Pelajaran 13 Sekolah Sabat Triwulan IV 2015, Penuntun Guru dan Berita Misi


*19-25 Desember

Pelajaran-Pelajaran dari Kitab Yeremia
Materi ini dalam bentuk ebook untuk Apple(Ibooks) dan Android (MoonReader) download di sini
SABAT PETANG
Untuk Pelajaran Pekan Ini, Bacalah: Yer. 2:13; 6:20; 7:1-10; Mat. 9:12; Ul. 6:5; Yer. 10:1-15; 23:1-8.
AYAT HAFALAN: "Sesungguhnya, waktunya akan datang, demiki­anlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri" (Yeremia 23:5).
Sekarang kita berada pada akhir pelajaran kita tentang kitab Yeremia. Itu telah menjadi sebuah petualangan; begitu banyak drama, emosi, dan energi yang dikeluarkan dalam hikayat nabi kita ini. Seperti nabi-nabi lainnya, Yeremia tidak menulis dalam kehampaan: pekabarannya adalah dari Tuhan dan untuk orang-orang di zaman dan waktu yang spesifik, serta di ba­wah keadaan yang spesifik juga.
Namun, meski keadaannya secara radikal berbeda dengan keadaan kita atau mereka dari banyak generasi lain yang membaca tulisan Yeremia, namun prin­sip-prinsip krusial yang tergambar di sana sama bagi umat Allah dalam semua generasi.
Seperti kesetiaan kepada Allah dan penurutan kepada hukum-hukumnya. Seperti agama yang benar, sebuah agama hati, sebagai lawan dari ritual-ritual yang kosong dan mati yang dapat menuntun orang dalam kepuasan palsu. Se­perti kerelaan orang untuk mendengar koreksi, bahkan ketika itu menghenti­kan apa yang mereka ingin dengar. Seperti kebangunan dan reformasi yang benar. Seperti percaya kepada Tuhan dan janji-janji-Nya gantinya percaya ke­pada manusia. Seperti....
Daftar ini terus berlanjut. Pekan ini, mari kila lihat beberapa dari banyak pelajaran yang dapat kita pelajari dari penyataan kasih Allah bagi umat-Nya, bahkan di tengah banyaknya gemuruh amaran bagi mereka tentang ke mana tindakan mereka akan membawa mereka.

Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat, 26 Desember.

Minggu 20 Desember
Tuhannya Yeremia
Umat Advent mengerti bahwa di pusat pertentangan yang besar terdapat isu yang sangat penting: Apakah karakter Allah? Seperti apakah Allah itu? Apa­kah Ia adalah penguasa sewenang-wenang yang coba digambarkan oleh Setan, atau apakah Ia adalah Bapa penyayang dan pengasih yang hanya mengingin­kan yang terbaik bagi kita? Pertanyaan-pertanyaan ini sungguh adalah perta­nyaan terpenting di seluruh jagad raya. Bagaimanapun, apakah jadinya kea­daan kita jika Allah tidak baik dan penyayang serta mengorbankan diri, tetapi semena-mena dan sadis? Lebih baik kita keluar jika tidak ada Allah, daripada memiliki Allah seperti itu.
Jadi, pertanyaan-pertanyaan itu adalah sangat penting. Untungnya, kita memiliki jawabannya, dan itu terlihat di Salib. "Tidak akan pernah dilupa­kan bahwa Ia yang berkuasa menciptakan dan menopang dunia-dunia yang tak terhitung banyaknya di seantero jagad raya ini, Allah yang Mahakasih, Pe­nguasa surga, Ia yang dipuja oleh kerub dan seraphim yang bersinar dengan sukacita—merendahkan diri-Nya untuk mengangkat manusia yang jatuh, yang menanggung kejahatan dan kehinaan dosa, dan wajah Bapa-Nya yang disem­bunyikan, hingga kutukan dunia yang hilang ini meremukkan hati-Nya, dan menyerahkan hidup-Nya mati di salib Golgota. Bahwa Pcncipta segala dunia, Penentu semua tujuan, harus mengesampingkan kemuliaan-Nya, dan meren­dahkan diri-Nya kepada manusia, akan selalu membangkitkan keheranan dan kekaguman alam semesta."- Ellcn G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 687.

Bagaimanakah sifat alamiah dan karakter Allah yang dinyatakan ayat-ayat kitab Yeremia berikut ini? Yakni, apakah yang ayat-ayat ini katakan kepada kita tentang Dia?
Yer 2:13
Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.

Yer. 5:22
Masakan kamu tidak takut kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN, kamu tidak gemetar terhadap Aku? Bukankah Aku yang membuat pantai pasir sebagai perbatasan bagi laut, sebagai perhinggaan tetap yang tidak dapat dilampauinya? Biarpun ia bergelora, ia tidak sanggup, biarpun gelombang-gelombangnya ribut, mereka tidak dapat melampauinya!

Yer. 11:22
11:22 Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam: "Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan;

Yer. 31:3
31:3 Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.

Yer. 3:7
3:7 Pikir-Ku: Sesudah melakukan semuanya ini, ia akan kembali kepada-Ku, tetapi ia tidak kembali. Hal itu telah dilihat oleh Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia.

Ini hanyalah beberapa dari banyak gambaran dan ekspresi yang digunakan dalam kitab ini yung menyalakan kepada kita sesuatu dari sifat alamiah dan ka­rakter All.ili kita. Dialah sumber hidup, Pcncipta yang sangat berkuasa, Allah hakim, Allah yang mengasihi kita dan memanggil berkali-kali untuk bertobat dari dosa-dosa kita dan berbalik dari jalan yang menuntun kepada kehancuran kita.

Apakah bukti yang Anda telah lihat dalam pengalaman Anda sendiri tentang karakter Allah yang pengasih?

Senin 21 Desember
Ritual-ritual dan Dosa
"Ada sebuah dokumen yang mencatat kesedihan Allah yang tidak ada akhir­nya dalam pergumulan terhadap agama yang terorganisasi, yaitu dikenal seba­gai Alkitab."—Tcrry Engleton, Reason, Faith, And Revolution: Reflections on the God debate, hlm. 8, Edisi Kindlc.
Tidak sepenuhnya benar, dan itu disebabkan karena agama Alkitab, agama yang Allah berikan kepada manusia, adalah selalu "agama yang terorganisasi." Di sisi lain, tidak diragukan bahwa dalam kitab Yeremia, Tuhan berusaha men­jauhkan manusia dari ritual-ritual yang dingin, mati, dan sangat terorganisasi, ritual-ritual yang mereka yakini menutupi dosa mereka.
Seperti dikatakan sebelumnya, namun ada baiknya diulangi, sebagian be­sar pergumulan Yeremia adalah dengan para pemimpin dan imam serta orang- orang yang percaya bahwa karena mereka adalah bangsa pilihan, anak-anak Abraham, umat perjanjian, mereka aman bersama Tuhan. Betapa sebuah pe­nipuan yang menyedihkan, sesuatu yang kita, juga keturunan Abraham (Gal. 3:29), perlu perhatikan.
Apakah pekabaran ayat-ayat dari kitab Yeremia berikut ini? Yang ter­penting, bagaimana kita mengaplikasikan prinsip-prinsip ini dalam per­jalanan kita bersama Tuhan? (Yer. 6:20; 7:1-10).
6:20 Apakah gunanya bagi-Ku kamu bawa kemenyan dari Syeba dan tebu yang baik dari negeri yang jauh? Aku tidak berkenan kepada korban-korban bakaranmu dan korban-korban sembelihanmu tidak menyenangkan hati-Ku.
7:1. Firman yang datang kepada Yeremia dari pada TUHAN, bunyinya:
7:2 "Berdirilah di pintu gerbang rumah TUHAN, serukanlah di sana firman ini dan katakanlah: Dengarlah firman TUHAN, hai sekalian orang Yehuda yang masuk melalui semua pintu gerbang ini untuk sujud menyembah kepada TUHAN!
7:3 Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini.
7:4 Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait TUHAN, bait TUHAN, bait TUHAN,
7:5 melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing,
7:6 tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain, yang menjadi kemalanganmu sendiri,
7:7 maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya.
7:8 Tetapi sesungguhnya, kamu percaya kepada perkataan dusta yang tidak memberi faedah.
7:9 Masakan kamu mencuri, membunuh, berzinah dan bersumpah palsu, membakar korban kepada Baal dan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal,
7:10 kemudian kamu datang berdiri di hadapan-Ku di rumah yang atasnya nama-Ku diserukan, sambil berkata: Kita selamat, supaya dapat pula melakukan segala perbuatan yang keji ini!

Bacalah Yeremia 7:9,10. Jika seseorang pernah menginginkan untuk mene­mukan situasi yang cocok dengan apa yang disebut "karunia murahan," istilah ini tentu berlaku di sini. Bangsa ini melakukan semua dosa-dosa ini dan kemu­dian kembali ke Bait Suci dan "menyembah" Allah yang benar dan meminta pengampunan atas dosa-dosa mereka Allah tidak dapat dihina. Kecuali bang­sa ini mengubah jalan mereka, khususnya bagaimana mereka memerlakukan yang lemah di antara mereka, mereka akan menghadapi penghakiman yang keras.
Betapa mereka berada di bawah penipuan hebat, yakni keyakinan bahwa agama mereka yang terorganisasi serta ritual-ritualnya cukup untuk menutupi dosa-dosa mereka agar mereka dapat terus berada dalam dosa-dosa itu.

Apakah perbedaan antara yang Yeremia amarkan di sini dengan yang Yesus katakan dalam Matius 9:12? Mengapakah penting untuk mengeta­hui perbedaannya?
 9:12 Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.


Selasa 22 Desember
Agama Hati
"Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggung­an jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah" (Roma 14:12).
Kebanyakan kitab Yeremia diarahkan kepada bangsa itu secara keseluruh­an. Berkali-kali ia berbicara tentang Israel dan Yehuda bersama-sama sebagai "pokok anggur" pilihan Allah (Yer. 2:21), atau "kekasih" Tuhan (Yer. 11:15, 12:7), "negeri" milik-Ku (Yer. 12:7-9), "kebun anggur-Ku" (Yer. 12:10) dan "kawanan domba-Nya" (Yer. 13:7). Tanpa keraguan, dalam kitab ini kita te­mukan sebuah suasana kerja sama yang alamiah dari panggilan Tuhan kepada bangsa ini.
Tentunya, itu sama dengan di Perjanjian Baru, di mana berkali-kali gereja dipahami dalam suasana kerja sama (lihat Efesus 1:22; 3:10; 5:27).
Namun keselamatan adalah perorangan, bukan bersama-sama. Kita tidak diselamatkan sebagai satu paket kesepakatan. Seperti halnya dengan gereja Perjanjian Baru, bangsa Yehuda terdiri dari individu-individu, dan di sinilah, dalam tingkat perorangan, isu yang krusial itu muncul. Ayat yang terkenal da­lam Ulangan 6:5, "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu," meski disampai­kan kepada bangsa secara keseluruhan, namun ditulis dalam bentuk orang ke­dua tunggal. Yaitu "kamu" dalam setiap kasus adalah tunggal; Allah berbicara kepada setiap orang secara pribadi. Pada akhirnya, kita semua, secara pribadi, harus memberi pertanggungjawaban secara pribadi kepada Allah. Kita mene­mukan hal yang sama juga dalam kitab Yeremia.

Apakah yang ayat-ayat berikut katakan mengenai pentingnya berjalan dengan Tuhan secara pribadi?

Yer. 17:7
17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Yer. 17:10
17:10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."

Yer. 29:13 
29:13 apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,

Yer. 9:23, 24
9:23. Beginilah firman TUHAN: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,
9:24 tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN."

Meskipun Perjanjian Lama dan Baru berbicara tentang suasana alamiah ke­bersamaan gereja Allah, namun iman yang sejati adalah tentang setiap orang, diri sendiri, membuat penyerahan setiap hati kepada Tuhan, pilihan pribadi untuk berjalan dalam iman dan penurutan.

Meski tidak ada keraguan bahwa kita secara pribadi bertanggung ja­wab untuk jiwa kita sendiri, bagaimanakah kita pastikan bahwa kita melakukan apa yang kita sanggup untuk mengangkat dan menguatkan orang lain? Siapakah yang Anda kenal, sekarang, yang dapat Anda sam­paikan kata-kata yang menguatkan?

Rabu 23 Desember
Berhala-berhala yang Redup
Apakah salah satu dosa terbesar yang bangsa itu lakukan yang harus dihadapi secara terus menerus oleh Yeremia? (Yer. 10:1-15).
10:1. Dengarlah firman yang disampaikan TUHAN kepadamu, hai kaum Israel!
10:2 Beginilah firman TUHAN: "Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya.
10:3 Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu?
10:4 Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang.
10:5 Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baikpun tidak dapat."
10:6 Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya TUHAN! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh keperkasaan.
10:7 Siapakah yang tidak takut kepada-Mu, ya Raja bangsa-bangsa? Sungguh, kepada-Mulah seharusnya sikap yang demikian; sebab di antara semua orang bijaksana dari bangsa-bangsa dan di antara raja-raja mereka tidak ada yang sama seperti Engkau!
10:8 Berhala itu semuanya bodoh dan dungu; petunjuk dewa itu sia-sia, karena ia hanya kayu belaka. --
10:9 Perak kepingan dibawa dari Tarsis, dan emas dari Ufas; berhala itu buatan tukang dan buatan tangan pandai emas. Pakaiannya dari kain ungu tua dan kain ungu muda, semuanya buatan orang-orang ahli. --
10:10 Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya.
10:11 Beginilah harus kamu katakan kepada mereka: "Para allah yang tidak menjadikan langit dan bumi akan lenyap dari bumi dan dari kolong langit ini."
10:12 Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya.
10:13 Apabila Ia memperdengarkan suara-Nya, menderulah bunyi air di langit, Ia menaikkan kabut awan dari ujung bumi, Ia membuat kilat serta dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari perbendaharaan-Nya.
10:14 Setiap manusia ternyata bodoh, tidak berpengetahuan, dan setiap pandai emas menjadi malu karena patung buatannya. Sebab patung tuangannya itu adalah tipu, tidak ada nyawa di dalamnya,
10:15 semuanya adalah kesia-siaan, pekerjaan yang menjadi buah ejekan, dan yang akan binasa pada waktu dihukum.


Yang menarik dalam ayat-ayat ini tidak hanya cara nabi dalam menunjuk­kan betapa berhala-berhala ini sia-sia dan percuma, serta tidak berarti, tetapi bagaimana ia membedakan mereka dari Allah yang hidup. Berhala-berhala ini tidak memiliki kuasa, percuma, kosong, dan palsu; betapa sangat berbeda de­ngan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi! Ia kekal selamanya, sementa­ra berhala-berhala ini akan lenyap selamanya. Jadi, siapakah yang harus kita sembah dan membaktikan padanya hidup kita: Apakah kepada yang lemah, palsu, sia-sia dan tidak memiliki kuasa, atau kepada Tuhan yang kuasa dan kcbcsaran-Nya sangat besar hingga Ia menciptakan dan menopang alam se­mesta? Tentu jawabannya adalah jelas.
Namun meski jawabannya jelas, kenyataannya adalah, kita berada dalam bahaya jatuh ke dalam kemurtadan juga. Meski hari ini kita mungkin tidak menyembah berhala yang sama seperti orang di zaman Yeremia lakukan, na­mun kehidupan modern kita penuh dengan dewa-dewa palsu. Berhala-berhala modem ini dapat berupa apa saja yang kita cintai lebih daripada Allah; apa pun yang kita "sembah" (dan menyembah tidak selalu berarti menyanyi dan ber­doa) menjadi ilah kita, dan kita bersalah karena menyembah berhala.

Apakah beberapa hal yang dapat menempatkan kita dalam bahaya menciptakan sesuatu menjadi berhala? Bagaimanakah dengan benda-benda seperti perlengkapan digital, uang, ketenaran, bahkan orang lain? Buatlah daftar benda yang berpotensi menjadi berhala, kemudian tanya­kan diri Anda: Yang pada akhirnya, keselamatan apakah yang mereka tawarkan?
Tentunya, secara intelektual kita mengetahui bahwa tidak satu pun dari ben­da itu yang layak disembah. Kita tahu bahwa pada akhirnya, tidak ada yang dunia tawarkan kepada kita, tidak ada dari berhala yang kita buat dapat memu­askan jiwa kita dan tentunya tidak menebus mereka. Kita tahu semua hal ini, namun, kecuali kita berhati-hati, kecuali kita menempatkan Yesus di hadapan kita dan apa yang Dia lakukan bagi kita, dan mengapa Dia melakukannya, kita dapat dengan mudah hanyut ke dalarr. bentuk penyembahan berhala modern yang dengan sabar ditentang oleh Yeremia.

Kamis 24 Desember
Umat yang Sisa
"Pada tahun-tahun terakhir kemurtadan Yehuda nasihat-nasihat para nabi nampaknya sedikit saja hasilnya; dan ketika tentara-tentara orang Kasdim da­tang untuk ketiga kalinya dan terakhir kali untuk mengepung Yerusalem, peng­harapan lenyap dari setiap hati. Yeremia meramalkan kebinasaan yang tuntas; dan adalah oleh sebab desakannya supaya menyerah sehingga pada akhirnya ia dijebloskan ke dalam penjara. Tetapi Allah tidak membiarkan kekecewaan tan­pa pengharapan orang-orang setia yang sisa, yang tetap berada di dalam kota itu. Sementara Yeremia terkurung di bawah pengawasan orang-orang yang mencela pekabaran-pekabarannya, kepadanya datang kenyataan-kenyataan segar mengenai kerelaan Surga untuk mengampuni dan menyelamatkan, yang merupakan suatu sumber penghiburan yang tidak gagal bagi gereja Allah sejak hari itu sampai sekarang."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 81.
Bahkan di tengah kemurtadan dan malapetaka yang umum terjadi, Allah se­lalu memiliki umat yang setia, hanya jumlahnya sedikit. Namun seperti keba­nyakan nabi, banyak penekanan dalam kitab Yeremia adalah kemurtadan dan ketidaksetiaan—karena dari situlah Allah ingin menyelamatkan bangsa itu— sepanjang sejarah rohani, Tuhan memiliki umat sisa yang setia. Ini tentunya, akan berlanjut hingga akhir zaman (lihat Why. 12:17).
Bagaimanakah konsep umat yang sisa tergambar dalam Yeremia 23:1-8? Bagaimanakah ini berlaku di zaman Perjanjian Baru? (Lihat juga Yer. 33:14-18.)

23:1. "Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!" --demikianlah firman TUHAN.
23:2 Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: "Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat, demikianlah firman TUHAN.
23:3 Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku menceraiberaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak.
23:4 Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekorpun, demikianlah firman TUHAN.
23:5 Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.
23:6 Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN--keadilan kita.
23:7 Sebab itu, demikianlah firman TUHAN, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!,
23:8 melainkan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri."

Yer. 33:14-18
33:14 "Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda.
33:15 Pada waktu itu dan pada masa itu Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri.
33:16 Pada waktu itu Yehuda akan dibebaskan, dan Yerusalem akan hidup dengan tenteram. Dan dengan nama inilah mereka akan dipanggil: TUHAN keadilan kita!
33:17. Sebab beginilah firman TUHAN: Keturunan Daud tidak akan terputus duduk di atas takhta kerajaan kaum Israel!
33:18 Dan keturunan imam-imam orang Lewi tidak akan terputus mempersembahkan korban bakaran di hadapan-Ku dan membakar korban sajian dan mengorbankan korban sembelihan sepanjang masa."


Dalam ayat 5-7, para ahli Alkitab telah lama melihat nubuatan tentang Mesias, satu nubuatan penebusan umat Allah yang setia. Meski itu benar bahwa, sesudah pembuangan di Babel, umat yang sisa kembali pulang, tetapi itu bu­kanlah sebuah kemenangan. Namun, tujuan Allah akan tergenapi melalui garis keturunan Daud, melalui "tunas adil" raja yang akan memerintah kemudian hari.
Nubuatan ini sebagian telah digenapi pada kedatangan Yesus yang pertama (lihat Mat. 1:1: 21:7-9: Yoh. 12:13). Dan puncak kegenapannya pada kedatangan yang kedua (lihat Dan 7:13, 14), saat semua umat Allah yang setia, umat sisa yang benar akan tinggal selamanya dalam damai dan ketenangan. Penebusan, yang pertama kali dilambangkan oleh keluarnya orang Israel dari Mesir, akan akhirnya terwujud, sempurna dan kekal.
Kepada hal apakah Anda meletakkan harapan-harapan Anda? Bagai­manakah Anda belajar untuk terus percaya dalam janji Allah dan puncak kegenapan janji-janji itu dalam hidup Anda sendiri? Selain itu, apakah lagi yang Anda miliki?


Jumat
25 Desember

Pendalaman: Bertahun-tahun sebelumnya seorang pendeta Advent berna­ma W. D. Frazee mengkhotbahkan sebuah pekabaran yang disebut "Pemenang dan Pecundang." Dalam khotbah itu ia menerangkan kehidupan beberapa to­koh Alkitab, melihat pekerjaan dan pelayanan mereka, dan kemudian ia ber­tanya sehubungan dengan tokoh-tokoh itu: Apakah ia seorang pemenang atau pecundang?
Sebagai contoh, ia melihat pengalaman Yohanes pembaptis yang hidup sen­diri di padang gurun. Meski pada akhirnya Yohanes memiliki sedikit pengikut, tidak pernah banyak, dan tentu saja berbeda dengan yang dimiliki Yesus yang datang kemudian. Dan tentunya, Yohanes menghabiskan hari-hari terakhirnya di dalam penjara yang lembap, terkadang ia dilecehkan, dan akhirnya kepala­nya dipenggal (Matius 14). Sesudah mengisahkan kembali semua ini, Pendeta Frazee kemudian bertanya: "Apakah Yohanes seorang pemenang atau pecun­dang?"
Bagaimanakah dengan Yeremia? Berapa sukseskah hidupnya? Ia sangat menderita, dan bahkan ia tidak takut untuk merengek dan merintih. Dengan beberapa pengecualian, nampaknya para imam, nabi, raja, dan orang biasa bu­kan hanya tidak suka dengan apa yang ia harus katakan, tetapi juga sangat membenci pekabaran itu. Ia bahkan dipandang sebagai pengkhianat melawan bangsanya sendiri. Pada akhirnya, kehancuran dan malapetaka yang dia amar­kan seumur hidupnya akhirnya datang, karena berkali-kali bangsa itu menolak perkataan-perkataanya. Mereka melemparnya ke lubang berlumpur, berharap ia mati di sana. Ia hidup untuk melihat bangsanya menjalani pengasingan yang mengerikan sementara Yerusalem dan Bait Suci dihancurkan. Maka, dari su­dut padang manusia, tidak banyak hal yang berlangsung baik kepada Yeremia. Dari sudut pandang seseorang, Anda dapat mengatakan bahwa ia memiliki ke­hidupan yang cukup menyedihkan.
Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:
1.              Apakah Yeremia pemenang atau pecundang? Apakah alasan-alasan dari pilihan yang Anda buat? Jika Anda mengatakan bahwa ia adalah pemenang, apakah yang hal itu katakan mengenai betapa pentingnya hal itu, bahwa kita tidak menilai kenyataan dengan standar-standar dunia? Standar-standar apakah yang kita guna­kan untuk coba mengerti apa yang benar dan salah, baik dan jahat, sukses dan gagal?
2.               Dalam cara apakah kita melihat kehidupan dan pelayanan Yesus yang digambarkan dalam kitab Yeremia? Apakah paralelnya?
3.               Di awal pekan ini kita melihat masalah "karunia murahan," keper­cayaan yang berlangsung di beberapa agama semuanya dilakukan adalah untuk menutupi dosa. Apakah karunia yang benar, yang berbeda dengan versi murahan, tidak berharga, dan bahkan meni­pu yang diamarkan di sini?

PENUNTUN GURU    
Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Yeremia 2:13; Ulangan 6:5; Yeremia 23:1-8
Anggota Kelas akan:
Mengetahui: Mengidentifikasikan pelajaran-pelajaran utama dari kitab Yeremia, yang berpusat terutama pada karakter Allah dan sambutan kita kepada-Nya.
Merasakan: Menyadari maksud serius dari tema umat yang sisa di buku Yeremia dan perbedaan antara "banyak" dan "beberapa."
Melakukan: Menerima konsep agama hati, yang merupakan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan yang sejati dan kehidupan kekal.
Garis Besar Pelajaran:
I. Mengetahui: Karakter Allah
A.      Apakah penyimpangan umum akan karakter Allah selama masa Yeremia?
B.      Apakah pekabaran penghakiman—pekabaran Yeremia yang paling umum—menyiratkan gambar Allah sebagai hakim yang jahat yang datang untuk menemui kita? Mengapa ya, atau mengapa tidak?
II. Merasakan: Hanya Beberapa
A.      Apakah maksud serius dari tema umat yang sisa? Bagaimanakah itu terjadi dalam diri Yeremia?
B.      Bagaimanakah tema umat yang sisa masih relevan saat ini seba­gaimana kita melihat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh bertum­buh dengan pesat?
III. Melakukan: Agama Hati
A.      Apakah agama hati sebuah model pengalaman rohani yang dida­sarkan pada emosi?
B.      Apakah yang akan menjadi kebalikan dari agama hati?
C.      Bagaimanakah agama hati dihidupkan setiap hari?
Rangkuman: Ketika kita melihat kembali pada kitab Yeremia, kita melihat sebuah tema mengalir di seluruh buku yang benar-benar menjadi pusat dari pertentangan besar: Karakter Allah dan kesalahpahaman dan penggambaran yang keliru dari manusia akan hal itu. Allah menginginkan hati kita dan tidak puas dengan sesuatu yang kurang lengkap. Kita juga tidak akan puas dengan sesuatu yang kurang lengkap.

Siklus Pelajaran
Langkah 1 — Motivasi Fokus Alkitab: Yeremia 2:13
Kunci Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Biaya pemuridan tinggi. Yere­mia, sepanjang hidupnya, menghadapi kesulitan yang luar biasa, semua dalam rangka untuk memberitakan pekabaran Allah dan menggambarkan Allah yang adalah "sumber air hidup" yang sesungguhnya, Allah yang menjangkau dalam kasih kepada umat-Nya untuk menarik mereka kembali kepada-Nya lagi dan lagi dan kemudian sekali lagi.
Untuk Guru: Yeremia bernubuat lebih dari empat puluh tahun kepada bang­sanya, pertama di Yehuda dan kemudian di Mesir. Pada berbagai titik dalam hidupnya, ia mengeluh dengan hebat kepada Allah tentang pelayanan dan pe- kabarannya (Yer. 11:18-12:15; 15:10-18; 17:12-18; 18:19-23), yang akhirnya menyebabkan keluhan utamanya di mana ia mengutuki hari kelahirannya (Yer. 20:14-18). Namun, ia terus menemani Yehuda melalui hari-hari terakhirnya, yang ditandai dengan pemberontakan dan kehancuran.
Meskipun ia bisa memilih keluar, ia terpikat bersama umat Allah dan bahkan menemani mereka ke Mesir di mana ia meninggal dalam keadaan yang tidak diketahui. Dia sungguh merupakan salah satu dari nabi-nabi besar di mana, pada saat yang sama, begitu manusiawi. Diskusikan dengan UKSS kebesaran Yeremia yang bersinar melalui kemanusiaannya.
Aktivitas Pembuka: Kita semua menyukai akhir yang bahagia. Namun, ki­sah Yeremia tidak berakhir dengan baik. Yerusalem dihancurkan, Gedalya di­bunuh secara brutal, nabi Allah sekali lagi diabaikan, orang-orang Yahudi yang tersisa menghilang bersama Yeremia kembali ke Mesir, dan di sana seluruh kisah memudar di tengah kemurtadan (sinkritisme) dan kematian.
Bayangkan seorang pendeta yang telah berkhotbah sepanjang hidup yang berharga akan khotbah-khotbah penginjilan, yang selalu melawat anggota- anggota kawanan domba, dan yang telah setia melakukan semua tugas-tugas pendeta namun tidak pernah membaptis satu jiwa pun. Betapa sangat me­ngecewakan! Atau pikirkan banyaknya misionaris-misionaris yang napas ke­hidupan mereka di hutan-hutan lembap tanpa melihat hasil yang nyata bagi upaya seumur hidup mereka.
Biaya pemuridan benar-benar tidak murah. Bagaimanakah Anda bersikap ketika perjalanan menjadi sulit dalam perjalanan kekristenan Anda dan ketika Anda menghadapi oposisi dari setiap sudut yang mungkin?^
Langkah 2 — Menyelidiki
Untuk Guru: Saat kita menyimpulkan pelajaran triwulan ini, kita perlu un­tuk melihat gambaran keseluruhan yang muncul dari pelajaran kitab Yeremia dan bagaimana ini cocok dalam gambaran yang lebih besar dari pertentangan
besar. Kitab ini bukan hanya tentang hari-hari terakhir dari Yehuda dan peka­baran penghakiman tetapi karakter Allah dan bagaimana Setan telah berhasil menyelewengkan karakter Allah dan, akibatnya, rupa Allah dalam diri kita.
Upaya terus-menerus dari Allah untuk menarik umat-Nya yang memberon­tak kembali kepada Diri-Nya, yang hampir menjadi rasa sakit yang berulang- ulang, menunjukkan Allah pengasih yang menjangkau lagi dan lagi. Dan bah­kan ketika panggilan untuk pertobatan gagal dan pembuangan tiba, pekabaran selanjutnya adalah pemulihan dan pengharapan masa depan dari umat yang sisa. Ini, benar-benar tema-tema Alkitabiah utama yang mengkomunikasikan Injil baik di Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Komentar Alkitab
Para komentator modern biasanya melihat penghakiman pada pusat peka­baran teologis dari kitab Yeremia. Namun, penghakiman tidak pernah menjadi akhir teologis dalam dirinya sendiri tetapi selalu hanya alat untuk sekali lagi menarik umat manusia dekat kepada Pcnciptanya. Penghakiman—sebagaima­na dalam pedang, kelaparan, dan penyakit sampar (kutukan rangkap tiga yang muncul sekitar lima belas kali dalam Yeremia; sebagai contoh Yer. 14: !2; 21:7; 29:17, dll.)——tidak pernah menjadi kata-kata terakhir Allah tetapi keselamat­an (bandingkan khususnya Yeremia 30-33, yang disebut Kitab Penghiburan) dan janji umat yang sisa yang akan menjalani kehendak Allah bagi kehidupan mereka.
I. Karakter Allah
(Pelajari Kembali Bersama UKSS, Yeremia 2:11-13.)
Jika karakter Allah yang dipertaruhkan dalam pertentangan besar, maka Ye­remia menjelaskan dari awal kitabnya bahwa pemberontakan Yehuda berakar pada penyimpangan akan karakter Allah. Yeremia 2:11-13 menjelaskan pusat pekabaran Yeremia: Yehuda (dan Israel sebelum mereka) telah menggantikan kemuliaan Allah dengan apa yang tidak berguna (ayat II). Istilah Ibrani kabod ("glory") sehubungan dengan Allah mengacu kepada Nya, pada waktu, hadir di Bait Suci (contohnya, Kel. 16:10) dan khususnya memenuhi bait suci, me­nunjukkan keinginan Allah untuk tinggal di antara manusia dan memenuhi kita dengan kehadiran-Nya.
Israel (Yehuda) menukar kehadiran Allah yang nyata ini dengan upacara- upacara kosong, atau "sumber air hidup" dengan "tangki air yang bocor." Se­buah pcrtukaian \ aur uiinvalihLin. Aii hidup di dalam Alkitab adalah model Kristologi (bandingkan Kel. 17:6), sebagaimana kuatnya metafora kesela­matan (bandingkan Yoh. 4:10-14), menunjuk kepada sifat-sifat karakter Allah yang tidak dapat dipisahkan. Dia ingin menyelamatkan kita, mendukung kita, dan memenuhi kita dengan kehadiran-Nya yang terus-menerus. Inilah Allah sebagaimana Dia menyatakan Diri-Nya sendiri melalui Yeremia tepat dari per­mulaan kitab ini. Dengan apa pun kita menggantikan Dia, kita akan selalu menipu diri kita sendiri.
Pertimbangkanlah Hal Ini: Kemuliaan Allah dan air hidup adalah gam­baran yang berkuasa dalam Alkitab. Apakah makna gambaran ini bagi penga­laman kckristenan Anda?

II. Upacara Keagamaan dan Berhala
(Pelajari Kembali Bersama UKSS, Yeremia 6:20; 7:1-10: 10:1-14.)
Agama formal yang menyatakan dirinya sendiri dalam upacara-upacara yang tidak berarti sejalan dengan penyembahan berhala dan sering hidup ber­dampingan dengannya dalam hubungan simbiosis yang aneh. Tiga kali ung­kapan "Bait TUIIAN" yang Yeremia kutip di struktur pintu gerbang yang itu-itu saja (Yer. 7:4) berfungsi sebagai ekspresi yang hidup dari tipe agama pengganti tangki yang kering.
Kehadiran bait suci saja sudah cukup, pikirnya, untuk berfungsi sebagai mantra terhadap serangan orang Babel, dan Allah telah nyaman terkunci di dalam bangunan ini sehingga seseorang bisa memanggil-Nya kapan pun diper­lukan. Bahkan tidak peduli bahwa gaya hidup pribadi dan perilaku etis benar-benar tidak seirama dengan hukum Allah (Yer. 7:5-10) dan bahwa penyembah­an berhala menyebarluas (Yer. 10:1-9) dan bahkan terjadi di dalam bait suci (bandingkan Yeh. 8).
Namun semua ini hanya agama yang mati—berorientasi kepada usaha, dan dalam pertentangan yang tajam kepada Allah Air Hidup yang adalah Allah Pencipta yang dinamis. Sekali lagi pertentangan itu adalah tentang karakter Allah.                                                                                     ^
Pertimbangkanlah Hal Ini: Mengapakah ada orang yang dalam kesadar­annya menukar Allah yang hidup dengan berhala yang tak bernyawa? Menga­pakah hal ini, sayangnya, tidak terbayangkan seperti yang kita pikirkan?

III. Agama Hati dan Umat yang Sisa
(Pelajari Kembali Bersama UKSS, Ulangan 6:4 -6 dan Yeremia 23:1-8.)
Shema Yisrael ("Dengarlah, hai Israel") masih menjadi pusat dari pelay­anan pelayanan doa sepanjang hari Sabat, menunjuk kepada pentingnya apa yang berikut, di ayat 5, sebagaimana menjadi pusat dari ibadah yang sejati. Allah yang pribadi dan hidup menuntut agama hati yang sejati dan tidak ku­rang. Model agama seperti ini didasarkan pada hubungan kasih yang melibat­kan semua aspek dari satu pribadi: "hati" sebagai sebagai pusat pemikiran dan kehendak; "jiwa" (Ibrani nephesh), yang merujuk kepada seluruh pribadi; dan "kekuatan" kita merujuk kepada aspek fisik.
Agama hati yang sejati harus holistik (menyeluruh) dan murni. Hal ini men­jadi bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, meskipun beberapa orang menduga itu memiliki asal-usul dalam bagian Pentateuk yang disebut Dekalog kedua, menguraikan prinsip-prinsip dari perjanjian (UI. 5:1-11:32).
Namun, tampaknya hanya umat yang sisa yang ditarik ke dalam suatu hu­bungan kasih dengan Allah mereka. Sejak zaman Nuh, itu memang selalu saja umat yang sisa, dan janji umat yang sisa dalam Yeremia yang akan kembali dari pembuangan Babel berjumlah hanya sekitar lima puluh ribu orang (Neh. 7:66-73). Talmud Babelia, salah satu dari dokumen keagamaan yang terpen­ting di Rabinic Yudaisme, berasal dari Babel, membuktikan banyaknya orang- orang Yahudi yang duduk dengan nyaman di Mesopotamia dan telah membuat Babel rumah mereka.
Namun melampaui pembuangan ada aspek Mesianik dari nubuatan Yere­mia yang menunjuk kepada Kristus sebagai Raja, yang namanya akan disebut "TUIIAN KEBENARAN KITA" (Yer. 23:6), sebuah sebutan yang dikutip oleh Paulus di 1 Korintus 1:30. Tetapi bahkan melampaui Kristus, tema umat yang sisa menunjuk kepada akhir zaman ketika akan ada gereja akhir zaman yang akan menghidupkan agama hati yang sejati melalui menerima "kesaksian Ye­sus," yang berhubungan dengan keselamatan oleh kasih karunia dan melalui menghidupkan kehidupan yang taat kepada "perintah-perintah Allah" (Why. 12:17). Pekabaran Yeremia adalah sebuah undangan yang terus-menerus bagi hati kita untuk bertemu hati Allah.
Pertimbangkanlah Hal Ini: Apakah agama hati yang tulus bagi Anda?
Langkah 3 — Menerapkan
Untuk Guru: Karena ini adalah pelajaran terakhir untuk triwulan ini, pen­ting bagi guru untuk fokus pada aplikasi yang lebih luas dari seluruh kitab Yeremia.
Pertanyaan-pertanyaan:
·         Apakah yang paling menyentuh Anda dalam pendalaman kitab Yeremia se­panjang triwulan ini?
·         Apakah yang Anda bisa lakukan di dalam gereja dan komunitas Anda untuk mempromosikan agama hati yang sejati?
Langkah 4 — Menciptakan
Untuk Guru: Kitab Yeremia adalah cerita yang hidup dan seharusnya menghidupkan kita juga. Seringkah kita tergerak hati ketika kita mendengar orang lain membagikan pengalaman mereka dengan Allah.
Aktivitas: Simpulkan pelajaran triwulan ini dengan kegiatan kelompok yang menyediakan waktu untuk kesaksian-kesaksian tentang bagaimana orang-orang telah mengalami pelajaran besar dari kitab Yeremia. Anda bisa makan bersama-sama (mungkin makan ala Timur Tengah seperti falafel) dan kemudian beri kesempatan untuk kesaksian-kesaksian pada topik kesetiaan, penurutan, agama hati yang sejati, mendengarkan suara Allah, kebangunan dan pembaruan, meninggalkan penyembahan berhala dan agama palsu dan menja­di bagian dari gereja yang sisa.

BERITA MISI
26 Desember Program Sabat Ketigabelas
26 Desember
Selamat Datang Pemimpin SS atau Guru Sekolah Sabat
Lagu Buka LS EL, No. 78 "Tuhan Atas Segala Bangsa"
Doa Buka
Program
Persembahan
 Lagu Tutup  LS EL No. 480 "Bangunlah Umat Allah"
Doa Penutup

Peserta: Seorang narator dan dua pembaca cerita.
Perlengkapan: Sebuah peta besar dari Divisi Afrika Selatan- Samudra Hindia. (Pindai peta di ha­laman belakang Berita Misi ini atau download peta dari www.Adventist- Mission.org dan tampilkan melalui LCD proyektor ke layar.)
Narator: Triwulan ini fokus misi kita adalah mereka dari Divisi Afrika : Selatan-Samudra India. Persembahan Sabat Ketigabelas kita triwulan ini memiliki penekanan khusus pada pendidikan dan kesehatan. Mari , kita dengar cerita, berjudul "Sekolah Mendadak" yang menjelaskan bagaimana pendidikan Advent memain­kan peran besar dalam membangun gereja di Zambia—salah satu nega­ra yang terletak di wilayah divisi ini.
Pembaca 1: Ketika W. H. Anderson, istrinya, dan beberapa orang yang lain tiba di Zambia, mereka tidak naik pesawat ke sana atau bahkan berkendara mobil. Mereka mengadakan perjalanan melalui gerobak yang ditarik oleh lembu kuat. Setelah hari-hari yang panjang menaiki gerobak melintasi jalan bergelombang dan berdebu, para pelancong akhirnya tiba di tanah yang telah diberikan oleh kepala daerah setempat kepada Gereja Advent  untuk membuka sekolah bagi anak-anak setempat.
Sementara Ibu Anderson me­ngumpulkan kayu untuk mem­buat api agar menyiapkan makan malam, Bpk. Anderson pergi untuk melihat lahan itu lebih jauh. Mata­nya memeriksa tanah itu sebagai tempat yang baik untuk memba­ngun sekolah. Ada begitu banyak yang harus dilakukan. Pertama Bpk. Anderson harus belajar bahasa lo­kal sehingga ia bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang-orang. Kemudian ia akan mencari pem­bantu untuk memotong pohon serta mengawasi mereka mengo­lahnya menjadi kayu untuk memba­ngun sekolah. Dan ia ingin belajar bagaimana masyarakat bertani sehingga ia bisa memulai sebuah pertanian sekolah. Jika saya bekerja keras, pikirnya, saya bisa membuka sekolah dalam dua tahun.
Pembaca 2: Tapi hari itu—hari di mana Bpk. Anderson memeriksa—seorang anak menuju kepada ra demi suara ucapan mereka. Lalu ia menyalin suara ucapan ke papan tulis dan menginstruksikan anak- anak untuk menulis kata itu dan mengucapkannya.
Segera Bpk. Anderson mengum­pulkan cerita Alkitab yang seder­hana untuk menceritakan kepada murid-muridnya, dan mereka pada gilirannya bisa membaca beberapa kata dari bahasa mereka sendiri.
Lebih banyak anak datang, dan sekolah berkembang. Sebulan ke­mudian lebih dari 40 anak laki-laki datang mendaftar. Anak perempu­an datang juga.
Dalam setahun Bpk. Anderson telah menulis pelajaran Alkitab, menceritakan kisah Penciptaan, sampai Air Bah untuk membuat bacaan pertama dalam bahasa Chitonga. Ketika anak-anak menerima buku pertama dalam bahasa mere­ka sendiri, mereka menghafal buku itu sebelum bacaan kedua dicetak. Sepertinya Mereka adalah pembaca yang bersemangat!
Sementara anak-anak belajar, mereka terus bekerja bangunan dan pertanian. Mereka mena­nam jagung (yang mereka sebut "mealie") dan sayuran, serta membantu membangun asrama perta­ma, terbuat dari dinding lumpur, lantai tanah, dan atap rumput. Mereka membangun ruang makan, ruang kelas, dan sebuah gereja. Dari kayu kotak kemasan yang disimpan Bpk. Anderson, ia membuat sebuah meja yang panjangnya sepanjang asrama. Pada malam hari anak-anak
tidur di lantai.
Pembaca 2: Tapi asrama ini ti­dak akan menampung semua anak yang datang. Pada satu hari Sabat, setelah gereja, direktur menemu­kan lima anak laki-laki yang baru, duduk di dekat rumahnya. Dia tahu mereka ingin belajar, tapi tidak ada ruangan lebih lagi.Tapi ketika ia mengetahui bahwa mereka telah berjalan 150 mil untuk belajar di sekolah baru, ia mengangkat ta­ngannya.
"Apakah yang harus kita lakukan?"tanya Bpk. Anderson kepada Detja, gurunya orang Afrika. "Se­karang ini para siswa menempati lantai ketika mereka tidur! Musim hujan sudah datang, dan tidak ada rumput untuk membuat atap. Kita tidak bisa menerima siswa lagi!"
Detja berpikir sejenak dan kemudian berkata, "Guru, lantai penuh anak laki-laki, tapi tidak ada yang tidur di atas meja." Dan selama lima bulan meja itu digunakan un­tuk makan, untuk belajar, dan untuk tidur.
Pembaca 1: Anak-anak belajar dengan cepat, dan cerita-cerita dari kasih Allah yang penuh sukacita mengubah hati mereka. David Livingstone, seorang misionaris terkenal ke Afrika, pernah berkata bahwa  jika hati rakyat Bitonga ini berubah,  itu akan menjadi keajaiban kasih karunia. Dan itu terjadi. Anak-anak Bitonga berubah sepenuhnya karena mereka belajar tentang Yesus di sekolah gubuk lumpur yang kecil
di mana mereka membantu untuk  membangunnya.
Anak-anak yang bersemangat itu adalah siswa-siswa pertama dari Sekolah Misi Rusangu, sebuah seko­lah yang terus mengajar anak-anak tentang kasih Allah bahkan sampai sekarang.
Pembaca 2: Sekolah Advent Rusangu masih berdiri, dan guru masih mengajar anak-anak tentang Yesus. Bangunan asli lumpur dan lalang telah digantikan dengan bangunan beton yang beratap logam. Di tanah yang sama berdiri sebuah sekolah asrama menengah yang besar dan Rusangu Adventist University, yang telah menerima bagian dari Persembahan Sabat Ke­tigabelas kita beberapa tahun yang lalu untuk membantu membangun perpustakaan.
Narator: Persembahan kita hari ini akan membantu membangun Sekolah Dasar Advent yang sangat dibutuhkan di utara Botswana, di mana ada akademi tapi tidak ada Sekolah Advent untuk anak-anak. Nilai pendidikan Advent terkenal di Botswana menjadi bagian inte­gral dalam menghasilkan warga negara yang baik. Banyak siswa yang bersekolah di sekolah Advent memilih untuk dibaptis, dan me­reka berfungsi sebagai jembatan bagi anggota keluarga mereka dan teman-teman. SD Advent baru ini akan berfungsi sebagai pusat misi­onaris dalam menjangkau seluruh keluarga bagi Kristus.
Pembaca 1: Selain membangun Sekolah Dasar Advent Gateway di Botswana, persembahan kita hari ini akan sangat membantu para mahasiswa di Solusi University di Zimbabwe yang setiap hari mereka makan di ruang makan yang terlalu kecil. Sejak berdirinya pada tahun 1894, sekolah telah berkembang pesat dan sekarang menjadi tempat bagi lebih dari 14.000 mahasiswa. Solusi University adalah lembaga pendidikan tinggi swasta pertama di negara Zimbabwe. Persembahan kita saat ini akan membantu untuk memperluas fasilitas mereka dan mengakomodasi lebih banyak siswa di ruang makan universitas.
Pembaca 2: Kesehatan juga merupakan prioritas penting, dan sekarang Persembahan Misi Sabat Ketigabelas kita akan memban­tu membangun Pusat Kesehatan Advent Gweru di Zimbabwe. Klinik rawat jalan ini akanmemberikan pelayanan kepada semua anggota masyarakat, yang terdiri dari me­reka yang berpenghasilan rendah yang rentan terhadap warga kelas tinggi. Ini akan mencakup unit pediatrik yang khusus melayani se­mua anak di wilayah itu.
Narator: Kita telah mendengar tantangan dan melihat peluang untuk mereka dari Divisi Afrika Selatan-Samudra Hindia yang men­jangkau orang lain melalui Persem­bahan Sabat Ketigabelas kita. Mari kita memberikan dengan limpah­nya hari ini sehingga orang-orang dari Botswana dan Zimbabwe dapat menjangkau banyak orang dengan Injil Yesus.
[Persembahan dikumpulkan.]