11

Pelajaran 11 
YESUS MENGAJAK MEREKA, "IKUTLAH AKU"

Ayat Hafalan: "Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka Iari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal" (Yohanes 10:5).

Pada tahun 362 M. Kaisar Romawi Julian meluncurkan kampanye untuk menghidupkan kembali kekafiran. Kekristenan mengambil alih Kerajaan Romawi, dan dia bersama para pemimpin kekafiran khawatir. Nasihat Julian kepada seorang imam kafir terkemuka mengungkapkan keprihatinan­nya, dan memberikan petunjuk mengapa kekristenan bertumbuh begitu cepat: "Saya pikir bahwa ketika orang miskin secara sengaja diterlantarkan dan dia­baikan oleh imam [kafir], orang-orang Galilea yang tak beriman (orang Kristen) mengamati ini dan mengabdikan diri mereka untuk kebaikan.... (Mereka) mendukung tidak hanya orang-orang mereka yang miskin, tetapi orang miskin kita juga, setiap orang dapat melihat bahwa rakyat kita kekurangan bantuan dari kita."—Dikutip dari Rodney Stark, Cities of God (San Francisco: Harper- Collins Publishers, 2006), film. 3I.
Bangsa Romawi telah mengharapkan Kekristenan memudar ketika pemim­pin mereka, Yesus Kristus, mati. Sebaliknya, sejumlah warga negara Roma­wi mengikuti Yesus. Bagaimanakah mereka menjelaskan "masalah" ini? Para pengikut Yesus menunjukkan kasih-Nya melalui memenuhi kebutuhan dasar dari orang-orang di sekitar mereka. Itu yang Yesus lakukan ketika Dia berada di sini, dan itulah juga yang pengikut-Nya akan lakukan.
Maka, tidak heran, bahwa ketika diberikan tawaran untuk mengikut Yesus, begitu banyak yang menerima.

Minggu, 4 September
Mereka Mengenal Suara-Nya

Bacalah Yohanes 10:1-5,16. Bagaimanakah ayat-ayat ini menggambar­kan pentingnya mengapa kita, sebagai wakil-wakil Yesus, harus mem­bentuk hubungan yang positif dengan orang-orang dalam masyarakat kita sebagaimana kita berusaha untuk menuntun mereka kepada Yesus? Bagaimanakah kita bisa membantu mereka belajar untuk mendengar suara-Nya?
Yohanes 10:1-5,16
Gembala yang baik
(1) "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; (2) tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. (3) Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. (4) Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. (5) Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal."
(16) Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

Bisikan dari seorang teman Iebih kuat dalam menarik orang kepada Yesus daripada teriakan orang asing. Ketika kita membuat teman-teman belajar untuk mempercayai kita, Gembala yang Baik (Yoh. 10:11, 14) bisa bekerja melalui kita untuk menolong orang-orang ini mendengar, mengenal, dan mengikuti suara-Nya.
Tentu saja, ini penting bahwa kita sendiri mengenal suara Yesus sebelum kita bisa menolong orang lain mengenalnya juga. Kita membutuhkan kearifan Ilahi yang tertentu untuk membedakan antara suara licik Setan dan suara Yesus. Sesunggulmya, kita tidak boleh melupakan realitas pertentangan besar dan bahwa kita memiliki musuh yang bekerja dengan tipuan yang besar untuk menghalangi orang-orang untuk datang kepada hubungan yang menyelamat­kan dengan Yesus.
Namun demikian, kita bisa menjadi saluran yang kuat yang menolong orang-orang mengenal suara Yesus. Dia berbicara melalui alam (bahkan meski rusak akibat Kejatuhan), pekerjaan peineliharaan atas alam, pengaruh Roh Kudus, orang-orang saleh, dan firman-Nya. (Lihat Ellen G. White, Kebahagiaan Sejati, hlm. 136-143). Sebagaimana kita sendiri datang untuk mengenal dan menuruti suara itu, kita juga bisa menjadi pemandu bagi orang lain. Hal terakhir yang kita inginkan adalah, sebagaimana Yesus pernah amarkan, orang buta menuntun orang buta (lihat Mat. 15:14).
Mengapa Yesus memiliki kuasa menarik seperti itu untuk menarik orang kepada-Nya? Itu karena teladan-Nya yang tidak mementingkan diri memberi­kan diri-Nya sendiri yang sulit untuk ditolak. Ketika kita, sebagai tubuh-Nya, mengesampingkan keegoisan dan mengambil sifat seorang hamba, membiar­kan Dia menghidupkan hidup-Nya di dalam kita, orang lain akan ditarik kepa­da panggilan Kristus di dalam kita.
Sebagai wakil Gembala yang Baik, kita harus mencerminkan karakteristik pelayanan-Nya ketika kita menawarkan orang-orang untuk mengikut Dia. Ke­absahan dalam kata sebagaimana pelayanan yang murni yang mencerminkan pengorbanan kasih Yesus membuka telinga mereka yang kita layani dan me­runtuhkan penghalang antara masyarakat dan gereja.
Apakah cara-cara konkret sehingga Anda dapat menolong orang lain mendengar suara sang Gembala?

Senin, 5 September 2016
Kita Mencari

Bacalah Lukas 19:10; Markus 1:17; Lukas 9:2 dan Wahyu 14:6,7. Apakah satu kunci yang sama-sama dimiliki ayat-ayat ini? Artinya, apakah yang ayat-ayat beritahukan kepada kita untuk lakukan?
Lukas 19:10; 
(10) Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."
Markus 1:17; 
Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
Lukas 9:2 
Dan Ia mengutus mereka untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk menyembuhkan orang,
Wahyu 14:6,7
Dan aku melihat seorang malaikat lain terbang di tengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam di atas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum,
dan ia berseru dengan suara nyaring: "Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena telah tiba saat penghakiman-Nya, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air."


Selama bertahun-tahun satu jemaat Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh berdoa, "Tuhan, tolong tarik orang-orang dalam masyarakat kami ke gereja kami dan kepada-Mu"—seolah-olah gereja adalah magnet raksasa yang secara ajaib akan menarik orang-orang ke dalam. Benar, terkadang orang berjalan ke gereja kita, mencari Allah, semua tanpa usaha yang jelas dari pihak kita.
Tetapi apa yang gereja Anda lakukan ketika tahun-tahun berlalu dan tak seorang pun dari masyarakat berjalan melalui pintu gereja Anda? Jika Anda hanya fokus berdoa agar orang-orang datang, Anda tidak sedang mengikuti metode Yesus untuk memenangkan jiwa-jiwa. Dia berbaur, bersosialisasi, dan mencari orang untuk diselamatkan. "Janganlah kita menunggu jiwa-jiwa datang kepada kita; kita harus mencari mereka di mana mereka berada.... Banyak orang yang tidak akan terjangkau oleh pekabaran Injil kecuali pekabaran ini dibawa kepada mereka."—Ellen G. White, Membina Kehidupan Abadi, hlm. 173, 174..

Berbagai metafora menggambarkan ide "mencari" ini:
1. Sang gembala meninggalkan 99 domba yang ada di kandang untuk mencari satu yang telah tersesat (lihat Mat. 18:10-14). Yesus menceritakan kisah ini dalam konteks peringatan-Nya untuk memelihara dan melindungi "anak-anak kecil" dari berbuat dosa. "Anak-anak kecil" bisa jadi anak-anak secara harfiah atau orang Kristen yang belum dewasa. Jika mereka mengembara kembali ke dalam dunia, kita, seperti Yesus, mencari mereka dan dengan penuh kasih membawa mereka kembali kepada-Nya.   lntinya di sini, seperti dalam ayat-ayat di atas, adalah sama: Kita harus proaktif dalam mencari yang hilang. Kita perlu membuat upaya untuk menjangkau mereka. Meskipun, terkadang, terjadi bahwa seseorang berjalan di jalan dan mengatakan, "Ajari aku tentang Allah, tentang keselamatan, tentang kebenaran," yang secara umum bukan norma, bukan?

2. "Metode Kristus" menjangkau yang hilang "tidak akan, bahkan tidak mungkin, terlaksana tanpa hasil."—Ellen G. White, Membina Keluarga Sehat, hlm. 123. Namun, apakah kita hanya fokus pada "buah yang tergantung rendah"-orang yang telah bersama-sama memiliki konsep Kekristenan kita, seperti orang-orang Kristen dari denominasi lainnya? Apakah yang kita lakukan tentang menjangkau "buah yang sulit dijangkau?"—orang sekular, Muslim, Yahudi, Hindu, Budha, dll? Secara historis, orang dengan konsep Kristen melihat bahwa paham Advent itu relevan, tetapi kita harus melakukan pekerjaan yang lebih baik membagikan Yesus dengan kelompok-kelompok iman yang memiliki konsep yang berbeda.

Selasa, 6 September
Jembatan
Kadang-kadang sebuah gereja akan memiliki program pelayanan jangkauan masyarakat dalam bidang kesehatan, keluarga, keuangan pribadi, manajemen konflik, dll,  dan mungkin bertanya: Apa jembatan untuk membawa mereka kepada level "lkutlah Aku?" Kita seharusnya bertanya, Siapa jembatannya? Jawab: Anda! "Argumentasi terkuat tentang kabar selamat ialah seorang pengikut Tuhan yang mencintai dan dicintai."—Ellen G. White, Membina Keluarga Sehat, hlm. 436. Gereja-gereja yang berhasil dalam memelihara para pengunjung yang memiliki minat terlibat dari satu acara ke acara lainnya dan satu program ke program lainnya diberkati dengan anggota-anggota yang benar-benar mengasihi Allah dan ingin memelihara persahabatan yang erat.
Di sisi lain, anggota gereja yang ceroboh dalam pendekatan mereka kepada para pengunjung, atau bahkan tidak bersemangat terhadap mereka, dapat memiliki dampak yang sangat negatif pada jangkauan keluar gereja Anda. "Tuhan saat ini tidak bekerja untuk membawa banyak jiwa ke dalam kebenaran karena anggota-anggota gereja yang tidak pernah bertobat dan mereka yang pernah bertobat justru telah murtad. Apakah pengaruh anggota-anggota yang tidak kudus ini miliki terhadap yang baru bertobat? Apakah mereka tidak akan membuat pekabaran yang diberikan Allah yang umat-Nya harus bawa tidak berpengaruh?"—Ellen G. White, Testimonies for the Church,jld. 6, hlm. 371.
Bacalah Lukas 19:1-10. Mengapakah Zakheus merasa perlu untuk memanjat pohon untuk melihat Yesus secara sekilas? Apakah pelajaran rohani yang harus kita ambil dari cerita ini?
Lukas 19:1-10
Zakheus
(1) Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. (2) Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. (3) Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. (4) Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. (5) Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." (6) Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. (7) Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." (8) Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (9) Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. (10) Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Bayangkan apa yang akan terjadi jika mereka yang memblokir jalan kepada Yesus di Yerikho memberikan perhatian kepada minat Zakheus dalam mendekati Yesus dan dengan penuh kasih mengundang "orang berdosa" ini ke kaki Juruselamat.
Sebagian dari kita adalah bagian dari "kerumunan orang" di sekitar Yesus pastilah "terinfeksi" dengan kasih-Nya bagi pergumulan, manusia berdosa sehingga kita menjadi orang Kristen "yang mudah mempengaruhi orang lain." Jika kita sangat menyadari kasih dan karunia Allah bagi orang-orang berdosa seperti kita, kita dengan penuh semangat akan mencari orang-orang di luar kerumunan yang rendah dalam mutu kerohanian dan dengan penuh perhatian membawa mereka kepada Kristus.
Bagaimanakah Anda bersikap terhadap wajah-wajah baru di gereja Anda? Apakah Anda membuat upaya yang disengaja untuk berbicara kepada mereka? Atau apakah Anda mengabaikan orang-orang ini, berpikir bahwa orang lain bisa melayani mereka? Apakah yang jawaban Anda katakan tentang diri Anda sendiri dan apa yang mungkin perlu untuk diubah?

Rabu, 7 September
Penawaran
Yesus dan murid-murid-Nya menyembuhkan orang-orang dan kemudian mengarahkan pikiran mereka kepada isu-isu yang kekal. (Lihat buku Ellen G. White, Membina Keluarga Sehat, hlm. 16). Mark Finley mengingatkan kita bahwa dengan tidak memperkenalkan Allah kepada masyarakat adalah mela­laikan kewajiban rohani. Metode penginjilan Yesus adalah menyentuh orang pada titik-titik kebutuhan terbesar mereka. lni adalah pekerjaan pelayanan kesehatan. Kristus tidak puas hanya menyembuhkan mereka secara fisik dan tidak melakukan apa-apa lagi. Tujuannya adalah hidup kekal dalam Yesus. Pekerjaan pelayanan kesehatan mungkin tidak dimulai dengan menawarkan kepada mereka yang kita kenal untuk mengikut Yesus, tetapi harus sampai di sana pada akhirnya. Karena kasih kita kepada manusia, kita akan rindu untuk menawarkan kepada mereka segala sesuatu yang Yesus tawarkan.
Tetapi Anda mungkin berkata, "Saya akan melakukan bagian pertama dari metode Yesus, tetapi saya tidak melakukan bagian mengajak ikutlah Aku.' Itu bukan karunia saya." Jika Anda melakukan bagian pertama, Anda mungkin mengejutkan diri Anda sendiri dengan secara otomatis membagikan Yesus­dan itu akan sangat alami, begitu mudah, karena Anda mengerjakan "dasar" di tanah hati mereka.
Sementara Anda semakin dekat dengan mereka yang Anda layani, selalu bersedialah untuk setiap kesempatan membicarakan iman dan tentang apa ar­tinya Tuhan untuk Anda. Cari kesempatan untuk menyampaikan topik roha­ni. Tanya teman baru Anda tentang keluarga mereka, pekerjaan mereka, dan agama mereka, yang membuka jalan untuk membagikan kesaksian pribadimu.
Bahkan, kesaksian pribadi dapat menjadi cara yang paling ampuh untuk bersaksi, karena setidaknya itu bisa juga menjadi senjata. Anda tidak secara terang-terangan berkhotbah; Anda hanya bercerita, dan kita semua seharusnya memiliki cerita pribadi kita sendiri tentang apa yang Yesus telah lakukan dalam hidup kita.
Bacalah Kisah 26:11-27, Rasul Paulus menceritakan kesaksian priba­dinya kepada raja Agripa. Apakah yang bisa kita pelajari dari sini bagi did kita sendiri dalam usaha untuk bersaksi kepada orang lain tentang Yesus?
Kisah 26:11-27
(11) Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing."
Paulus menceriterakan pertobatan dan panggilannya
(12) "Dan dalam keadaan demikian, ketika aku dengan kuasa penuh dan tugas dari imam-imam kepala sedang dalam perjalanan ke Damsyik,  (13) tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku.  (14) Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.  (15) Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu.  (16) Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti.  (17) Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka,  (18) untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.  (19) Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat.  (20) Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain, bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.  (21) Karena itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah, dan mencoba membunuh aku.  (22) Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain dari pada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa,  (23) yaitu, bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain."
Ajakan kepada Agripa untuk percaya
(24) Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: "Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila."  (25) Tetapi Paulus menjawab: "Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat!  (26) Raja juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di tempat yang terpencil.  (27) Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka."

Perhatikan berbagai tahapan. Paulus menyampaikan tentang bagaimana dia dulu sebelum mengenal Tuhan. Kemudian dia menyampaikan tentang penga­laman pertobatannya yang sesungguhnya. Dan selanjutnya Paulus menyam­paikan tentang apa yang Allah telah lakukan dalam hidupnya sejak scat itu. Lalu is membuat panggilan.
Meskipun cerita kita mungkin tidak sedramatis kisah Paulus, apakah cerita pribadi Anda sendiri dengan Yesus, dan bagaimana Anda bisa bela­jar untuk membagikannya kepada orang lain di waktu yang tepat?
Kamis, 8 September
Carilah dan Engkau akan Menemukan
Bacalah Wahyu 3:20; Matius 7:7, 8 dan Yohanes 1:12. Dalam hal apakah ayat-ayat ini berkaitan, dan apakah yang ayat ini sampaikan kepada kita tentang apa artinya mencari dan menemukan Tuhan?
Wahyu 3:20; 
(20) Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

Matius 7:7, 8 
Hal pengabulan doa
(7) "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.  (8) Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Yohanes 1:12. 
(12) Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
Ayat-ayat ini bersama-sama menunjukkan bahwa manusia harus meminta dan mencari dan terbuka untuk menerima Yesus. Pada saat yang sama, Wahyu 3:20 menggambarkan Yesus berdiri di muka pintu dan mengetuk sehingga seseorang akan membuka pintu dan membiarkan-Nya masuk.
Ide-ide ini tidak bertentangan. Melalui kuasa Roh Kudus, Tuhan bekerja dalam hati manusia, menarik mereka kepada-Nya, bahkan jika manusia tidak selalu menyadari bahwa inilah yang sedang terjadi. Mereka sering mencari sesuatu yang hidup itu sendiri tidak tawarkan kepada mereka. Adalah suatu kesempatan berada di sana untuk mengarahkan mereka ke arah yang benar dan menolong mereka Iebih memahami apa yang sebenarnya mereka cari.
Faktanya adalah bahwa, melalui Anda, Yesus bisa mengetuk "pintu" kehidupan manusia dalam masyarakat Anda, dan siapa saya yang mau "mem­buka pintu" dan menerima-Nya akan menerima berkat yang datang bersama­Nya (Why. 3:20; Yoh, 1:12). Bahkan, Dia mengundang para pengikut-Nya untuk meminta, mencari, dan mengetuk pintu-Nya dan menerima "pemberian­pemberian yang baik" dari kerajaan-Nya (Mat. 7:7, 8, 11).
Ketika Roh Kudus memberi kesan pada Anda bahwa seseorang siap untuk "membuka pintu" bagi Kristus, tanyakan, "maukah Anda berdoa dengan saya untuk menerima Yesus Kristus dan menjadi anggota dalam keluarga-Nya?" Berikut ini adalah contoh doa yang ia bisa cloakan: "Ya Tuhan Yesus, saya tahu bahwa saya orang berdosa dan memerlukan pengampuan-Mu. Saya per­caya bahwa Engkau mati untuk dosa-dosa saya. Saya ingin berbalik dari dosa­dosaku. Saya sekarang mengundang Engkau untuk datang ke dalam hati dan hidupku. Saya ingin percaya dan mengikuti-Mu sebagai Tuhan dan jurusela­matku. Dalam nama Yesus, amin."
Kita membutuhkan kepekaan rohani untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membuat panggilan. Sementara selalu ada bahaya terlalu agresif, selalu ada bahaya, mungkin lebih buruk, karena tidak terlalu agresif. Kadang­kadang orang-orang membutuhkan kepastian dan dorongan kasih untuk membuat keputusan bagi Tuhan. Siapa yang tahu seseorang mungkin tertatih-tatih di tepi antara dua pilihan: Hidup kekal dalam Kristus atau kekalahan kekal.
Kita, tentu saja, memiliki tanggung jawab yang kudus.
Jumat 9 September
PENDALAMAN 
PENDALAMAN: Baca Mzm. 77:20; Hos. 11:4; 2 Kor. 5:11-21. Baca buku Ellen G. White, "Pengajaran dan Penyembuhan" hlm. 119-138, dan "Pertolongan dalam Kehidupan Sehari-hari" hlm. 455, 456, dalam Membina Keluarga Sehat; "Orang Ini Menerima Orang Berdosa," hlm. 137-148, dan "Ke Semua Jalan dan Lintasan," hlm. 166-181, dalam Membina Kehidupan Abadi.
Ada seorang anak muda yang mengasihi Tuhan dan yang ingin memberitahu orang lain tentang Yesus. Pandai berbicara, berkarisma, dia adalah seorang saksi yang luar biasa. Orang-orang senang mendengar dia berbicara. Namun, ada masalah yang berkesinambungan: Dia selalu takut untuk meminta orang­orang untuk membuat komitmen kepada Yesus. Hal ini mengejutkan anggota jemaat lainnya, karena dalam setiap hal lainnya dia tampak begitu berani buat Tuhan, sehingga bersedia untuk berbicara secara terbuka tentang keyakinannya. Akhimya, ketika ditanya tentang hal itu, dia memberi argumen yang kita lihat dalam pelajaran hari Rabu bahwa ini bukanlah karunianya. Dia suka untuk menaburkan benih; dia akan menyerahkannya kepada orang lain untuk menuai panen. Meskipun, setelah beberapa saat, dia mengaku bahwa, lebih dari apa pun, dia takut ditolak. Dia selalu merasa sedikit tidak layak sebagai saksi bagi Tuhan (yang merupakan hal yang baik), dan dengan demikian takut orang tidak membuat komitmen kepada Yesus setelah dia bertanya kepada mereka. Yang lain di dalam gereja menjelaskan kepadanya bahwa bersaksi bukanlah tentang kita, tetapi tentang Yesus. Kita selalu akan menjadi saksi yang tidak sempurna. Meskipun kita bisa dengan penuh doa dan kasih mengarahkan mereka kepada Yesus, kita tidak bisa melakukan peran Roh Kudus, yang satu-satunya dapat membawa keyakinan dan pertobatan. Kita, sesungguhnya, adalah saluran manusia akan kasih Kristus kepada orang lain.