Pelajaran 8 Triwulan II 2015, Berita Misi dan Penuntun Guru



BERITA MISI
PERTEMUAN ILAHI
23 Mei | Tiongkok
Tang Yue dan Zhang Wei

Fakta Terkini
1.  Tiongkok memiliki hampir 1,4 miliar orang—satu dari setiap lima orang di bumi, menjadikan­nya negara terpadat di dunia.
2.  Agama-agama tradisionalTiong- kok Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Pada tahun 1949 pemerintah Komunis Tiongkok secara resmi dibubarkan agama yang terorganisasi, tetapi dalam beberapa tahun terakhir bebe­rapa aturan telah menjadi lebih santai.
3.  Beberapa orang Kristen tinggal di Tiongkok, dan banyak yang dipenjara karena iman mereka selama tahun-tahun yang paling sulit dari pemerintahan Komunis.

Memegang tangan anaknya berusia enam tahun,Tang Yue tidak mengharapkan sesuatu yang tidak biasa saat dia berjalan dari rumahnya ke pasar terdekat. Sedikit pun dia tidak tahu bahwa dia akan mengalami perte­muan Ilahi.
Tang Yue percaya kepada Tuhan, dan pada hari Minggu dia beriba­dah dengan gereja Kristen lainnya, tapi saat ini dia sedang memikirkan apa yang dia butuhkan di pasar. Saat ia berjalan menyusuri jalan, dua orang yang baik tampak men­dekatinya dan berhenti.
"Kau tahu,"kata salah-seorang, "memelihara hari Minggu bukanlah dari Alkitab."Dia mengangkat Alki­tab dan menunjukkan dengan tak­jub ayat kepada Tang Yue mengenai Sabat hari ketujuh. Mendorong dia untuk melihat sendiri, seorang yang lain mengatakan, "Anda dapat men­cari di internet, dan melihat apakah hari ini benar-benar hari Sabat." Lalu mereka menyimpulkan presentasi singkat mereka dengan mengata­kan kepada Tang Yue bahwa "Yesus akan datang ke dunia ini, dan gere­ja Sabtu benar-benar gereja Tuhan." Lalu secepat mereka datang, begitu juga kedua pria itu menghilang di antara kerumunan.
Menemukan Gereja
Kagum bercampur aneh, perte­muan singkat ini, membawa Tang Yue pulang dan mulai membuka internet untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan orang- orang asing yang telah menghilang. Yang mengejutkan, ia menemukan sebuah situs yang menakjubkan di Tiongkok yang memiliki jawab­an yang jelas tentang hari ketujuh, Sabtu, menjadi Sabat yang benar dari Allah. Situs ini juga menawar­kan kemudahan untuk mengikuti pelajaran Alkitab. Mengetahui bahwa website itu dari pelayanan Gereja Masehi Advent Hari Ketu-
juh bernama "Amazing Facts," ia bertanya-tanya apakah mungkin ada gereja Advent di dekatnya yang ia bisa dikunjunginya.
Setelah sedikit mencari, Tang Yue senang menemukan gereja Advent di kotanya. Tentunya harus ada sesuatu yang khusus tentang gereja ini, pikirnya.
Menemukan jalan ke gereja pada hari Sabat berikutnya,Tang Yue mencari dua orang yang men­dekatinya di jalan, tapi dia tidak melihat mereka. Bahkan, dia tidak pernah melihat mereka lagi.
Tang Yue terus kembali ke ge­reja Advent dan percaya bahwa dia telah menemukan rumah rohani­nya. "[Gereja ini] mengajarkan apa yang Alkitab katakan," kata Tang Yue."Ini sangat berbeda dari gereja
lain. Saya percaya bahwa apa yang Advent ajarkan adalah kebenaran, dan bahwa Yesus akan datang sege­ra." Tang Yue terus beribadah secara teratur dengan anggota Gereja Advent yang bertemu bersama di sebuah apartemen di sebuah kota di Tiongkok tengah.
Bertemu Zhang Wei
Zhang Wei bukanlah warga negara biasa. Dia pernah bertugas dengan baik di militerTiongkok, dan sebagai orang yang sangat dihormati, menjabat sebagai Kepala Desa di desanya. Akhirnya, bagai­mana pun, dia memutuskan untuk pindah ke sebuah kota besar di mana ia bisa mendapatkan lebih banyak uang secara teratur.
Suatu hari saat dia sedang berja­lan di sepanjang jalan kota, sesuatu menarik perhatiannya—musik yang berasal dari lantai dasar bangunan apartemen yang besar. Mengin­tip melalui jendela ia bisa melihat orang-orang bernyanyi.
Segera, seseorang datang kepa­da Zhang Wei dan mengundangnya untuk datang ke dalam apartemen.

Meskipun agak segan untuk masuk gedung, namun penasaran untuk mempelajari lebih lanjut, akhirnya Zhang Wei memasuki gereja rumah Advent.
Menyadari bahwa beberapa orang memiliki Alkitab, ia penasa­ran untuk melihat buku yang tidak biasa ini. Untungnya orang Advent yang bersama dengan Zhang Wei membagikan kepadanya bebe­rapa bagian Alkitab yang paling berharga bagi mereka dan berdoa bersamanya.
Zhang Wei sering kembali ke gereja rumah Advent. Suatu hari pelajaran hidup sehat diajarkan, termasuk diet. Menjelaskan hukum Alkitab tentang daging halal dan haram, para anggota mengatakan Zhang Wei bahwa babi itu ha­ram dan sering hewan itu penuh dengan cacing, la berpikir Advent tidak bisa benar tentang hal ini, Zhang Wei memutuskan untuk me­lakukan percobaan kecil.
Babi Percobaan
Banyak orang bekerja di lokasi pembangunan yang sama seper­ti Zhang Wei, dan perusahaan kadang-kadang membeli masakan seluruhnya babi untuk memberi makan para kru. Suatu hari keti­ka ada babi pada menu makanan, Zhang Wei diam-diam pergi ke babi yang mati untuk melihat apakah babi itu benar-benar "najis." Memas­tikan tidak ada yang melihat, Zhang Wei cepat mengambil pisau dan mengiris binatang itu sehingga luka lebar. Dia menemukan di daging babi terdapat cacing-cacing dari kepala sampai kuku. Kaget dan jijik, ia tidak pernah makan daging babi lagi. Tak lama, Zhang Wei menerima semua kebenaran Alkitab ia belajar di gereja Advent dan dibaptis.
Setelah dibaptis Zhang Wei kembali ke desa asalnya di mana ia memulaikan gereja rumah Advent dengan hanya satu orang—diri­nya sendiri! Tapi dia mulai berbagi hal-hal yang ia pelajari dari Alkitab dengan orang lain, dan segera ge­reja bertumbuh. Saat ini, daerah di mana Zhang Wei tinggal memiliki enam gereja Advent, dan tiga ka­bupaten tetangga masing-masing memiliki gereja—karena doa dan kuasa kesaksian Zhang Wei.
Triwulan ini, bagian dari Persem­bahan Sabat Ketigabelas Anda akan membantu untuk membangun ge­reja rumah lagi di Tiongkok. Terima kasih banyak atas dukungan Anda!

Pelajaran 8
* 16-2 2 MEI

Misi Yesus
SABAT PETANG
Untuk Pelajaran Pekan Ini, Bacalah: Luk. 15:4-7, 11-32; Luk. 16:19-31; 18:35-43; 19:1-10.
AYAT HAFALAN: "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang" (Lukas 19:10).
Bila kita ingin menulis pernyataan misi untuk Yesus, kita tidak dapat membuat sesuatu yang lebih baik daripada mengulangi kata-kata-Nya sendiri: "Untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Apakah yang hilang? Manusia itu sendiri, yang telah terasing dari Allah, sa­saran kematian, dan dipenuhi ketakutan, kekecewaan, dan keputusasaan. Jika tidak ada yang dilakukan demi kita, semua manusia akan hilang.
Berterimakasihlah kepada Yesus, bagaimanapun, kita semua telah memiliki alasan kuat untuk berharap.
"Di dalam kemurtadannya manusia memang menjauhkan dirinya dari Tu­han; dunia tercerai dari surga. Antara jurang yang memisahkan itu tidak ada hubungan. Tetapi melalui Kristus dunia kembali dijembatani dengan surga. Dengan jasa-Nya sendiri, Kristus telah menjembatani jurang yang dibuat oleh dosa,...Kristus menghubungkan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa dan dalam kelemahan serta keadaan tanpa daya itu dengan Sumber kuasa yang ti­ada batasnya.'" Ellen G. White, Kebahagiaan Sejati, hlm. 20, 21.
Dari Kejadian sampai Wahyu, Alkitab adalah kisah Allah mencari umat ma­nusia yang hilang. Lukas menggambarkan kebenaran ini dengan menggunakan tiga perumpamaan penting: domba yang hilang (Lukas 15:4-7), dirham yang hilang (ayat 8-10), dan anak yang hilang (ayat U-32).
*Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat, 23 Mei.

Minggu 17 Mei
Domba yang Hilang dan Dirham yang Hilang
Bacalah Lukas 15:4-7. Apakah yang ayat-ayat ini katakan kepada kita mengenai kasih Allah bagi kita? Mengapakah penting untuk memahami bahwa gembalalah yang pergi mencari domba yang hilang?
Lukas 15:4-7
15:4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,
15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.
15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Di dunia yang dapat muncul sikap tidak peduli dan acuh tak acuh kepada kita, perumpamaan ini mengungkapkan kebenaran yang mengejutkan: Allah begitu me­ngasihi kita sehingga Dia sendiri yang akan datang kepada kita, untuk membawa kita kepada-Nya. Kita sering berbicara tentang manusia yang mencari Allah; pada kenyataannya. Aliahlah yang mencari kita.
"Jiwa yang telah menyerahkan dirinya kepada Kristus lebih berharga pada pe- mandangan-Nya daripada segenap dunia. Juruselamat mau mengalami penderitaan di Goigota agar seorang dapat diselamatkan dalam kerajaan-Nya. la tidak pernah akan meninggalkan seseorang yang baginya la telah mati. Kecuali para pengikut- Nya memilih meninggalkan Dia, Ia akan memegang mereka erat-erat."—Ellen G. White, Alfa dan Omega. jld. 6, hlm. 98.

Bacalah Lukas 15:8, 9. Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Lukas. Dir­ham yang hilang dapat memiliki satu dari dua penafsiran. Pertama, di Yudea pada zaman Yesus penuh dengan orang miskin, dan di kebanyakan rumah tangga satu dirham (,drahma) dapat bernilai lebih dari upah sehari, hampir tidak cukup untuk menjauhkan keluarga dari kelaparan. Kedua, sebagai tanda dari yang telah me­nikah, beberapa wanita mengenakan hiasan kepala yang terdiri dari sepuluh dir­ham—suatu jumlah yang besar, disimpan untuk waktu yang lama bagi keluarga yang miskin.

Dalam kedua situasi itu, kehilangan adalah masalah yang serius. Sehingga, wanita ini, benar-benar hancur dan berada dalam kesedihan yang mendalam, me­nyalakan pelita (rumahnya barangkali tidak memiliki jendela atau mungkin hanya sebuah jendela kecil), mengambil sapu. dan menggeledah rumahnya sampai dia menemukan dirham itu. Jiwanya dipenuhi sukacita yang meluap-luap, dan luapan sukacitanya memenuhi semua sahabat-sahabatnya.
"Dirham itu, walau terletak di tengah debu dan sampah, adalah tetap sekeping uang perak. Pemiliknya tetap mencarinya sebab nilainya. Demikianlah setiap jiwa, betapapun direndahkan oleh dosa, dalam pemandangan Allah terhitung berharga. Sebagaimana dirham itu membawa gambaran serta keterangan dari pemerintah­an yang berkuasa, begitulah manusia pada waktu penciptaan membawa gambaran serta keterangan mengenai Allah; dan sekalipun sekarang dikaburkan dan dikotori perantaraan pengaruh dosa, bekas-bekas tulisan masih tetapi terdapat pada setiap jiwa."—Ellen G. White, Membina Kehidupan Abadi. hlm. 145.

Begitu banyak pengetahuan dan filsafat modern mengatakan kepa­da kita bahwa kita tidak lain hanyalah ciptaan yang secara kebetulan di alam semesta yang tidak berarti dan tidak peduli sama sekali pada kita atau nasib kita. Apakah pandangan yang benar-benar berbeda yang dibe­rikan dalam kedua perumpamaan ini?

SENIN 18 MEI
Anak yang Hilang(Bagian 1)

Dianggap sebagai cerita pendek terindah dalam sejarah yang pernah dicerita­kan tentang sifat kasih yang memaafkan, perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32), hanya dikisahkan oleh Lukas, dapat juga disebut perumpamaan mengenai bapa yang mengasihi dan dua anak yang hilang. Anak yang satu memi­lih jalan tidak menurut di negeri seberang jauh dari kasih bapanya. Yang satunya memilih tinggal di rumah tetapi tidak memahami sepenuhnya kasih bapanya atau arti seorang kakak. Perumpamaan ini dapat dipelajari dalam tujuh bagian, empat bagian berhubungan dengan anak yang hilang, dua bagian dengan bapanya, dan satu bagian dengan kakaknya.
1.      "Berikanlah kepadaku" (Lukas 15:12). Keputusan anak bungsu meminta ke­pada bapanya bagian hartanya bukan terjadi tiba-tiba, dorongan spontan. Dosa se­ringkah terjadi setelah dalam waktu yang lama memikir-mikirkan prioritas yang salah. Anak bungsu itu pasti sudah mendengar dari teman-temannya mengenai gegap gempita negeri yang jauh itu. Kehidupan di rumah terlalu ketat. Ada cinta kasih, tetapi memiliki batasan-batasannya sendiri; negeri yang jauh menawarkan kehidupan tanpa larangan. Sang bapa terlalu melindungi, cinta kasihnya terlalu mengikat. Anaknya menginginkan kebebasan, dan dalam upaya untuk bebas tanpa batas telah menjadi benih pemberontakan.
2.     "Kenapa saya?" (Lukas 15:13-16). Anak itu menjual seluruh bagiannya dan berangkat ke "negeri jauh." Negeri yang jauh adalah suatu tempat yang jauh dari rumah bapanya. Mata kasih yang peduli, pagar pelindung hukum, pelukan kasih karunia yang selalu ada adalah asing di negeri jauh. Itulah negeri yang jauh dengan "hidup berfoya-foya" (Lukas 15:13). Kata Yunani untuk "berfoya-foya" (asolos) muncul tiga kali di tempat lain dalam Perjanjian Baru sebagai kata benda: mabuk (Ef. 5:18), hidup tidak tertib (Elus 1:6), dan hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu yang mencakup "keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan pe­nyembahan berhala yang terlarang (1 P/r 4:3. 4). Semacam Kesenangan hidup tak bertuhan menyia-nyiakan kesehatan dan kekayaannya, dan segera dia menjadi tidak ada uang, tidak ada teman, dan tidak ada makanan. Hidupnya yang gemerlap berakhir di selokan. Kelaparan sampai kepada titik melarat sama sekali, dia men­dapat pekerjaan menjaga babi, nasib yang kejam bagi seorang Yahudi.

3.     "Jadikanlah aku" (Lukas 15:17-19). Tetapi walaupun hilang ia adalah tetap seorang anak dengan kuasa memilih untuk kembali. Sehingga, anak itu "menyadari keadaannya" dan mengingat suatu tempat yang disebut rumah, seorang yang dike­nal sebagai bapa, sebuah ikatan hubungan yang disebut cinta kasih, la berjalan pulang ke rumah, dengan menggenggam sebuah perkataan, untuk bermohon ke­pada bapanya: "Jadikanlah aku." Itu saja, jadikanlah aku sesukamu, dan izinkan aku berada didalam pengawasanmu yang penuh perhatian, di dalam pemeliharaan kasihmu. Rumah yang begitu baik di sana adalah hati sang ayah.


Dunia dapat kelihatan begitu memikat. Apakah hal-hal tertentu dalam dunia ini yang olehnya Anda tergoda, sehingga Anda menemukan diri Anda berpikir: "Oh, itu tidak begitu buruk," padahai di lubuk hati Anda tahu kalau itu buruk?

Selasa 19 MEI
Anak yang Hilang (Bagian 2)
4.     Pulang ke rumah (Lukas 15:17-20) adalah jalan pertobatan. Perjalanan itu di­mulai "ketika ia menyadari keadaannya." Pengakuan akan di mana dia berada, di­bandingkan dengan keadaan rumah bapanya, mendorong dia untuk "bangkit" dan "pergi" kepada bapanya. Anak yang hilang kembali ke rumah dengan empat po­tongan kalimat.
    Pertama, ada penerimaan bapa sebagai "bapaku" (ayat 18). Anak yang hilang sekarang perlu bersandar dan percaya pada kasih dan pengampunan bapanya, sebagaimana kita harus belajar untuk percaya kepada Bapa kita di surga.
Kedua, pengakuan: apa yang dilakukan oleh anak yang hilang bukanlah suatu kesalahan pertimbangan, tetapi dosa terhadap Allah dan bapanya (ayal 18).
Ketiga, penyesalan: "Aku tidak layak lagi" (ayal 19). Pengakuan atas ketidakla- yakan seseorang, berbeda dengan kelayakan Allah, sangat penting untuk terjadinya pertobatan sejati.
Keempat, permohonan: "Jadikanlah aku" (ayal 19). Penyerahan kepada apa pun yang Tuhan kehendaki adalah tujuan pertobatan. Anak bungsu telah kembali.
5.     Ayah yang menantikan (Lukas 15:20, 21). Penantian dan perhatian, kesedihan dan harapan, dimulai pada saat anak yang hilang pergi dari rumah. Penantian ber­akhir ketika ayah itu melihatnya "masih jauh," dan kemudian "tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ay ahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan men­cium dia" (ayal 20). Tidak ada gambaran lain merekam tabiat Allah sebagaimana ayah yang menantikan ini. (Lukas /5:20. 21).
6.     Keluarga bergembira (Lukas 15:22 25). Ayah merangkul anaknya, memakai­kan kepadanya jubah yang baru, mengenakan cincin di jarinya dan sepatu di kaki­nya, dan menyuruh membuat pesta. Keluarga merayakannya. Jika meninggalkan rumah adalah kematian, kembalinya adalah kebangkitan, dan layak bersukacita. Anak itu memang hilang, tetapi dia tetap anak, dan ada sukacita di sorga untuk se­tiap anak yang bertobat (ayal 7).
7.     Anak yang sulung (Lukas 15:25-32). Anak bungsu hilang ketika dia melang­kah keluar dari rumah menuju ke negeri jauh; anak sulung hilang karena, walaupun dirinya di rumah, hatinya berada di negeri jauh. Seperti hati yang marah (ayal 28), mengeluh, dan merasa benar sendiri (ayal 29), dan menolak untuk mengakui sau­daranya. Sebaliknya, menyebutnya "anak bapa," boros tidak karuan (ayat 30). Si­kap anak yang sulung kepada bapanya sama seperti sikap orang Farisi yang menu­duh Yesus: "la menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka" (ayal 2). Ucapan terakhir dari bapa pada anak sulungnya mencerminkan sikap sorga kepada semua orang berdosa yang bertobat: Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali" (ayat 32).

Tempatkanlah diri Anda pada posisi anak yang sulung. Walaupun pe­mikirannya salah, mengapakah begitu masuk "akal" sehingga dia merasa demikian? Bagaimanakah kisah ini mengungkapkan cara di mana Injil dapat melakukan melebihi apa yang "masuk akal"?



RABU  20 MEI
Kesempatan yang Hilang
Walaupun Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang dalam dosa, la tidak pernah memaksa siapa pun untuk menerima kese­lamatan yang Dia tawarkan. Keselamatan itu cuma-cuma dan tersedia bagi se­mua orang, namun seseorang harus menerima tawaran cuma-cuma ini dengan iman, yang menghasilkan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Waktu yang kita miliki untuk mengalami hal ini hanyalah ketika kita hidup di dunia: tidak ada kesempatan yang lain.

Bacalah Lukas 16:19-31. Apakah pesan penting perumpamaan ini?
Lukas 16:19-31
16:19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
16:30 Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."


Perumpamaan ini hanya terdapat dalam kitab Lukas, .dan ini mengajarkan dua kebenaran penting yang berhubungan dengan keselamatan: Pentingnya "hari ini" dalam proses keselamatan dan tidak adanya kesempatan lain untuk keselamatan setelah kematian.
Hari inilah hari keselamatan itu. Perumpamaan ini tidak mengajarkan bahwa ada dosa yang melekat dengan kekayaan atau kebaikan mutlak dengan kemis­kinan. Apa yang diajarkannya adalah bahwa kesempatan untuk diselamatkan dan hidup diselamatkan tidak bisa dilewatkan selagi kita berada di dunia ini. Kaya atau miskin, terpelajar atau tidak, berkuasa atau tidak, kita tidak memi­liki kesempatan ke dua. Semua orang diselamatkan dan dihakimi berdasarkan sikap mereka hari ini. sekarang, terhadap Yesus. "Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu." (2 Kor. 6:2).
Perumpamaan ini juga mengajarkan bahwa upah kekal tidak ada hubungan­nya dengan hal kepemilikan materi. Orang kaya itu "berpakaian jubah ungu dan kain halus" (Lukas 16:19) tetapi melewatkan ha! yang penting dalam ke­hidupan: Allah. Jika tidak mengakui Allah, sesama manusia tidak akan diper­hatikan. Dosa orang kaya ini bukan dalam kekayaannya, tetapi dalam kega­galannya menyadari bahwa keluarga Allah lebih besar daripada yang telah disiapkan untuk dia terima.
Tidak ada kesempatan kedua setelah kematian. Kebenaran kedua yang pasti yang Yesus ajarkan di sini adalah bahwa tidak adanya kesempatan kedua se­telah kematian. "Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kuli saja, dan sesudah itu dihakimi" (Ibrani 9:27). Hal lain dari perumpama­an ini adalah untuk menunjukkan kepada manusia bahwa kita telah diberikan bukti yang cukup sekarang ini, dalam kehidupan ini, untuk membuat pilihan secara sadar untuk atau melawan Allah. Setiap teologi lain yang mengajarkan semacam "kesempatan kedua" setelah kematian adalah penyesatan besar.

Kita senang membicarakan mengenai Allah sangat mengasihi kita dan semua yang telah Ia lakukan dan sedang lakukan untuk menyelamatkan kita. Jika demikian, apakah yang seharusnya diajarkan oleh perump­amaan ini, mengenai bahayanya sekadar menerima begitu saja kasih dan tawaran Allah akan keselamatan?

Kamis 21 Mei
Dulu Buta, Sekarang Melihat
Pernyataan misi Yesus bahwa Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang adalah suatu penegasan dari pelayanan yang holistik. la-datang untuk menjadikan pria dan wanita menjadi seutuhnya, mengubahkan mereka secara fisik, mental, rohani, dan sosial. Lukas memberikan kepada kita dua pe­ristiwa yang menggambarkan bagaimana Yesus memulihkan dua orang yang hancur menjadi seutuhnya. Seorang yang buta secara fisik, yang satunya se­cara rohani: kedua-duanya terbuang—yang satu seorang pengemis dan yang satunya seorang pemungut cukai. Tetapi kedua orang ini adalah calon-calon bagi misi penyelamatan Kristus, dan tak satu pun berada di luar hati atau jang- kauan-Nya.

Bacalah Lukas 18:35-43. Apakah yang diajarkan ayat ini mengenai ketergantungan kita sepenuhnya kepada Allah? Siapakah di antara kita yang tidak pernah berseru, "kasihanilah aku"?
Lukas 18:35-43
18:35 Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis.
18:36 Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?"
18:37 Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat."
18:38 Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
18:39 Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"
18:40 Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya:
18:41 "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!"
18:42 Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!"
18:43 Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.

Markus menyebut nama orang ini Bartimeus (Markus 10:46). Ia adalah se­orang pengemis di luar kota Yerikho. Seorang penyandang cacat, tidak memi­liki pengaruh sosial, dilanda kemiskinan, dengan tiba-tiba mendapati dirinya berada dalam jangkauan mukjizat sorga: "Yesus orang Nazaret lewat" (Lukas 18:37), dan imannya mendorongnya berseru, "Anak Daud, kasihanilah aku" (ayat 39). Iman tidak membutuhkan mata atau kaki, atau tangan, tetapi hanya­lah hati yang terhubung kepada Pencipta dunia ini.

Bacalah Lukas 19:1-10. Siapakah orang "buta" dalam kisah ini?
Lukas 19:1-10
19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
19:9 Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.
19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Hanya Lukas yang mencatat kisah Zakheus, pertemuan Yesus terakhir de­ngan orang-orang yang terbuang. Misi Kristus, mencari dan menyelamatkan yang hilang, digenapi dengan luar biasa dalam pertemuan-Nya dengan Zakhe­us. Zakheus adalah kepala pemungut cukai di Yerikho, kepala orang berdosa dalam penimbangan orang Farisi kota itu. tetapi kepala pendosa dicari dan diselamatkan oleh Juruselamat. Betapa Yesus menggunakan tempat dan cara yang asing untuk menyelesaikan misi-Nya. Sebatang pohon ara, seorang yang penuh rasa ingin tahu berusaha untuk melihat siapa Yesus itu, dan Tuhan yang mengasihinya menyuruh turun, karena Ia telah mengundang sendiri untuk pertemuan makan siang bersamanya. Tetapi yang lebih penting. Yesus mem­punyai pekabaran untuk dibawa: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini" (Lukas 19:9), tetapi tidak disampaikan sebelum Zakheus memper­baiki segala sesuatu (ayat 8).
Sangat mudah untuk melihat kesalahan dan kekurangan orang lain, bukan? Namun kita dapat begitu sering buta bagi diri sendiri. Apakah bagian-bagian kehidupan Anda yang perlu Anda tolak, akui, dan me­nangkan atas apa yang telah Anda tunda begitu lama?

Jumat 22 Mei


Pendalaman: "Oleh domba yang tersesat Kristus menggambarkan bukan saja orang berdosa secara perorangan, tetapi satu dunia yang telah murtad dan telah dihancurkan oleh dosa."—-Ellen G. White, Membina Kehidupan Abadi, hlm. 142.
Mengenai nilai satu jiwa: "Nilai satu jiwa. siapakah yang dapat menguku­rnya? Apakah engkau ingin mengetahui nilainya, pergilah ke Golgota [Getse- manij dan di sana perhatikanlah bersama-sama Kristus melalui jam-jam yang penuh sengsara, ketika la meneteskan keringat seperti keringat darah. Lihat­lah kepada Juruseiamat yang disalibkan.... Di kaki salib, dengan mengingat bahwa untuk satu orang yang berdosa Kristus mau menyerahkan nyawa-Nya, engkau dapat menaksir nilai satu jiwa."—Hlm. 147
Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:
1.     Sementara semua agama menggambarkan manusia sedang men­cari Tuhan, Kekristenan menghadirkan Tuhan sebagai yang men­cari: Adam, "Di manakah engkau (Kej. 3:9)1 Kain, di mana adik­mu (Kej. 4:9)1 Elia, apakah kerjamu di sini (1 Raj. 19:9)'.' Zakheus, turunlah (Lukas 19:5). Apakah pengalaman Anda sendiri dengan Tuhan yang mencarimu?
2.     Lihatlah kembali pertanyaan terakhir pada akhir pelajaran hari Selasa. Apakah kesalahan fatal yang dibuat oleh anak sulung itu? Apakah cacat rohani yang ditunjukkan dalam sikapnya? Menga­pakah lebih mudah memiliki sikap seperti itu daripada yang kita pikirkan? Lihat juga Matius 20:1-16.
3.     Dalam kisah orang kaya dan Lazarus, Yesus berkata bahwa ka­laupun ada seseorang datang dari kematian, akan ada orang yang tidak akan percaya. Dalam cara bagaimanakah perumpamaan ini meramalkan reaksi beberapa orang terhadap kebangkitan Yesus, di mana beberapa orang tetap tidak percaya meskipun ada bukti kuat kebangkitan-Nya?
4.     Salah satu aspek yang sangat berkesan dari pelayanan penyelamat­an Yesus adalah persamaan dalam memperlakukan semua orang, sebagaimana kepada pengemis yang buta dan Zakheus atau Ni- kodemus dan perempuan Samaria. Salib itu, lebih daripada yang lain, menunjukkan persamaan semua orang di hadapan Allah. Ba­gaimanakah kebenaran penting ini seharusnya berdampak dalam bagaimana kita memperlakukan orang-orang lain, bahkan kepa­da mereka yang—karena politik, budaya, etnis, apa pun itu—kita mungkin sebelumnya telah memiliki perasaan tidak enak? Menga­pa sikap seperti itu bertentangan dengan Yesus?
5.     Bandingkanlah kisah anak yang hilang dengan kisah orang kaya dan Lazarus. Bagaimanakah kedua kisah ini saling melengkapi?

Penuntun Guru

Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Lukas 19:10
Anggota Kelas akan:
Mengetahui: Memahami apa artinya mencari dan menyelamatkan.
Merasakan: Mengerti bagaimana mencari dan menyelamatkan memenga­ruhi pria dan wanita.
Melakukan: Memerankan peran yang Allah telah tugaskan sebagai murid
dalam proses mencari dan menyelamatkan.
Garis Besar Pelajaran:
I.                      Mengetahui: Arti Mencari dan Menyelamatkan
A.    Sebelum kita tahu arti "mencari dan menyelamatkan," kita harus tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan berikut: Siapakah yang hi­lang? Dari manakah kita jatuh? Seberapa dalamkah kejatuhan itu? Bagaimanakah mungkin bagi kita untuk pulih dari kejatuhan?
B.        Apakah yang dapat kita pelajari tentang kondisi kita yang tersesat dalam perumpamaan tentang domba yang hilang, dirham yang hi­lang, dan anak yang hilang?
C.        Bagaimanakah mencapai pemulihan dari setiap kondisi sesat? De­ngan cara apakah setiap pemulihan melambangkan mencari dan menyelamatkan dari misi Yesus?
II.        Merasakan: Bagaimanakah Mencari dan Menyelamatkan Meme­ngaruhi Kita?
A.        Bersama Yesus, mencari dan menyelamatkan, prinsip apakah yang digambarkan dalam ketiga perumpamaan ini?
B.        Emosi apakah yang digambarkan dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, sebagaimana anak dan ayah yang bersatu, dan pelajaran apa yang bisa kita pelajari tentang kasih Allah yang me­nyelamatkan?
C.        Hilang dan berhasil ditemukan adalah dua tahap yang berlawanan dalam kehidupan setiap individu. Bagaimanakah Anda menggam­barkan kondisi mental, emosional, dan rohani di setiap negara, dan peran apakah yang Setan dan Kristus mainkan?
III.      Melakukan: Apakah yang Dapat Kita Lakukan dalam Proses Pen­carian dari Tuhan?
A.        Kontribusi apa sajakah yang kita berikan untuk misi penyelamatan Allah? Apakah itu, jika ada, berapakah biaya bagi kita?
B.        Bagaimanakah kita menanggapi, daya pikat dunia, terhadap misi Yesus bahwa Dia datang untuk mencari dan menyelamatkan kita?
Rangkuman: Misi Yesus adalah hasil kasih dan anugerah Allah. "Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah" (Roma 5:20), dan melalui kasih karunia ini kita menemukan diri kita disela­matkan.

SIKLUS BELAJAR
LANGKAH 1 - Memotivasi
Fokus Alkitab: Lukas 15:18,19
Kunci Utama untuk Pertumbuhan Rohani: "Bangkitlah dan pergi kepada Bapamu. Ia akan menjemput engkau dari jauh. Jika engkau mengambil satu langkah saja ke arah Dia dalam pertobatan, la akan cepat-cepat merangkulmu di dalam lengan kasih-Nya yang abadi. Tidak pernah sebuah doa dipersembah­kan, betapa pun lemahnya, tidak pernah setetes air mata dicucurkan. betapa pun rahasianya, tidak pernah suatu kerinduan yang ikhlas kepada Allah didam­bakan. betapapun lemahnya, meskipun begitu Roh Aliah akan pergi menjem­putnya. Bahkan sebelum doa itu dipersembahkan, atau keinginan hati itu di­beritakan, rahmat dari Kristus keluar untuk memenuhi rahmat yang bekerja di atas jiwa manusia."—Ellen G. White, Membina Kehidupan Abadi, hlm. 155.
Untuk Guru: "Hilang." Kata ini menggambarkan kehancuran kehidupan dan sejarah manusia. Mengembara jauh, mengabaikan si pemilik, memilih menyatakan diri sendiri memberontak: apa pun kondisi alasannya, "ketersesa­tan" akan memberitahukan kemalangan terbesar dan kutukan pada diri sendiri kecuali yang hilang dengan sukarela datang kepada Pencari—Gembala yang baik, pembentuk rumah tangga, dan Bapa yang selamanya pengasih. Mereka yang hilang akan menemukan tujuan dan sukacita mereka ketika menyerah pada kuasa "tinggal." Tinggal di dalam siapa? Pertanyaan yang bagus yang dapat digunakan untuk memulai diskusi Anda.
Aktivitas Pembuka Diskusi: Dirham yang hilang, domba yang hilang, anak yang hilang. Apakah perbedaan kehilangan di antara masing-masing perumpa­maan? Jenis manakah yang paling malang? Mengapakah dua perumpamaan pertama berbicara tentang seorang pencari tetapi bukan yang terakhir?
LANGKAH 2 - Menyelidiki
Untuk Guru: "Saya pernah hilang, tetapi sekarang ditemukan, buta, tetapi sekarang saya melihat" seberapa sering kita menyanyikan bait ini sebagai ba­gian dari himne besar "Amazing Grace." "Hilang" adalah tragedi dari semua manusia karena "semua orang telah berbuat dosa" (Roma 3:23). "Ditemukan" merupakan hak sama secara universal, tetapi perlu dipahami dalam iman dan terus berada pada pelukan Pencari surgawi kita. Pelajaran kita pekan ini berbir cara tentang beberapa jenis kehilangan, tetapi kita akan mengomentari tiga hal: anak yang hilang, hilang kesempatan, dan dua orang buta.
Komentar Alkitab
I. Anak yang Hilang
(Tinjau Kembali Luk. 15:11-32 bersama kelas.)
"Hilang" adalah nasib menyedihkan dari kemanusiaan. Penyakit yang memati­kan, oleh karena mengabdikan diri di tempat Allah adalah bukan, dan tidak pernah.
merupakan bagian dari rencana Tuhan. "Hilang" melibatkan mereka yang memilih untuk meninggalkan kasih Bapa, menyenangi tempat yang jauh di mana ada ke­inginan besar untuk tenar, iming-iming kesenangan dosa. racun aneh keegoisan, dan meninggalkan keadiian serta serangkaian tanggung jawab dan turun kepada kenyataan yang paling rendah yang membedakan antara manusia dan babi.
Perhatikanlah gambaran perumpamaan tentang Bapa ilahi. Pertama, Dia me­nunggu. Dia tidak bisa memaksa anak untuk kembali. Kasih Bapa bagi mereka yang memilih untuk menerimanya. Tuhan tidak pernah memaksa kehendak seseo­rang: Tidak ada yang ditebus dengan merampok apa yang diartikan sebagai pilihan manusia. Kedua, Bapa memulihkan anak yang hilang tanpa syarat apa pun: Tidak ada permintaan ganti rugi, tidak ada tempat karantina, tidak ada penghakiman yang diucapkan. Permohonan maaf, pengampunan, pemulihan, penerimaan, sukacita, cincin, sepatu, jubah—satu per satu memimpin kepada kelimpahan sukacita Tuhan atas kembalinya anak yang hilang. Ketiga, Bapa melihatnya "ketika la masih jauh" (Lukas 15:20). Jarak atau negeri yangjauh tidak bisa menahan anak hilang itu jauh dari mata Bapa yang mencari, untuk pulang kc rumah memperhitungkan bahwa " jauh di atas bukit berdiri sebuah salib tua kasar." Salib yang memastikan bahwa tidak ada anak yang kembali tetap sebagai anak yang hilang.
Pertimbangkanlah: Pemberontakan dikendalikan oleh tata bahasa "Aku" (li­hat Yes. 14:12-14.). "Aku" adalah subjek, "Aku" adalah kata kerja, "aku" adalah obyek—semua di dalam semua, "Aku" adalah kalimat hidup. Jadi anak muda yang memberontak mendekati ayahnya dan menuntut, "Berikan kepadaku. Aku ingin menjadi diriku sendiri." Di mana pun diri menuntut hal itu menjadi awal, pusat, dap tujuan, yang dipilih diri untuk menolak rumah bapa dan menjadi makhluk di negeri yangjauh.
II. Hilang Kesempatan
(Tinjau kembali Lukas 16:19-31 bersama kelas.)
Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus bukanlah teologi abstrak. Ini adalah pernyataan berkuasa atas tanggung jawab hidup dalam bermasyarakat yang tidak bertanggung jawab: atas kemewahan yang sia-sia di tengah-tengah kemiskin­an; atas kerendahan surga bagi kesombongan dan pelukan Allah bagi yang meno­lak, kesepian, dan jiwa yang terpinggirkan bernama Lazarus (yang berarti "Tuhan adalah penolong saya"). Jika Tuhan adalah penolong Lazarus, baik jamuan makan orang kaya maupun anjing yang menjilati lukanya tidak dapat menjauhkan dia dari pelukan Allah yang besar.
Perhitungan akhir kekekalan tidak memperhitungkan seberapa besar rekening bank yang dimiliki seseorang, seberapa besar rumah yang dia tempati, berapa ba­nyak pelayan yang dimiliki seseorang yang siap untuk melayani. Semua ukuran keberhasilan duniawi sia-sia, dan skala Aliah terhadap nilai yang berarti dari ma- sing-masing jiwa ada dalam kosakata ilahi yang kekal: Cinta, kasih karunia, men­jangkau beberapa dari orang-orang di antara kita. menabur benih dengan tangisan dan kembali dengan tuaian sukacita. Itulah teologi—cinta yang merangkul kehi­dupan Lazarus-Iazarus dan membawa mereka ke pangkuan Abraham.
Dan teologi itu memiliki poin kedua: sekarang adalah hari keselamatan, dan setelah itu, kematian. Tidak ada kesempatan kedua. Oleh karena itu, putuskan, se­karang. Putuskan untuk Tuhan.
Pertanyaan untuk Diskusi:
·         Orang kaya menangis meminta kemurahan (Lukas 16:24), tetapi kemurah­an itu tidak tersedia. Mengapa?
·         Apakah yang dimaksudkan Lukas 16:26. jurang yang tak terseberangi?
·         Mengapa mengindahkan "kesaksian Musa dan para nabi" (Lukas 16:31) begitu menentukan dalam menerima upah kehidupan kekal? (Bandingkan dengan Yohanes 5:38-40.)

III. Dua Pria Buta
(Tinjau Kembali Lukas 18:35-19:8 bersama kelas.)
Pada pekan sebelum Penyaliban, Yesus bertemu dua orang buta—satu di luar Yerikho, dengan pakaian compang-camping, dengan tikar usang sebagai tempat ti­durnya, dan mangkuk untuk mengemis. Buta dan tak berdaya, Bartimeus (Markus 10:46) menunggu waktu ketika pembebasan akan melepaskan dia dari penderitaan dan keputusasaannya.
Pembebasan memang datang, tetapi bukan dalam bentuk kematian di mana be­gitu banyak yang berharap ketika kehidupan mencapai titik nadir; hal itu datang melalui kabar baik yang ia mendengar dari kerumunan orang banyak bahwa Ye­sus dari Nazaret sedang lewat. Bartimeus mengenal Yesus. Dia mendengar tentang mukjizat-Nya. Dia tahu kuasa-Nya. Dia tahu siapa Dia, Dia tahu bagaimana la pe­duli. Tiba-tiba, Bartimeus meledak dalani pengakuan Mesianik, permohonan dari jiwa yang hilang: "Yesus. Anak Daud, kasihanilah aku" (Lukas 18:38). Meskipun ia buta, pandangan rohaninya selaras dengan realitas surgawi. Penemuan Mesian- iknya sudah cukup membuka mata dan melihat keajaiban surga terbesar: Yesus. Apakah penemuan yang Anda tunggu?
Orang buta kedua, buta secara rohani dan tinggal di dalam Yerikho— kepala pe­mungut cukai, la hidup, mengabaikan perbedaan antara baik dan jahat, pajak dan penjarahan, menarik secara daging dan kewajiban roh, merampas hari ini dan be­sok menghitung. Baginya kekekalan tidak memiliki arti, kebenaran tidak memiliki relevansi, dan Allah telah mengambil hari libur dari hidupnya.
Dia juga telah mendengar tentang Yesus dan khawatir melihat seperti apa rupa Yesus yang melakukan keajaiban. Dia baru saja melihat Yesus dengan mudah— muka dengan muka—di rumah cukai di pintu masuk ke Yerikho. Apakah dia takut kegagalan moralnya, mengeksploitasi sosialnya yang hanya mengambil keuntung­an, dan kebangkrutan rohaninya?
Lukas adalah seorang penulis yang ramah, dan tidak menunjukkan hal seperti itu, hanya menuliskan bahwa ia bertubuh pendek dan mencari bantuan pohon ara untuk mengimbangi tubuhnya yang pendek. Tetapi mata Kristus yang menembus dapat menemukan orang berdosa di mana saja, dan Juruselamat melihat kebutuh­an Zakheus. Segera Dia menawarkan untuk mengisi kekosongan dalam jiwanya dan menyuruhnya untuk turun dari ketersesatan di puncak pohon untuk keramah tamahan di rumahnya. Di sana Tamu yang meminta sendiri untuk bertamu mem­berikan kepada tuan rumah makanan terbaik yang seseorang bisa harapkan: Roti hidup. Yesus membuat orang yang buta rohani melihat. Memiliki Yesus di rumah dan di
dalam hati adalah lebih baik daripada menjadi orang terkaya di Yerikho atau di mana pun. Zakheus menemukan keselamatannya.
Pertemuan dengan Kristus yang hidup membuka mata kita, menyembuhkan hati kita yang terluka, memberikan ketenungan untuk jiwa kita, dan meyakinkan kita pada hidup yang kekal.

Pertanyaan untuk Diskusi:
·         Lukas 18:40-43 memberikan kemajuan dari yang buta menjadi murid: mera­sakan kebutuhan seseorang, menyadari kekuatan doa, mengakui Yesus, meng­alami iman, sukacita, dan mengikuti Yesus. Mengapakah langkah ini penting?
·         Tinjau kembali bagaimana Zakheus memberi makna pada pertobatannya (Lu­kas /9. 5,)? Dapatkah Anda mengingat sebuah contoh dalam hidup Anda di mana Anda mungkin harus membuat perubahan seperti Zakheus? Mengapa keselamat­an tidak pernah lengkap sampai pertobatan dan pemulihan terjadi?
LANGKAH 3 - Mempraktikkan
Untuk Guru: Lukas memberikan alasan yang luar biasa bagi Yesus mence­ritakan tiga perumpamaan yang hilang dan ditemukan: mereka menjadi jawab­an atas kritikan orang Farisi terhadap Yesus yang makan dan bersekutu dengan para pemungut cukai dan orang berdosa (Lukas 15:1-3). Perumpamaan ini me­negaskan misi-Nya untuk menyelamatkan satu jiwa yang hilang yang bernilai pengorbanan, dan yang demikian membawa sukacita terbesar kepada Allah. Dengan hal itu dalam pikiran, bacalah Lukas 15:4-7 (domba yang hilang) dan pertimbangkan hal berikut ini:
Pertanyaan untuk Dipikirkan:

  • Sembilan puluh sembilan versus satu. Mengapakah angka satu begitu penting bagi Tuhan?
  • "Hilang." Bagaimanakah yang hilang domba itu?
  • "Pergi setelah." Bagaimanakah berorientasi pada pencarian adalah kasih Allah? 
  • Sampai." Untuk apakah Pencari itu pergi?
  • "Bersukacita." Mengapakah menyelamatkan bahkan hanya satu orang menjadi peristiwa menggembirakan?

LANGKAH 4 - Menciptakan
Untuk Guru: Yesus bertanya kepada Bartimeus: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" (Lukas 18:41). Betapa sebuah kepedulian, per­tanyaan yang mengundang, khas Juruselamat. Dia adalah Pencipta kita. Dia adalah Penebus kita. Dialah yang menyanggupkan kita. Semua hal adalah mungkin di dalam dan melalui Dia.
Pertanyaan Aplikasi: Tanyakan kepada kelas: Apakah yang akan Anda minta Yesus lakukan untuk Anda hari ini? Doronglah masing-masing anggota untuk membuat daftar pendek tiga atau empat kebutuhan penting yang mereka miliki dan bagikan bersama kelas.