berada di sana; jika tidak semuanya akan berantakan.
 
Bacalah Amsal 31:20,25. Apakah ruang lingkup sementara dari usaha-usahanya?
Amsal 31:20,25
(20) Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.
 
(25) Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.
 
Di sini kita tiba pada titik penting mengenai pekerjaan dan usaha kita bahwa itu akan diuji oleh waktu. Hanya masa depan yang akan menyaksikan kualitas perbuatan kita. Bekerja dengan hikmat berarti bekerja dengan masa depan dalam pikiran, bukan hanya untuk hadiah yang langsung.
 
Meskipun tidak terlalu berkaitan dengan hal yang sama, prinsip di ayat selanjutnya pada Wahyu sangat penting: “‘Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak/sekarang ini.’ ‘Sungguh,’ kata Roh, ‘supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka”’ (Why. 14:13).
 
Jika Anda memiliki seorang wanita yang istimewa dalam hidup Anda (siapa pun dia), apakah yang dapat Anda lakukan untuk menunjukkan penghargaan Anda untuknya dan untuk semua yang ia telah lakukan untuk Anda?
 
Ia Peduli - Kamis, 26 Maret
 
Bacalah Amsal 31:26-31. Apakah ciri-ciri penting lainnya yang terlihat pada wanita ini? Mengapakah hal-hal ini penting bagi kita semua, terlepas dari siapa kita?
Amsal 31:26-31
(26) Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.
 
(27) Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.
 
(28) Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:
 
(29) Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.
 
(30) Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.
 
(31) Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!
 
Sebagaimana telah kita lihat sepanjang kuartal ini, suatu penekanan ditempatkan pada kata-kata, pada apa yang kita ucapkan. Sang wanita dikenal karena hikmatnya dan kebaikan hatinya. Keduanya berkaitan. Bagaimana pun juga, tidak bisakah seseorang menunjukkan bahwa kebaikan adalah bentuk lain dari hikmat. terutama ketika kita memahami bahwa hikmat bukan hanya yang kita tahu tetapi yang kita ucapkan dan lakukan?
 
Perhatikan juga, kalimat “hukum kebaikan.” Artinya, kebaikan bukanlah sekadar atribut sekilas yang keluar dari mulut sang wanita sekarang dan kemudian. Itu adalah hukum, prinsip eksistensinya. Bagaimana kuatnya hal itu jika “hukum kebaikan” memandu semua yang keluar dari mulut kita.
 
Bacalah Amsal 31:30. Apakah pokok penting dinyatakan di sini yang begitu sering dilupakan?
Amsal 31:30
(30) Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.
 
Terlalu sering wanita-wanita dinilai hanya dari segi penampilan luar; itulah suatu penilaian yang dangkal dan sekadar rupa. Alkitab menjelaskan betapa “sia-sia,” betapa kosong sikap semacam itu pada akhirnya. Kecantikan sejati wanita ini ditemukan dalam tabiatnya dan bagaimana karakter itu dinyatakan di dalam hidup dan pekerjaannya. Kecantikan akan pasti berlalu; karakter dapat benahan selamanya. “Sebuah nama besar di antara manusia adalah_seperti huruf-huruf ditemukan di pasir, tetapi karakter tak bercela akan bertahan selama-lamanya.” Ellen G. White, Gods Amazing Grace, hlm. 81.
 
Dalam bidang kehidupan Anda-yang manakah anda perlu melihat karakter anda berkembang? Mendoakan hal itu baik juga, namun langkah-langkah positif yang nyata apakah yang Anda harus ambil untuk melihat pertumbuhan?
 
Pendalaman - Jumat, 27 Maret
 
Pendalaman: “Ketika memanjakan selera mereka untuk anggur dan sementara berada pada rangsangan yang menggairahkan, pertimbangan mereka diredupkan, dan mereka tidak bisa melihat perbedaan amaran yang suci dan biasa. Bertentangan dengan petunjuk Allah yang jelas, mereka Nadab dan Abihu menolak Dia oleh mempersembahkan api yang biasa bukan api suci. Allah menemui mereka dengan murka-Nya: api keluar dari hadapanNya dan menghancurkan mereka.”Ellen G. White, Testimoniaes to the church, jld.-3, hlm. 295.
 
“Biarlah anak-anak dan orang muda belajar dari Kitab Suci bagaimana Allah menghormati pekerjaan sehari-hari para pekerja... Biarlah mereka membaca.... Tentang wanita yang bijaksana dilukiskan dalam buku Amsal, yang mencari bulu domba dan rami dan senang bekerja dengan tangannya.:’ yang ‘menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.’ yang ‘ditanaminya kebun anggur,’ ‘dan menguatkan lengannya yang ‘memberikan tangannya kepada yang tertindas; mengulurkan tangannya kepada yang miskin," yang ‘mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.’ Amsal 31:13, 15, R.V; 31:16, 17, 20. 27." - Ellen G. White, Membina pendidikan Sejati, hlm. 202.
 
Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:
 
l. Mengapa pantangan sepenuhnya terhadap alkohol adalah satu-satunya pilihan yang tepat? Bagaimanapun juga, apakah kemungkinan yang baik dapat muncul dari penggunaan alkohol jenis apa saja? Di sisi yang lain, pikirkan tentang semua kerusakan yang sering disebabkan alkohol!.
 
2. Pikirkan lagi ide bahwa meskipun kita mempunyai lebih banyak pengetahuan, tidak serta-merta kita memiliki lebih banyak hikmat. Dengan cara apakah pengetahuan tanpa hikmat bisa lebih berbahaya daripada kurangnya pengetahuan tanpa hikmat? Apa sajakah contoh-contoh terkini yang bisa kita lihat betapa merusaknya pengetahuan tanpa hikmat?
 
3. Tinjau kembali karakteristik-karakteristik “wanita saleh.”Bagaimanakah prinsip-prinsip di balik yang terungkap dalam situasi yang khusus ini diterapkan kepada orang-orang percaya, apa pun jenis kelamin mereka atau status pernikahan, atau usia?
 
4. Kitab Amsal dipenuhi dengan hikmat praktis. Ini seharusnya menyalakan kepada kita bahwa agama kita, dengan semua teologinya dan dimensi-dimensi rohaninya, memiliki sisi yang sangat praktis. Bagaimanakah kita bisa memastikan bahwa kita tidak mengabai-kan aspek~aspek praktis iman sebagaimana kita berusaha untuk memenuhi dimensi-dimensi teologis dan rohani dari Allah.