Jika saudara/i meng-copy isi blog ini dan menaruhnya di blog/laman saudara/i, kiranya alamat blog ini dicantumkan untuk menghindari plagiat. Terimakasih.

PELAJARAN 9 TRIWULAN I 2015

KATA-KATA KEBENARAN

SABAT PETANG 21 FEBRUARI

UNTUK PELAJARAN PEKAN INI, BACALAH: AMS. 22; AMS. 23; KEL. 22:21-27; AMS. 24; 5:20; YEH. 33:8.

AYAT HAFALAN: Bukankah aku telah menulisnya kepadamu dulu dengan nasihat dan pengetahuan, untuk mengajarkan kepadamu apa yang benar dan sungguh, supaya engkau dapat memberikan jawaban yang tepat kepada yang menyuruh engkau? (Amsal 22: 20,

Beberapa amsal pekan ini menunjukkan kesejajaran dengan naskah-naskah orang Mesir. Di bawah inspirasi, Salomo mungkin telah membentuk ayatayat ini menurut perspektif Ibrani secara khusus. Di sini, kata-kata orang Mesir bertemu dengan Roh Allah Israel, dan dengan demikian menjadi inspirasi Ilahi.

Pengamatan ini panting, karena itu mengingatkan kita pada karakter universal kebenaran itu. Apa yang benar bagi orang Israel harusnya juga menjadi kebenaran bagi orang Mesir; jika tidak itu bukanlah kebenaran. Beberapa kebenaran berlaku secara universal, kepada setiap

Ranah teguran-teguran ini umum bagi kedua komunitas. Artinya, siapa pun Anda, apakah orang beriman atau tidak, dan di mana pun Anda tinggal, ada beberapa hal yang seharusnya Anda tidak

*Pelajarilah pelajaran pekan ini persiapan untuk Sabat, 28 Februari.

MINGGU 22 FEBRUARI: PENGETAHUAN KEBENARAN

Bacalah Amsal 22:17, 18. Apakah yang sedang disampaikan kepada kita bahwa kebenaran seharusnya memengaruhi hidup kita.

Amsal 22:17, 18:
22:17. Pasanglah telingamu dan dengarkanlah amsal-amsal orang bijak, berilah perhatian kepada pengetahuanku.
22:18 Karena menyimpannya dalam hati akan menyenangkan bagimu, bila semuanya itu tersedia pada bibirmu.

Tugas pertama seorang murid adalah mendengarkan dan memerhatikan: Pasanglah telingamu dan dengarkanlah (Ams. 22:17). Dengan kata lain: Berkonsentrasi! Hal yang panting bahwa pencari kebenaran haruslah sungguh-sungguh, harus benar-benar ingin belajar yang benar dan kemudian melakukannya.

Tetapi tidaklah cukup bagi seorang murid untuk mendengarkan atau bahkan memahami, secara intelektual, apa yang diajarkan. Beberapa orang yang memiliki banyak fakta-fakta Alkitab di pikiran mereka tidak memiliki pengetahuan yang sesungguhnya atau pengalaman dengan kebenaran itu sendiri (Yoh. 14:6).

Sebaliknya, kebenaran harus menjangkau bagian terdalam manusia. Ungkapan bahasa Ibrani dalam Amsal 22:18, dalam dirimu" mengacu kepada perut. Pelajaran seharusnya tidak tetap di permukaan; itu harus dicerna, diterima, dan menjadi satu bagian di dalam hidup kita. Sekali pekabaran telah masuk ke dalam sistem hidup kita, dan berakar di dalam kita, maka itu akan naik ke bibir kita, dan kita dapat memiliki kesaksian yang kuat.

Bacalah Amsal 22:19-21. Apakah yang pengalaman kebenaran dapat lakukan untuk kita?

Amsal 22:19-21:
22:19 Supaya engkau menaruh kepercayaanmu kepada TUHAN, aku mengajarkannya kepadamu sekarang, ya kepadamu.
22:20 Bukankah aku telah menulisnya kepadamu dulu dengan nasihat dan pengetahuan,
22:21 untuk mengajarkan kepadamu apa yang benar dan sungguh, supaya engkau dapat memberikan jawaban yang tepat kepada yang menyuruh engkau.

1. Iman (ayat 19). Tujuan pertama pengajaran hikmat bukanlah hikmat pada hakikatnya. Amsal tidak bertujuan untuk membuat para murid lebih cerdas dan terampil. Tujuan guru adalah memperkuat keyakinan para murid kepada Tuhan.

2. Keyakinan (ayat 21). Para murid harus mengetahui mengapa perkataan-perkataan kebenaran ini adalah pasti; mereka harus tahu mengapa mereka meyakini apa yang mereka lakukan. Iman menurut definisinya adalah percaya pada apa yang kita tidak mengerti sepenuhnya. Namun demikian, kita tetap harus mempunyai alasan yang cukup untuk iman itu.

3. Tanggung jawab (ayat 21). Langkah terakhir dalam pendidikan adalah membagikan kepada orang lain perkataan-perkataan kebenaran yang telah kita terima itu. Ini adalah inti seluruh panggilan kita sebagai satu umat.

Pikirkan semua alasan-alasan yang sangat masuk akal yang kita miliki bagi iman Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh kita. Apakah alasan-alasan tersebut, dan mengapa kita seharusnya tidak pernah ragu-ragu menjaganya di hadapan kita dan membagikannya kepada orang lain? Bawalah jawaban Anda ke kelas diskusi pada hari Sabat.

SENIN 23 FEBRUARI:  MERAMPOK ORANG MISKIN

Bacalah Amsal 22:22, 23; 23:10. Apakah yang diamarkan kepada kita disana?

Amsal 22:22, 23; 23:10:
22:22. Janganlah merampasi orang lemah, karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang yang berkesusahan di pintu gerbang.
22:23 Sebab TUHAN membela perkara mereka, dan mengambil nyawa orang yang merampasi mereka.
23:10. Jangan engkau memindahkan batas tanah yang lama, dan memasuki ladang anak-anak yatim.

Meskipun mencuri itu selalu salah, larangan ini menyangkut mencuri orang miskin dan yang tertindas, yang paling mudah diserang. Mereka benar-benar tidak berdaya, dan oleh karena itu mereka memenuhi syarat untuk mendapatkan perhatian Allah yang khusus (Kel. 22:21-27). Kasus Daud, yang membunuh Uria untuk mencuri istrinya, dan perumpamaan Natan tentang domba betina (2 Sam. 12:1-4), memenuhi pikiran. Merampok orang miskin bukan saja sebuah tindakan kriminal: itu adalah dosa "melawan TUHAN" (2 Sam. 12:13). Mengambil dari seseorang yang memiliki lebih sedikit daripada apa yang engkau miliki adalah lebih buruk daripada mencuri; itu juga sebuah tindakan pengecut. Apakah pencuri-pencuri ini mengira bahwa Allah tidak melihat tindakan-tindakan mereka?

Sesungguhnya, Amsal 22:23 menyiratkan bahwa jika seorang pencuri orang hasil lolos tanpa hukuman dari manusia, Allah akan membalas. penyebutan penebus, Goel(Ams 23:11), mungkin bahkan menyinggung kepada skenario Ilahi pada penghakiman akhir zaman (Ayb. 19:25Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.”).

Jadi, amaran ini, bersama dengan yang lain dalam Alkitab, berbicara menentang mereka yang tertarik hanya pada "keuntungan" yang langsung dari tindakan-tindakan mereka, dan bukan pada hasil jangka panjang. Mereka mengambil harta dan memperbesar kepemilikan mereka dengan mengorbankan orang lain, dan mereka mau menipu dan membunuh untuk tujuan itu. Mereka boleh menikmatinya sekarang, namun mereka akan membayarnya nanti. Alasan ini tidak hanya mencegah seorang pencuri; itu juga harus menunjukkan bahwa nilai-nilai etika kita terkait kepada kedaulatan Allah.

Di Inggris beberapa ateis memiliki slogan seperti ini yang ditempatkan pada bus-bus kota: Kemungkinan besar tidak ada Allah. Sekarang berhentilah khawatir dan nikmatilah hidupmu." Meskipun banyak jawaban yang bisa diberikan seseorang untuk menanggapinya, pikirkanlah yang satu ini: Jika tidak ada Allah, maka mereka yang mencuri dari orang miskin, berhasil melepaskan diri dengan itu, benar-benar tidak perlu khawatir tentang itu. Sesungguhnya, semua mereka yang telah melakukan kejahatan besar dan tampaknya telah berhasil melepaskan diri dengan itu akan, pada kenyataannya, benar-benar telah lolos dengan itu. Bagaimanakah seharusnya iman dalam Allah dan dalam janji-janji-Nya bahwa penghukuman menolong memberikan kepada kita beberapa ketenangan pikiran mengenai semua ketidakadilan yang kita lihat di dalam dunia sekarang?

SELASA 24 FEBRUARI:  IRI TERHADAP ORANG JAHAT

Apakah yang Amsal 23:17; 24:1, 2; dan 24: 19, 20 amarkan kepada kita?

Amsal 23:17; 24:1, 2; dan 24: 19, 20:
23:17. Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa.
24:1. Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka.
24:2 Karena hati mereka memikirkan penindasan dan bibir mereka membicarakan bencana.
24:19. Jangan menjadi marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang fasik.
24:20 Karena tidak ada masa depan bagi penjahat, pelita orang fasik akan padam.

Mengapakah seseorang iri kepada orang jahat? Kemungkinan besar itu bukan karena dosa-dosa yang mereka lakukan. Sebaliknya, biasanya itu karena keuntungan langsung (kekayaan, sukses, kekuasaan) yang mereka peroleh melalui kejahatan mereka itulah yang orang-orang seringkali inginkan untuk diri mereka sendiri.

Sudah tentu, meskipun tidak setiap orang yang sukses atau kaya adalah jahat, beberapa ya-dan mereka kemungkinan besar adalah tipe orang-orang yang diamarkan kepada kita dalam ayat-ayat ini. Kita melihat hidup baik mereka dan, dari perspektif kita, khususnya ketika kita sendiri sedang berjuang, adalah mudah untuk iri pada apa yang mereka miliki.

Namun demikian, ini adalah suatu pandangan yang sangat sempit dan picik, Bagaimana pun juga, pencobaan dosa adalah hasil yang segera diperoleh: Kita menikmati kepuasan saat ini. Sebuah perspektif melampaui masa kini dapat melindungi kita dari pencobaan; yaitu, kita perlu melihat melampaui keuntungan yang langsung dari dosa kita dan memikirkan konsekuensi jangka panjang.

Selain itu, siapakah yang tidak melihat betapa merusaknya dosa itu? Kita tidak pernah lolos darinya. Kita mungkin bisa menyembunyikannya dari orang lain sehingga tak seorang pun, bahkan yang terdekat dengan kila, memiliki petunjuk tentang apa yang sedang kita lakukan (meskipun cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya, bukan?). Atau kita mungkin bisa menipu diri kita sendiri dengan berpikir bahwa dosa-dosa kita tidak begitu buruk. (Bagaimana pun juga, lihat berapa banyak orang melakukan hal hal yang buruk!) Tetapi cepat atau lambat, satu atau dengan cara lain, dosa menyusul kita.

Kita harus membenci dosa karena itu adalah dosa. Kita harus membencinya karena apa yang dosa telah lakukan kepada kita, kepada dunia kita, dan kepada Tuhan kita. Jika kita ingin melihat akibat dosa yang sesungguhnya, lihatlah pada Yesus di kayu salib. Ini adalah akibat nyata dari dosa. Kenyataan ini saja seharusnya cukup (meskipun sering itu tidaklah cukup) untuk membuat kita ingin menghindari dosa dan menjauhkan diri sebisa mungkin dari mereka yang akan menuntun kita ke dalamnya.

Pernahkah Anda bergumul dengan rasa iri karena kesuksesan seseorang? Apakah obat terbaik untuk masalah yang secara rohani sangat mematikan ini? (Lihat Ef 5:20).

Ef 5:20:
5:20 Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita


RABU 25 FEBRUARI:  APA YANG KITA MASUKKAN KE DALAM MULUT KITA

Bukanlah kebetulan bahwa pencobaan manusia pertama menyangkut makanan (Kej. 3:3). Adalah oleh karena ketidaktaatan dan memakan hal yang salah yang membawa dosa dan kematian ke dalam dunia (Kej 3:1-7; Rm. 5:12). Kita tidak boleh melewatkan fakta yang jelas, bahwa penyebutan pertama meminum anggur dalam Alkitab dihadirkan dalam sebuah kisah yang sangat negatif dan merendahkan (Kej. 9:21).

Bacalah Amsal 23:29-35. Bagaimanakah penggunaan alkohol di-sajikan di ayat-ayat ini?

Amsal 23:29-35:
23:29. Siapa mengaduh? Siapa mengeluh? Siapa bertengkar? Siapa berkeluh kesah? Siapa mendapat cidera tanpa sebab? Siapa merah matanya?
23:30 Yakni mereka yang duduk dengan anggur sampai jauh malam, mereka yang datang mengecap anggur campuran.
23:31 Jangan melihat kepada anggur, kalau merah menarik warnanya, dan mengilau dalam cawan, yang mengalir masuk dengan nikmat,
23:32 tetapi kemudian memagut seperti ular, dan menyemburkan bisa seperti beludak.
23:33 Lalu matamu akan melihat hal-hal yang aneh, dan hatimu mengucapkan kata-kata yang kacau.
23:34 Engkau seperti orang di tengah ombak laut, seperti orang di atas tiang kapal.
23:35 Engkau akan berkata: "Orang memukul aku, tetapi aku tidak merasa sakit. Orang memalu aku, tetapi tidak kurasa. Bilakah aku siuman? Aku akan mencari anggur lagi."

Siapakah yang secara pribadi tidak melihat betapa menghancurkannya alkohol itu? tentu, tidak semua yang meminumnya menjadi pemabuk di selokan. Tetapi kemungkinan besar para pemabuk di selokan tidak pernah membayangkan, pertama kali mereka minum, bahwa mereka akhirnya akan berakhir diselokan.

Orang yang telah membentuk kebiasaan minum minuman keras yang memabukkan, berada dalam situasi putus asa. Dia tidak bisa diajak berpikir atau dibujuk untuk menyangkal pemanjaan dirinya sendiri. Perut dan otaknya sakit, kuasa kehendaknya melemah, dan nafsu makannya tidak terkendali. Pangeran kuasa kegelapan memegang dia dalam tawanan yang ia tidak punya kuasa untuk hancurkan. Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, jld. 3 hlm.1162.

Baca Amsal 23:1-8. Mengapa kita harus mengendalikan selera makan kita?

Amsal 23:1-8:
23:1. Bila engkau duduk makan dengan seorang pembesar, perhatikanlah baik-baik apa yang ada di depanmu.
23:2 Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!
23:3 Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu.

23:4. Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.
23:5 Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.

23:6. Jangan makan roti orang yang kikir, jangan ingin akan makanannya yang lezat.
23:7 Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. "Silakan makan dan minum," katanya kepadamu, tetapi ia tidak tulus hati terhadapmu.
23:8 Suap yang telah kaumakan, kau akan muntahkan, dan kata-katamu yang manis kausia-siakan.

Peringatan ini lebih daripada sekadar tata krama di meja. Ayat Alkitab adalah sebuah amaran bagi mereka yang suka makan "dan yang memiliki selera makan yang besar (Ams. 23:2). Kiasan menempatkan pisau ke leher seseorang sangatlah tegas: itu tidak sekadar membatasi nafsu makan, tetapi juga menunjukkan risiko kepada kesehatan Anda dan bahkan kehidupan-Anda yang bisa diwakili oleh makanan. Kata lbrani (bin), diterjemahkan pertimbangkan dengan hati-hati, mengekspresikan kehati-hatian yang cermat terhadap berbagai jenis makanan. Kata yang sama digunakan oleh Salomo ketika ia meminta hikmat agar menolong dia membedakan [bin] antara yang baik dan jahat (1 Raj. 3:9). Penulis yang diilhamkan memiliki lebih banyak dalam pikirannya daripada sekadar isu mengendalikan selera makan. Nasihatnya juga berkaitan dengan pesta jamuan makan dan pertemuan minum-minum, ketika kita dipaksa dan digoda untuk menginginkan makanannya yang lezat (Ams. 23:3).

Pikirkan tentang seseorang yang Anda kenal yang hidupnya telah dihancurkan oleh alkohol. Mengapa contoh itu seharusnya sudah cukup untuk menolong kita memahami mengapa kita seharusnya jangan pernah memasukkan racun itu ke dalam tubuh kita?

KAMIS 26 FEBRUARI : TANGGUNG JAWAB KITA

Kalau Aku berfirman kepada orang jahat, Hai orang jahat, engkau pasti mati! Dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu (Yes. 33:8). Apakah prinsip dasar rohani yang dinyatakan di sini? Bagaimanakah kita mengambil konsep ini dan menerapkannya kepada kehidupan kita sehari-hari?

Beberapa tahun yang lalu, di satu kota bagian Barat, seorang wanita diserang pada malam hari di jalan. Ia berteriak meminta tolong; lusinan orang mendengar, namun tidak satu orang pun yang tergerak untuk menelepon polisi. Kebanyakan orang memandang ke luar jendela dan kemudian kembali kepada yang mereka sedang kerjakan. Segera teriakan wanita itu berhenti. Kemudian, ia ditemukan tewas, ditikam berkali-kali.

Di manakah orang-orang yang mendengarkan teriakannya tetapi tidak melakukan apa-apa bertanggungjawab akan kematiannya? Meskipun mereka sendiri tidak menyerangnya, apakah kelambanan mereka menjadi membunuh si wanita itu?

Bacalah Amsal 24:11, 12, 23-28. Apa pekabaran-pekabaran penting di sini bagi kita?

Amsal 24:11, 12, 23-28:
24:11. Bebaskan mereka yang diangkut untuk dibunuh, selamatkan orang yang terhuyung-huyung menuju tempat pemancungan.
24:12 Kalau engkau berkata: "Sungguh, kami tidak tahu hal itu!" Apakah Dia yang menguji hati tidak tahu yang sebenarnya? Apakah Dia yang menjaga jiwamu tidak mengetahuinya, dan membalas manusia menurut perbuatannya?
24:23. Juga ini adalah amsal-amsal dari orang bijak. Memandang bulu dalam pengadilan tidaklah baik.
24:24 Siapa berkata kepada orang fasik: "Engkau tidak bersalah", akan dikutuki bangsa-bangsa, dilaknatkan suku-suku bangsa.
24:25 Tetapi mereka yang memberi peringatan akan berbahagia, mereka akan mendapat ganjaran berkat.
24:26 Siapa memberi jawaban yang tepat mengecup bibir.
24:27. Selesaikanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu di ladang; baru kemudian dirikanlah rumahmu.
24:28. Jangan menjadi saksi terhadap sesamamu tanpa sebab, dan menipu dengan bibirmu.

Hukum Musa dengan jelas mengamarkan bahwa mereka yang gagal untuk melaporkan apa yang mereka saksikan akan menanggung rasa bersalah (Im 5:1). Kita mungkin tidak mampu untuk bertindak melawan kejahatan, tetapi jika kita berdiam diri terhadap apa yang kita lihat, kita akan berbagi rasa bersalah dengan si penjahat. Dengan berdiam, kita menjadi kaki tangan.

Di sisi lain, jika kita melaporkan kebenaran di dalam kesaksian kita, memberikan jawaban yang benar (Ams. 24:26), kita menanggapi dengan tepat dan berperilaku sebagai orang yang bertanggung jawab. Tindakan ini dibandingkan kepada ciuman di bibir, yang berarti bahwa orang tersebut peduli kepada orang lain.

Sangatlah tragis untuk tetap berdiam dan tidak melakukan apa pun saat seorang wanita dibunuh di jalan Anda. Tetapi bagaimanakah dengan banyak kejahatan lainnya di bumi: Kelaparan, perang, ketidakadilan, rasisme, penindasan ekonomi? Apakah tanggung jawab kita di sini?

JUMAT 27 FEBRUARI : PENDALAMAN

Pendalaman: Jiwa-jiwa di sekitar kita harus dibangunkan dan diselamatkan, atau mereka binasa. Tidak sesaat pun kita harus kehilangan. Kita semua memiliki suatu pengaruh yang menceritakan kebenaran atau menentangnya. Saya ingin membawa bersama saya bukti-bukti yang jelas bahwa saya adalah salah satu murid Kristus. Kita ingin sesuatu selain agama Sabat. Kita membutuhkan prinsip yang hidup, dan setiap hari merasakan tanggungjawab pribadi. Hal ini dijauhi oleh banyak orang, dan buahnya adalah kecerobohan, ketidakpedulian, kurangnya perhatian dan kerohanian.Ellen G. White, Testimonies for the Church,jld. 1, hlm. 99.

Bicarakanlah iman, hidupkanlah iman, tumbuhkanlah cinta kepada Allah; buktikanlah kepada dunia apakah Yesus itu bagimu. Besarkanlah namaNya. Ceritakanlah kebaikanNya; bicarakanlah rahmat-Nya, dan ceritakanlah kuasa-Nya. Ellen G. White, Our High Calling, hlm. 20.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

1.Di kelas, kembalilah pada jawaban Anda untuk pertanyaan terakhir hari Minggu. Apakah yang bisa kita pelajari dari jawaban masing-masing? Apakah cara-cara yang bisa kita pelajari untuk membangun iman kita pada apa yang kita yakini?

2. Seseorang menuliskan: Ingatlah dua hal: Kristus mati bagimu, dan engkau suatu saat akan mati. Dalam konteks pelajaran hari Selasa, yang berbicara tentang bagaimana kita harus bertanggung jawab bagi dosa satu cara atau lainnya, apakah pelajaran penting yang harus kita ambil dari pemikiran ini?


3. Kembali dengan kutipan yang ditaruh di bus-bus di kota London: Kemungkinan besar tidak ada Allah. Sekarang berhentilah khawatir dan nikmatilah hidupmu. Selain yang pelajaran sudah ajarkan, apakah masalah-masalah lainnya yang Anda temukan tentang hal itu? Mengapakah keberadaan Allah akan membuat seseorang mulai khawatir? Apakah yang hal ini nyatakan kepada kita tentang seberapa berhasilnya Setan telah menyelewengkan karakter Allah dalam pikiran orang banyak? Di kelas, bicarakanlah berbagai cara yang berbeda di mana Anda bisa menanggapi slogan itu. Apakah hal-hal yang sederhana, ringkas dan tajam yang dapat menolong orang-orang melihat pengharapan yang bisa kita miliki dalam Allah?