Pelajaran 1 Triwulan IV 2015 dan Penuntun Guru

 Pelajaran ini dalam bentuk ebook untuk Apple (Ibooks) dan Android (MoonReader/FBReader) download di sini

*26 September - 2 Oktober
Panggilan Kenabian Yeremia
SABAT PETANG
Untuk Pelajaran Pekan Ini, Bacalah: Yesaya 1:19; Yeremia 7:5-7; 1 Raja-raja 2:26; Yeremia 1:1-5; Yesaya 6:5; Yeremia 1:16-19; Matius 28:20.
AYAT HAFALAN: "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa" (Yeremia 1:5).
Kita mengenal kehidupan Yeremia lebih daripada nabi-nabi Perjanjian lama lainnya. Fakta-fakta sejarah hidup dalam bukunya menolong kita untuk mengerti dengan lebih baik pelayanannya sebagai seorang nabi. Yeremia memiliki pengaruh yang kuat dalam sejarah, bahkan pada za­man Yesus, bahan literatur dan sekolah-sekolah untuk para rasul didasarkan kepada pelayanan kenabian Yeremia.
Pada waktu yang sama, pelayanan nabi Yeremia yang dinilai oleh standar manusia, menunjukkan keberhasilan yang sedikit. Meskipun peringatan keras serta pembelaan yang diterima selama beberapa dekade, kebanyakan orang ti­dak mau mendengar pekabaran-pekabaran Allah yang ia sampaikan.
Tetapi, meskipun ada pihak yang menentang, Yeremia tidak dapat diperjual belikan; ia berdiri seperti "kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga" (Yer. 1:18), bukan karena kekuatannya, tetapi karena kekuat­an Tuhan.
Nasib kehidupan Yeremia tidaklah selalu bahagia. Panggilannya membawa­nya kepada penderitaan, duka cita, penolakan, bahkan hukuman penj ara. Lebih buruk lagi, bahwa kenyataannya banyak masalah-masalah justru datang dari mereka yang harus ia tolong, yang harus ia tuntun ke jalan yang benar. Jadi, dengan caranya sendiri, Yeremia menunjukkan apa yang akan Yesus hadapi ratusan tahun kemudian di tanah yang sama.
*Pelajarilah pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat, 3 Oktober.


Para Nabi…Minggu 27 September
Para nabi, sesuai dengan panggilan mereka, ditentukan untuk menjadi pe­lindung hukum Allah. Mereka berdiri di atas perjanjian dan Sepuluh Hukum Allah (Yer. 11:2-6). Mikha 3:8 memberikan ringkasan pelayanan para nabi, yakni "untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya." Dan konsep dosa, tentunya, tidak memiliki arti bila terpisah dari Hukum Taurat (lihat Roma 7:7).
Apakah pekabaran para nabi kepada bangsa itu? Dalam cara bagai­manakah pekabaran itu juga sama kepada kita sekarang ini? Yes. 1:19; Yer. 7:5-7; Yeh. 18:23. (Lihat juga Matius 3:7-11).
Yes. 1:19;
1:19 Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.

Yer. 7:5-7;
7:5 melainkan jika kamu sungguh-sungguh memperbaiki tingkah langkahmu dan perbuatanmu, jika kamu sungguh-sungguh melaksanakan keadilan di antara kamu masing-masing,
7:6 tidak menindas orang asing, yatim dan janda, tidak menumpahkan darah orang yang tak bersalah di tempat ini dan tidak mengikuti allah lain, yang menjadi kemalanganmu sendiri,
7:7 maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini, di tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu, dari dahulu kala sampai selama-lamanya
Yeh. 18:23.
18:23 Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?

(Lihat juga Matius 3:7-11).
3:7. Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: "Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?
3:8 Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.
3:9 Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!
3:10 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
3:11 Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.

Penghakiman Allah tidak dapat dielakkan, tetapi itu akan datang jika orang- orang tidak berbalik dari jalannya yang jahat. Namun perubahan tidaklah mu­dah," khususnya.ketika orang-orang menjadi terbiasa melakukan kejahatan. Siapakah yang tidak pernah melihat mereka yang terbiasa melakukan kejahat­an, yang pada satu ketika, mengejutkan mereka? Pekabaran para nabi adalah membiarkan orang-orang melihat betapa jahatnya mereka, dan apa akibatnya bila tidak berbalik dari jalan yang jahat itu. Pekabaran ini, tentunya, bukanlah pekabaran mereka, itu adalah pekabaran Tuhan.
Para nabi tidak menyebutkan bagaimana Firman Allah dinyatakan kepada mereka atau bagaimana mereka mendengar pekabaran itu. Terkadang Allah berbicara langsung kepada mereka; di waktu yang lain Roh Kudus menyentuh mereka dalam mimpi atau penglihatan-penglihatan, atau mungkin melalui "bu­nyi angin" (1 Raja 19:12). Tetapi pekabaran datang kepada mereka—para nabi memiliki sebuah misi—bukan hanya untuk menyampaikan kehendak Allah kepada bangsa itu, tetapi juga, jika diperlukan, untuk disampaikan di hadapan para raja, para kaisar, dan para jenderal.
Tugas ini melibatkan tanggung jawab yang besar: Jika mereka mengatakan kebenaran, orang-orang yang berkuasa ini dapat saja membunuh mereka; te­tapi jika mereka tidak menyampaikan kebenaran itu, penghakiman Allah akan menimpa mereka. Menjadi seorang nabi adalah panggilan yang sulit, dan dari Alkitab dapat kita sampaikan bahwa mereka yang dipercayakan panggilan itu, menerimanya dengan serius.
Kita berbahagia bahwa mereka menerimanya, dan pekabaran mereka diwa­riskan kepada kita di dalam Alkitab. Artinya, pekabaran mereka masih berbica­ra, bahkan hingga saat ini. Pertanyaan sekarang adalah sama; seperti di zaman Yeremia: Akankah kita mendengar?


Apakah para nabi, bahkan sesudah semua zaman yang dilalui, masih tetap berbicara kepada kita? Intinya, apakah pekabaran utama mereka kepada umat Allah?

Latar Belakang Keluarga Yeremia…Senin, 28 September
Bacalah 1 Raj. 1 dan 1 Raj. 2:26. Apakah latar belakang yang menun­tun kepada pengasingan Abyatar ke rumahnya yang di Anatot?
1:1. Raja Daud telah tua dan lanjut umurnya, dan biarpun ia diselimuti, badannya tetap dingin.
1:2 Lalu para pegawainya berkata kepadanya: "Hendaklah dicari bagi tuanku raja seorang perawan yang muda, untuk melayani dan merawat raja; biarlah ia berbaring di pangkuanmu, sehingga badan tuanku raja menjadi panas."
1:3 Maka di seluruh daerah Israel dicarilah seorang gadis yang cantik, dan didapatlah Abisag, gadis Sunem, lalu dibawa kepada raja.
1:4 Gadis itu amat cantik, dan ia menjadi perawat raja dan melayani dia, tetapi raja tidak bersetubuh dengan dia.

1:5. Lalu Adonia, anak Hagit, meninggikan diri dengan berkata: "Aku ini mau menjadi raja." Ia melengkapi dirinya dengan kereta-kereta dan orang-orang berkuda serta lima puluh orang yang berlari di depannya.
1:6 Selama hidup Adonia ayahnya belum pernah menegor dia dengan ucapan: "Mengapa engkau berbuat begitu?" Iapun sangat elok perawakannya dan dia adalah anak pertama sesudah Absalom.
1:7 Maka berundinglah ia dengan Yoab, anak Zeruya dan dengan imam Abyatar dan mereka menjadi pengikut dan pembantu Adonia.
1:8 Tetapi imam Zadok dan Benaya bin Yoyada dan nabi Natan dan Simei dan Rei dan para pahlawan Daud tidak memihak kepada Adonia.
1:9 Sesudah itu Adonia mempersembahkan domba, lembu dan ternak gemukan sebagai korban dekat batu Zohelet yang ada di samping En-Rogel, lalu mengundang semua saudaranya, anak-anak raja, dan semua orang Yehuda, pegawai-pegawai raja;
1:10 tetapi nabi Natan dan Benaya dan para pahlawan dan Salomo, adiknya, tidak diundangnya.

1:11. Lalu berkatalah Natan kepada Batsyeba, ibu Salomo: "Tidakkah engkau mendengar, bahwa Adonia anak Hagit, telah menjadi raja, sedang tuan kita Daud tidak mengetahuinya?
1:12 Karena itu, baiklah kuberi nasihat kepadamu, supaya engkau dapat menyelamatkan yawamu dan nyawa anakmu Salomo.
1:13 Pergilah masuk menghadap raja Daud dan katakan kepadanya: Bukankah tuanku sendiri, ya rajaku, telah bersumpah kepada hambamu ini: Anakmu Salomo, akan menjadi raja sesudah aku dan dialah yang akan duduk di atas takhtaku? Mengapakah sekarang Adonia menjadi raja?
1:14 Dan selagi engkau berbicara di sana dengan raja, akupun akan masuk pula dan menyokong perkataanmu itu."
1:15 Jadi masuklah Batsyeba menghadap raja ke dalam kamarnya. Waktu itu raja sudah sangat tua dan Abisag, gadis Sunem itu, melayani raja.
1:16 Lalu Batsyeba berlutut dan sujud menyembah kepada raja. Raja bertanya: "Ada yang kauingini?"
1:17 Lalu perempuan itu berkata kepadanya: "Tuanku sendiri telah bersumpah demi TUHAN, Allahmu, kepada hambamu ini: Anakmu Salomo akan menjadi raja sesudah aku, dan ia akan duduk di atas takhtaku.
1:18 Tetapi sekarang, lihatlah, Adonia telah menjadi raja, sedang tuanku raja sendiri tidak mengetahuinya.
1:19 Ia telah menyembelih banyak lembu, ternak gemukan dan domba, dan telah mengundang semua anak raja dan imam Abyatar dan Yoab, panglima itu, tetapi hambamu Salomo tidak diundangnya.
1:20 Dan kepadamulah, ya tuanku raja, tertuju mata seluruh orang Israel, supaya engkau memberitahukan kepada mereka siapa yang akan duduk di atas takhta tuanku raja sesudah tuanku.
1:21 Nanti aku ini dan anakku Salomo dituduh bersalah segera sesudah tuanku raja mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya."
1:22 Selagi Batsyeba berbicara dengan raja, datanglah nabi Natan.
1:23 Diberitahukan kepada raja: "Itu ada nabi Natan." Masuklah ia menghadap raja, lalu sujud menyembah kepada raja dengan mukanya sampai ke tanah.
1:24 Natan berkata: "Ya tuanku raja, tuanku sendirilah rupa-rupanya yang telah berkata: Adonia akan menjadi raja sesudah aku dan ia akan duduk di atas takhtaku!
1:25 Sebab pada hari ini ia telah menyembelih banyak lembu, ternak gemukan dan domba; ia mengundang semua anak raja, para panglima dan imam Abyatar, dan sesungguhnya mereka sedang makan minum di depannya sambil berseru: Hidup raja Adonia!
1:26 Tetapi hambamu ini, dan imam Zadok dan Benaya bin Yoyada dan hambamu Salomo tidak diundangnya.
1:27 Jika hal ini terjadi dari pihak tuanku raja, maka engkau tidak memberitahu hamba-hambamu ini, siapa yang akan duduk di atas takhta tuanku raja sesudah tuanku."
1:28 Lalu raja Daud menjawab, katanya: "Panggillah Batsyeba." Perempuan itu masuk menghadap raja dan berdiri di depannya.
1:29 Lalu raja bersumpah dan berkata: "Demi TUHAN yang hidup, yang telah membebaskan nyawaku dari segala kesesakan,
1:30 pada hari ini aku akan melaksanakan apa yang kujanjikan kepadamu demi TUHAN, Allah Israel, dengan sumpah ini: Anakmu Salomo akan menjadi raja sesudah aku, dan dialah yang akan duduk di atas takhtaku menggantikan aku."
1:31 Lalu Batsyeba berlutut dengan mukanya sampai ke tanah; ia sujud menyembah kepada raja dan berkata: "Hidup tuanku raja Daud untuk selama-lamanya!"

1:32. Lagi kata raja Daud: "Panggillah imam Zadok, nabi Natan dan Benaya bin Yoyada." Mereka masuk menghadap raja,
1:33 dan raja berkata kepada mereka: "Bawalah para pegawai tuanmu ini, naikkan anakku Salomo ke atas bagal betina kendaraanku sendiri, dan bawa dia ke Gihon.
1:34 Imam Zadok dan nabi Natan harus mengurapi dia di sana menjadi raja atas Israel; kemudian kamu meniup sangkakala dan berseru: Hidup raja Salomo!
1:35 Sesudah itu kamu berjalan pulang dengan mengiring dia; lalu ia akan masuk dan duduk di atas takhtaku, sebab dialah yang harus naik takhta menggantikan aku, dan dialah yang kutunjuk menjadi raja atas Israel dan Yehuda."
1:36 Lalu Benaya bin Yoyada menjawab raja: "Amin! Demikianlah kiranya firman TUHAN, Allah tuanku raja!
1:37 Seperti TUHAN menyertai tuanku raja, demikianlah kiranya Ia menyertai Salomo; semoga Ia membuat takhta Salomo lebih agung dari takhta tuanku raja Daud."
1:38 Lalu pergilah imam Zadok, nabi Natan dan Benaya bin Yoyada, dengan orang Kreti dan orang Pleti, mereka menaikkan Salomo ke atas bagal betina raja Daud dan membawanya ke Gihon.
1:39 Imam Zadok telah membawa tabung tanduk berisi minyak dari dalam kemah, lalu diurapinya Salomo. Kemudian sangkakala ditiup, dan seluruh rakyat berseru: "Hidup raja Salomo!"
1:40 Sesudah itu seluruh rakyat berjalan di belakangnya sambil membunyikan suling dan sambil bersukaria ramai-ramai, sampai seakan-akan bumi terbelah oleh suara mereka.

1:41. Hal itu kedengaran kepada Adonia dan kepada semua undangan yang bersama-sama dengan dia, ketika mereka baru habis makan. Ketika Yoab mendengar bunyi sangkakala itu, ia berkata: "Apakah sebabnya kota begitu ribut?"
1:42 Selagi ia berbicara, datanglah Yonatan anak imam Abyatar. Lalu Adonia berkata: "Masuklah, sebab engkau seorang kesatria dan tentulah engkau membawa kabar baik."
1:43 Tetapi Yonatan menjawab Adonia: "Tidak! Tuan kita raja Daud telah mengangkat Salomo menjadi raja.
1:44 Raja telah menyuruh supaya imam Zadok, dan nabi Natan dan Benaya bin Yoyada, dengan orang Kreti dan orang Pleti, menyertai Salomo dan mereka menaikkan dia ke atas bagal betina raja.
1:45 Imam Zadok, dan nabi Natan mengurapi dia di Gihon menjadi raja, dan dari sana mereka sudah pulang dengan bersukaria, sehingga kota menjadi ribut, itulah bunyi yang kamu dengar tadi.
1:46 Salomo sekarang duduk di atas takhta kerajaan;
1:47 juga pegawai-pegawai raja telah datang mengucap selamat kepada tuan kita raja Daud, dengan berkata: Kiranya Allahmu membuat nama Salomo lebih masyhur dari pada namamu dan takhtanya lebih agung dari pada takhtamu. Dan rajapun telah sujud menyembah di atas tempat tidurnya,
1:48 dan beginilah katanya: Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang pada hari ini telah memberi seorang duduk di atas takhtaku yang aku sendiri masih boleh saksikan."
1:49 Maka semua undangan Adonia itu terkejut, lalu bangkit dan masing-masing pergi menurut jalannya.
1:50 Takutlah Adonia kepada Salomo, sebab itu ia segera pergi memegang tanduk-tanduk mezbah.
1:51 Lalu diberitahukanlah kepada Salomo: "Ternyata Adonia takut kepada raja Salomo, dan ia telah memegang tanduk-tanduk mezbah, serta berkata: Biarlah raja Salomo lebih dahulu bersumpah mengenai aku, bahwa ia takkan membunuh hambanya ini dengan pedang."
1:52 Lalu kata Salomo: "Jika ia berlaku sebagai kesatria, maka sehelai rambutpun dari kepalanya tidak akan jatuh ke bumi, tetapi jika ternyata ia bermaksud jahat, haruslah ia dibunuh."
1:53 Dan raja Salomo menyuruh orang menjemput dia dari mezbah itu. Ketika ia masuk, sujudlah ia menyembah kepada raja Salomo, lalu Salomo berkata kepadanya: "Pergilah ke rumahmu."

2:26. Dan kepada imam Abyatar raja berkata: "Pergilah ke Anatot, ke tanah milikmu, sebab engkau patut dihukum mati, tetapi pada hari ini aku tidak akan membunuh engkau, oleh karena engkau telah mengangkat tabut Tuhan ALLAH di depan Daud, ayahku, dan oleh karena engkau telah turut menderita dalam segala sengsara yang diderita ayahku."


Sesudah memperkuat takhtanya, Salomo, dalam perselisihannya dengan Adonia mengenai pergantian, mengusir imam Abyatar dari tugasnya dan mengirimnya dalam pengasingan kembali ke rumah yang di kampungnya, Anatot, kurang lebih tiga mil jauhnya ke arah utara Yerusalem. Hilkia, ayah Yeremia, adalah anggota keluarga imam yang hidup di Anatot. Beberapa orang berspekulasi bahwa keluarga Yeremia berasal dari keturunan Abyatar. Atau, kita me­ngetahui dari Yeremia 1:1 bahwa orang muda ini memiliki garis keturunan yang tinggi. Maka, dapat kita lihat di sini bahwa sepanjang sejarah nubuatan, Tuhan memanggil segala jenis orang—gembala, guru, nelayan, imam—ke da­lam ruang kerja kenabian.
"Sebagai seorang anggota keimamatan orang Lewi, Yeremia telah dididik untuk pekerjaan suci sejak masih kecil. Pada tahun-tahun persiapan yang me­nyenangkan itu ia sedikit saja menyadari bahwa ia telah diurapi sejak lahir untuk menjadi 'nabi bangsa-bangsa' dan ketika panggilan Ilahi datang, ia di­selubungi dengan perasaan ketidaklayakannya. 'Ah, TUHAN Allah!' serunya, 'Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.' Yere­mia 1:5-6."—Ellen G. Whitc, Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 31.
Para imam haruslah menjadi pemimpin moral dan spiritual bangsa; mereka telah diberikan peran yang penting untuk memengaruhi sebagian besar kehi­dupan spiritual bangsa itu. Beberapa di antaranya telah setia dalam tugas itu; yang lain menyalahgunakannya dan merusakkannya dengan cara yang kita ti­dak dapat bayangkan. Seperti yang akan segera kita baca dalam kitab Yeremia, nabi berbicara dengan tegas menentang para imam yang tidak setia ini, yang terbukti tidak layak dalam tanggung jawab dan panggilan yang telah diperca­yakan kepada mereka.
Apakah tanggung jawab spiritual Anda, apakah di rumah atau di ge­reja atau keduanya, atau di tempat yang lain? Seandainya nabi berbicara kepada Anda sekarang tentang tanggung jawab itu, apakah yang akan ia katakan?
Panggilan Kenabian Yeremia …Selasa, 29 September

Bacalah Yeremia 1:1-5. Apakah yang ayat itu katakan tentang panggil­an Yeremia?
Yeremia 1:1-5
1:1. Inilah perkataan-perkataan Yeremia bin Hilkia, dari keturunan imam yang ada di Anatot di tanah Benyamin.
1:2 Dalam zaman Yosia bin Amon, raja Yehuda, dalam tahun yang ketiga belas dari pemerintahannya datanglah firman TUHAN kepada Yeremia.
1:3 Firman itu datang juga dalam zaman Yoyakim bin Yosia, raja Yehuda, sampai akhir tahun yang kesebelas zaman Zedekia bin Yosia, raja Yehuda, hingga penduduk Yerusalem diangkut ke dalam pembuangan dalam bulan yang kelima.
1:4. Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

Seperti juga para nabi yang lain di Perjanjian Lama (seperti Paulus dalam Perjanjian Baru; lihat Gal. 1:1; Rm. 1:1), Yeremia tidak mengada-ada tentang siapa yang memanggilnya. Ia begitu jelas dalam ayat-ayat ini, dan bahkan se­panjang kitab Yeremia, apa yang dia bicarakan adalah, "Firman Tuhan," yang datang kepadanya. Tanpa keraguan bahwa pengakuan yang sungguh-sungguh ini menyanggupkan dia untuk maju meskipun ada penentang yang kuat, jebak­an, penderitaan, dan ujian-ujian.
Panggilan Yeremia terjadi pada tahun ketigabelas masa pemerintahan Yo- sia, sekitar tahun 627/626 S.M. Kita tidak mengetahui tahun yang tepat kapan sang nabi dilahirkan, atau umur yang tepat kapan dia memulai pelayanannya. Namun, dalam benaknya, sebagaimana yang kita akan lihat, ia menganggap dirinya seorang anak kecil, seseorang yang terlalu muda untuk tugas yang di­berikan kepadanya.

Bacalah Yeremia 1:4, 5. Janji dan penghiburan apakah yang seharus­nya ia dapatkan dari ayat-ayat itu?
Yeremia 1:4, 5
1:4. Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:
1:5 "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

Panggilan kenabian Yeremia terjadi sebelum kelahirannya. Allah telah mengasingkan dia sejak masih dalam kandungan untuk peran kenabian ini. Kata yang diterjemahkan "Aku telah menguduskan engkau" (ayat 5) datang dari kata keija yang berarti "menjadi suci," "menjadi kudus," dan untuk "di­sucikan" dari hal-hal yang lain. Ungkapan itu jelas memiliki konotasi rohani serta kudus, yang juga berhubungan erat dengan pelayanan Bait Suci. Bahkan, kata "Bait Suci" datang dari akar kata yang sama. Gagasan yang terdapat di dalamnya adalah sesuatu atau seseorang yang "diasingkan untuk tujuan yang kudus." Inilah yang Allah rencanakan kepada Yeremia, bahkan sebelum ke­lahirannya. Ayat-ayat ini tidak mengajarkan pra-eksistensi atau predestinasr, gantinya, ayat-ayat itu mengajarkan nubuatan Allah.

Allah mengetahui akhir dari permulaan. Penghiburan apakah yang da­pat kita ambil di tengah-tengah pergumulan yang pasti kita hadapi?

Para Nabi yang Enggan…Rabu, 30 September
Meskipun jaminan Tuhan bahwa Yeremia secara Ilahi dipilih untuk tugas ini, namun orang muda ini ketakutan dan merasa tidak siap untuk itu. Mungkin karena mengetahui situasi kerohanian yang buruk pada saat itu, dan mengeta­hui apa yang harus dilakukan, Yeremia tidak menginginkan pekerjaan itu.
Bandingkanlah Yeremia 1:6 dengan Yesaya 6:5 dan Keluaran 4:10-15. Poin serupa apakah yang dimiliki dalam semua peristiwa ini?
Yeremia 1:6
1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."

Yesaya 6:5
6:5. Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."

Keluaran 4:10-15
4:10. Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah."
4:11 Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?
4:12 Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."
4:13 Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus."
4:14 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: "Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya.
4:15 Maka engkau harus berbicara kepadanya dan menaruh perkataan itu ke dalam mulutnya; Aku akan menyertai lidahmu dan lidahnya dan mengajarkan kepada kamu apa yang harus kamu lakukan.

Tidak satu pun dari mereka, untuk alasan apa pun, bersedia untuk tugas itu. Mungkin ada persyaratan yang krusial bagi tugas seorang nabi: Sebuah pera­saan tidak layak dari seseorang dan ketidaksanggupan bagi sebuah pekerjaan yang krusial dan penting. Seorang jurubicara bagi Sang Pencipta? Tidak heran mereka semua menghindar dari tugas itu, paling tidak pada awalnya.
Perhatikan juga, respons pertama Yeremia sesudah dipanggil. Ia tiba-tiba berbicara tentang ketidaksanggupannya untuk berbicara dengan baik, seperti yang Musa lakukan. Juga Yesaya, dalam responsnya, menyinggung masalah mulut, dan bibirnya. Dalam semua kasus, mereka mengetahui bahwa, apa pun yang terlibat dalam panggilan mereka, itu akan melibatkan kesanggupan ber­bicara dan berkomunikasi. Mereka akan menerima pekabaran dari Allah dan kemudian harus bertanggung jawab untuk menyampaikan pekabaran-pekaba- ran itu kepada orang lain. Tidak seperti sekarang ini, di mana dapat membu­at sebuah situs website atau mengirim pesan, sebaliknya komunikasi jenis ini sering terjadi muka dengan muka. Bayangkan harus berdiri di hadapan para pemimpin musuh atau orang-orang yang keras dan menyampaikan amaran serta teguran yang tajam? Keengganan mereka menjadi nabi kemudian dapat dimengerti.
Bacalah Yeremia 1:7-10. Apakah respons Allah kepada Yeremia? Me­ngapakah respons itu mengandung beberapa harapan dan janji bagi kita dalam segala sesuatu yang kita percaya bahwa Allah telah memanggil kita untuk melakukannya?
Yeremia 1:7-10
1:7 Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan.
1:8 Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."
1:9 Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: "Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.
1:10 Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam." 

Dahan Pohon Badam…Kamis, 1 Oktober
Nabi adalah saksi Allah, tugasnya adalah berbicara bukan untuk dirinya tetapi hanya bagi Allah. Yeremia tidak dipanggil untuk mencari solusi bagi masalah bangsa itu, atau menjadi seorang yang berkepribadian tinggi atau pe­mimpin yang berkarisma yang harus diikuti bangsa itu. Yeremia mempunyai misi tunggal yaitu menyampaikan perkataan-perkataan Allah kepada bangsa dan para pemimpin mereka. Penekanannya di sini bukanlah kepada manusia atau potensi manusia, namun kepada kedaulatan dan kuasa Allah. Nabi ha­rus mengarahkan orang-orang kepada Tuhan, sebagai satu-satunya solusi dari semua masalah mereka. Tentunya, itu tidak ada bedanya dengan zaman kita sekarang.
Tentang apakah penglihatan Yeremia yang pertama? (lihat Yeremia 1:11-19).
1:11. Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam."
1:12 Lalu firman TUHAN kepadaku: "Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firman-Ku."
1:13 Firman TUHAN datang kepadaku untuk kedua kalinya, bunyinya: "Apakah yang kaulihat?" Jawabku: "Aku melihat sebuah periuk yang mendidih; datangnya dari sebelah utara."
1:14 Lalu firman TUHAN kepadaku: "Dari utara akan mengamuk malapetaka menimpa segala penduduk negeri ini.
1:15 Sebab sesungguhnya, Aku memanggil segala kaum kerajaan sebelah utara, demikianlah firman TUHAN, dan mereka akan datang dan mendirikan takhtanya masing-masing di mulut pintu-pintu gerbang Yerusalem, dekat segala tembok di sekelilingnya dan dekat segala kota Yehuda.
1:16 Maka Aku akan menjatuhkan hukuman-Ku atas mereka, karena segala kejahatan mereka, sebab mereka telah meninggalkan Aku, dengan membakar korban kepada allah lain dan sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri.
1:17 Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!
1:18 Mengenai Aku, sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini.
1:19 Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

Umumnya terjemahan Alkitab menerjemahkan ekspresi Ibrani dalam ayat 11 sebagai "sebatang dahan pohon badam." Tetapi, terjemahan dalam ayat ini melewatkan permainan kata dalam bahasa Ibrani. Kata yang diterjemahkan, "pohon badam" memiliki akar kata yang sama dengan kata kerja "melaksana­kan" yang muncul dalam ayat 12, ketika Tuhan berkata bahwa Ia pergi untuk "melaksanakan" untuk memastikan bahwa Ia akan menggenapi firman-Nya.
Seseorang dapat berargumentasi bahwa pusat pekabaran keseluruhan kitab Yeremia terdapat dalam ayat 11 dan 12. Allah adalah Allah pemurah dan peng­ampun. Jika umat-Nya berbalik dari dosa mereka, Ia setia mengampuni dan memulihkan mereka; jika mereka tidak mau berbalik, Ia juga setia dan adil menggenapi firman penghakiman dan penghukuman-Nya.
Juga, seperti yang kita lihat, perkataan-perkataan Allah di sini bukan ha­nya ditujukan kepada bangsa itu. Tuhan berbicara langsung kepada Yeremia, mengamarkannya untuk siap menghadapi tantangan yang akan dia hadapi. Ti­dak peduli apa pun yang teijadi, Yeremia memiliki jaminan dari Allah bahwa "Aku beserta engkau." Seperti yang akan kita lihat, dia memerlukan itu.

Bacalah Matius 28:20. Jaminan apakah yang dapat kita temukan dalam perkataan-perkataan ini bagi diri kita yang hidup di waktu sekarang?
Matius 28:20
28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."



Jumat 2 Oktober
Pendalaman: Martin Luther menulis tentang nabi ini dalam pendahuluan komentarnya tentang buku Yeremia: "Yeremia adalah nabi peratap, seorang yang hidup dalam periode waktu yang menyedihkan dan sulit, lebih lagi, pe­layanan kenabiannya sangatlah sulit ketika ia bergumul dan berhadapan de­ngan orang-orang dengan karakter berang dan keras kepala. Rupanya dia tidak mencapai sukses karena mengalami keadaan di mana musuhnya menjadi lebih jahat. Mereka mencoba membunuhnya berkali-kali. Bahkan, dia hidup untuk melihat dengan matanya sendiri bagaimana bangsanya hancur dan umatnya dibawa ke pengasingan.
"Selama empat puluh tahun Yeremia harus berdiri di hadapan bangsa itu sebagai saksi kebenaran dan keadilan. Pada zaman kemurtadan yang tiada tara­nya, ia harus menunjukkan dalam kehidupan dan tabiat penyembahan kepada satu-satunya Allah yang benar. Selama pengepungan Yerusalem yang menge­rikan, ia menjadi juru bicara Allah. Ia harus menubuatkan keruntuhan kerajaan Daud dan kebinasaan bait suci indah yang dibangun oleh Salomo. Dan ketika dipenjarakan oleh sebab ucapan-ucapannya yang tidak mengenal takut, ia tetap berbicara dengan jelas menentang dosa di kalangan atas. Dihina, dibenci, di­tolak oleh manusia, pada akhirnya ia harus menyaksikan) kegenapan nubuatan- nubuatannya sendiri secara harafiah mengenai nasib yang akan datang, dan ikut merasakan kesusahan dan penderitaan yang harus mengikuti kebinasaan kota yang malang itu."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld 4, hlm. 32.
Pertanyaan untuk Didiskusikan:
Salah satu hal yang paling menyedihkan, namun sesuatu yang harus dipikirkan oleh semua umat Advcnt sekarang ini, yaitu kenyataan bahwa Allah telah mengamarkan Yeremia kalau ia akan menghadapi tantangan yang hebat dari umatnya sendiri. Bacalah lagi Yeremia 1:17-19. Siapakah yang akan menentang dia? Sebuah pelajaran menakutkan apakah yang harus kita ambil dari hal ini bagi diri kita sendiri? Yakni, apakah sikap kita terhadap perkataan nubuatan yang ditujukan kepada kita, khusus­nya ketika kita mendengar sesuatu yang kita tidak sukai? Bagaimana­kah kutipan Ellen G. White di atas menolong kita mengekspresikan ke­benaran yang menakutkan bahwa orang yang seharusnya menyatakan kebenaran Allah kepada dunia adalah justru orang yang menentang Dia, melalui mencerca dan menyerang jurubicara-Nya? (lihat juga Pengkhot­bah 1:9.)

Yeremia 1:17-19
1:17 Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!
1:18 Mengenai Aku, sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini.
1:19 Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

Pengkhot­bah 1:9
1:9. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. 

PENUNTUN GURU


Ringkasan Pelajaran
Ayat Inti: Yeremia 1:1-12
Anggota Kelas akan:
Mengetahui: Meninjau kembali pengalaman panggilan Yeremia, mengakui bahwa keengganannya menerima panggilan Aliahlah yang mungkin mem­buat dia lebih memenuhi syarat bagi tugas.
Merasakan: Merasakan betapa lembutnya Allah memperlakukan perasaan ketidakmampuan pria atau wanita yang berkaitan dengan tugas-tugas yang Ia telah tetapkan di hadapan masing-masing.
Melakukan: Memutuskan untuk mendengarkan lebih teliti lagi kepada panggilan setiap pria dan wanita dan berketetapan untuk membiarkan-Nya memperlengkapi setiap pria dan wanita untuk melakukan kehendak-Nya.
Garis Besar Pelajaran:
I.               Mengetahui: Panggilan Yeremia
A.              Mengapakah panggilan Allah terhadap Yeremia menjadi seorang nabi merupakan sesuatu yang sulit bagi orang muda untuk mene­rimanya?
B.               Apa sajakah kriteria yang Allah gunakan untuk memilih manusia melakukan perintah-Nya, dan bagaimanakah semuanya itu diterap­kan dalam panggilan Yeremia (dan nabi-nabi yang lainnya)?
II.          Merasakan: Perasaan Ketidakmampuan
A.              Bagaimanakah Allah menanggapi penolakan Yeremia untuk mene­rima panggilan?
B.               Bagaimanakah kita mengatasi perasaan tidak mampu ketika kita merasa kewalahan oleh tugas-tugas di depan kita?
III.     Melakukan: Mendengarkan Panggilan Allah
A.              Bagaimanakah Anda bisa mengembangkan disiplin rohani mende­ngarkan Tuhan setiap hari?
B.               Apakah hal-hal dalam hidup Anda yang menahan Anda dari mela­kukan apa yang Allah telah panggil untuk Anda lakukan?
Kesimpulan: Reaksi mula-mula Yeremia kepada panggilan Allah tidak­lah positif, karena Ia tahu (a) kesulitan-kesulitan yang ia akan hadapi dan (b) bahwa ia, sendirian, tidak akan mampu sampai kepada tantangan itu. Namun, Allah bekerja dengan lembut terhadap dia, menenangkan ketakutannya dan memberdayakannya untuk menyampaikan Firman Allah kepada bangsa Yehuda.
Siklus Belajar
Langkah 1 — Memotivasi
Fokus Alkitab: Yeremia 1:4-9
Konsep Utama untuk Pertumbuhan Rohani: Ketika Allah memanggil, kita sering bereaksi seperti yang Yeremia lakukan; yaitu, mencari alasan-ala- san yang "baik" untuk menolak panggilan itu. Panggilan kita mungkin bukan pelayanan kenabian, tetapi ada pekerjaan bagi masing-masing kita untuk dila­kukan, dan kita seharusnya memercayai Allah bahwa Ia mengetahui siapa kita, dan apa yang kita tidak dapat lakukan. Ia akan memampukan dan memperleng­kapi kita untuk melakukan perintah-Nya.
Untuk Guru: Pelajaran pekan ini memperkenalkan pelajaran triwulan ini pada kitab Yeremia, dengan fokus kepada panggilannya. Nabi-nabi Perjanjian Lama memulai pelayanan mereka setelah menerima panggilan Allah. Pelajar­an ini memberikan sebuah kesempatan bagi guru untuk mendiskusikan bagai­mana kita dapat mengalahkan perasaan ketidakmampuan ketika kita melihat kepada tugas-tugas yang Allah telah tetapkan di hadapan kita. Pelajaran ini menggambarkan Allah yang bekerja dengan lembut terhadap ketakutan kita tetapi juga mendorong dan memberdayakan kita untuk terus maju. Ini akan menjadi penting bagi anggota UKSS untuk memahami bahwa kita semua me­nerima panggilan Allah, bahkan jika itu "hanya" sebuah panggilan untuk me­mulai kelompok kecil pendalaman Alkitab di rumah kita.
Perumpamaan Pembuka: Ada sebuah kisah seorang muda yang sedang me­nantikan panggilan Allah untuk pergi ke ladang misi. Seorang sahabat datang untuk mengunjunginya dan menemukannya sedang duduk di depan telepon. Sang wanita ini bertanya kepada pria itu apa yang sedang ia lakukan, lalu ia mengatakan kepada wanita itu bahwa ia sedang menunggu panggilan untuk pergi ke ladang misi. Wanita itu terkesan dengan pentingnya panggilan terse­but; pada saat yang sama, ketika ia melihat keluar jendela, seorang wanita tua sedang berjuang dengan beberapa kantong yang berat saat menyeberang jalan. Wanita itu lari keluar untuk menolong wanita tua itu, dan ketika ia kembali sa­habat prianya itu masih duduk di depan telepon. Saat ia duduk, ia mendengar­kan tetangga meminta pertolongan, ia lari keluar untuk melihat apa yang bisa ia lakukan. Jenis skenario yang sama terjadi lebih dari dua atau tiga kali, de­ngan dia berlari keluar untuk menolong orang lain sementara sahabat prianya menatap telepon. Akhirnya telepon berdering, dan dengan penuh semangat ia menjawabnya, namun wajahnya menjadi lesu, lalu ia memberikan telepon itu kepada sahabat wanitanya, sambil berkata bahwa telepon itu untuknya—dia dipanggil untuk pergi ke ladang misi. Diskusikan dengan UKSS di mana la­dang misi mereka dan biarkan mereka menyarankan apa yang Allah dapat min­ta mereka untuk lakukan.


Langkah 2 — Menyelidiki
Untuk Guru: Yeremia sering kali disebut "nabi peratap," yang berhubung­an dengan pekabaran duka yang ia harus sampaikan dalam seluruh pelayanan kenabiannya. Pelayanannya berlangsung sebelum, dan selama, awal pembu­angan Babel. Seperti Yesus, Yeremia adalah seorang yang penuh kesengsaraan, dan kesetiaannya kepada Allah, serta perjuangannya, dapat menjadi sebuah dorongan bagi kita yang hidup di saat-saat yang penuh dengan gejolak yang sama di akhir sejarah dunia.
Komentar Alkitab
Yeremia 1 adalah fokus pelajaran minggu ini. Itu dapat dibagi ke dalam tiga bagian utama yang semua berhubungan dengan panggilan kenabian orang muda.
I.                Yeremia di Masanya
(Pelajari Kembali Bersama UKSS, Yeremia 1:1-3.)
Ayat 1-3 yang berfungsi sebagai pendahuluan kitab Yeremia, memberikan latar belakang sejarah bagi panggilan dan pelayanan nabi. Itu juga menetap­kan mandat sang nabi dengan daftar silsilah keimamatannya dan cara di mana Tuhan berbicara kepadanya: "Datanglah firman Tuhan kepada Yeremia" (Yer. 1:2). Ungkapan ini dapat diterjemahkan secara harfiah "kepada siapa firman Tuhan teijadi/muncul/berhasil." Hal ini ditemukan berulangkah dalam penga­laman panggilan nabi-nabi Perjanjian Lama (contoh: Yunus 1:3; Mi. 1:2), dan itu menunjuk kepada fakta bahwa, ketika Allah memanggil, itu bukan sekadar kejadian yang tetap terdengar tetapi peristiwa yang dinamis yang memantul­kan kuasa Allah sebagai Pencipta, mengubah apa yang kuasa itu sentuh (ban­dingkan Yes. 55:11). Ketika Allah berbicara, sesuatu mulai terjadi.
Pertimbangkanlah hal Ini: Dalam cara apakah Firman Allah masih "ter­jadi" saat ini dalam kehidupan kita? Bagaimanakah kita bisa mengalami kuasa yang mengubahkan dari Firman-Nya?
II.            Panggilan Yeremia dan Penglihatan-penglihatan
(Pelajari Kembali Bersama UKSS, Yeremia 1:4-16.)
Tiga kali lebih banyak "Firman Tuhan" muncul di pasal 1 (ayat 4, 11, 13), memperkenalkan panggilan dan dua penglihatan selanjutnya dari Yeremia. Pe­nunjukan Allah atas Yeremia sebagai "nabi bagi bangsa-bangsa" (ayat 5) di­jelaskan dalam terminologi penciptaan sebagaimana Allah "membentuk" Ye­remia (kata kerja yang sama sebagaimana dalam Kej. 2:7) dengan rencana untuk memanggilnya sebagai seorang nabi.


Penolakan Yeremia untuk menerima panggilan Allah didasarkan pada pe­rasaan ketidakmampuannya dalam berbicara dan usia yang masih muda. Kata Ibrani untuk "pemuda" menunjukkan seorang muda, kemungkinan berusia se­kitar 18-20 tahun; tetapi itu juga dapat digunakan untuk merujuk kepada bahkan yang lebih mudah (contoh: 1 Sam. 1:24). Berbicara dalam usia yang begitu muda kepada raja-raja dan para pemimpin pastilah menjadi sesuatu yang me­nakutkan bagi Yeremia. Penolakannya menggemakan kekuatiran Musa ketika ia menerima panggilannya (Kel. 3-4), mendemonstrasikan bahwa itu adalah sebuah reaksi yang Yeremia sama-sama rasakan dengan nabi-nabi dalam Alki­tab (demikian juga dengan Ellen G. White). Reaksi semacam itu tidak mendis- kualilikasi mereka dari tugas, tetapi, sebaliknya, mengijinkan Allah untuk me­nunjukkan kekuatan-Nya melalui kelemahan-kelemahan mereka.
Allah bereaksi dengan lembut kepada penolakan Yeremia tanpa menegur dia, memberikan jaminan Keilahian-Nya dan pembebasan (Yer. 1:7,8). Lalu Allah melakukan tindakan simbolis dengan menyentuh mulut Yeremia dengan "tangan-Nya" (ayat 9), yang merupakan pembersihan (bandingkan Yes. 6:6, 7) dan juga memberi kuasa. Ia menguraikan tugas nabi dengan enam kata kerja (Yer. 1:10), empat di antaranya negatif dan dua positif, menggambarkan pene­kanan pekabaran Ilahi, bukan hanya atas penghakiman tetapi juga atas unsur- unsur harapan dan pemulihan.
Dua penglihatan memperkuat pemeliharan Allah bagi Yeremia: Sebatang dahan pohon badam dan sebuah periuk yang mendidik. Kata "pohon badam" dalam bahasa Ibrani mcnciptakan permainan kata pada kata kerja "menga­mati." Sama seperti di masa Israel kuno seseorang akan mengamati pohon badam mekar ketika menunggu musim semi (ayat 11, 12), Allah masih tetap mengamati Yeremia dan Yehuda. "Periuk yang mendidih" (ayat 13-16) yang terbalik dari utara ke selatan menyinggung musuh Israel, yang biasa datang dari arah utara. Meskipun Babel secara geografis terletak di timur Yehuda, ten­tara Babel tidak akan melintas padang gurun tetapi melintasi sepanjang sungai Efrat. Dari sana mereka menyeberang ke Siria, bergerak ke selatan, mendiri­kan singgasana mereka di pintu-pintu gerbang Yerusalem untuk menaklukkan dan melaksanakan penghakiman Allah atas Yehuda karena dosa-dosanya (ayat 15, 16).
Pertimbangkanlah Hal Ini: Bagaimanakah Anda akan bereaksi jika Anda berada pada posisi Yeremia? Pernahkah Anda mengalami "pengamatan" Allah atas rencana-rencana yang Ia miliki bagi hidupmu?
III. Janji Allah
(Pelajari Kembali Bersama UKSS, Yeremia 1:17-19.)
Ayat 17 memanggil Yeremia untuk bertindak (secara harfiah "menyiapkan diri" seperti seseorang yang bersiap untuk pekerjaan yang serius atau bahkan pertempuran dengan mengumpulkan pakaian-pakaian panjang), Tetapi siapa yang Allah panggil, Ia juga memperlengkapinya. Ia berjanji kepada Yeremia bahwa ia akan berdiri teguh seperti "kota benteng" terhadap semua orang, ter­masuk raja-raja, pangeran dan imam-imam (ayat 18). Yeremia akan mampu menahan ejekan dan permusuhan yang pasti datang dalam perjalanannya, dan itu pasti terjadi. Janji terakhir secara harfiah sebuah "penyataan" dari Tuhan:

No comments:

Post a Comment