Jika saudara/i meng-copy isi blog ini dan menaruhnya di blog/laman saudara/i, kiranya alamat blog ini dicantumkan untuk menghindari plagiat. Terimakasih.

PELAJARAN 2 TRIWULAN I 2012


Pada Mulanya

Sabat Petang
BACALAH UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Matius 19:4; Ayub 38:4-7; Ulangan 32:10, 11; Mazmur 19; Yohanes 1:1-13; Roma 5:12; Yesaya 66:22.

AYAT HAFALAN: "Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan un­tuk Dia" (Kolose 1:16).

Pokok Pikiran:  
Doktrin Penciptaan, enam hari penciptaan secara harfiah, adalah dasar bagi semua yang kita percayai.

Susah membayangkan dua lagi pandangan yang berbeda tentang asal usul selain penciptaan model Alkitabiah dan model evolusioner paham ateis. Yang pertama menyatakan penciptaan yang telah direncanakan? melalui pemikiran yang matang, dtperhitungkan, dengan tidak ada untung-untungan. Tidak ada kebetulan. Sebaliknya, model evolusi adalah semuanya kebetulan. Kedua, dalam catatan Alkitab, segala sesuatu telah diciptakan untuk suatu tujuan; Allah mempunyai tujuan akhir, orang Yunani menyebutnya telos, suatu tujuan untuk yang Dia ciptakan. Sebaliknya, evolusi berorientasi pada dasar pemikiran bahwa tidak ada tujuan akhir, tidak ada tujuan yang memotivasi untuk apa itu diciptakan. Mutasi secara acak dan seleksi alami (terjadi secara kebetulan) bekerja bersama-sama secara tersembunyi, mempertahankan apa yang berfungsi dan membuang yang tidak berguna. Akhirnya, catatan Alkitab mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam rupa Allah. Evolusi mengajarkan bahwa mereka diciptakan dalam rupa primata atau binatang menyusui sebelum terjadinya homo sapiens.
Pekan ini, kita akan mempelajari doktrin Alkitabiah tentang penciptaan dan melihat bagaimana itu membentuk dasar semua kebenaran Alkitab yang berikutnya. Jika kita salah mengerti tentang penciptaan, kita salah dalam semua­nya. Itulah sebabnya mengapa pelajaran ini begitu penting bagi kepercayaan kita sebagai umat Masehi Advent Hari Ketujuh.
*Pelajari pelajaran pekan ini sebagai persiapan untuk Sabat, 14 Januari

Minggu 8 Januari
PEKAN PENCIPTAAN

"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kej. 1:1). Bagaimanakah kalimat pembukaan ini secara otomatis memisahkan Alkitab dan paham evolusi Darwin?

Kalimat pembuka dalam kitab Kejadian menyatakan bahwa Allah sudah bertindak sebagai Pencipta. Tidak ada diberikan penjelasan untuk Allah, atau pendahuluan tentang Allah. Tidak satu pun penulis Alkitab berpikir bahwa Allah memerlukan sebuah kata pendahuluan. Barangkali hal yang paling dekat untuk bukti keberadaan Allah adalah apa yang dirasakan oleh pemazmur: "Orang bebal berkata dalam hatinya: 'Tidak ada Allah.' Busuk dan jijik perbuatan mere­ka, tidak ada yang berbuat baik." (Mzm. 14:1).
Para sarjana Alkitab telah mencatat suatu keindahan seni yang mengagumkan, bukan hanya dalam tindakan penciptaan itu sendiri tetapi bagaimana itu dinyatakan dalam Alkitab. Kejadian 1:2 memberikan aspek-aspek pendahuluan tentang bagaimana karya agung Allah terorganisasi dengan teratur: "Bumi belum berbentuk dan kosong." Tiga hari pertama Dia "membentuk" yang "tidak terbentuk." Tiga hari berikutnya Dia "mengisi" yang "hampa" atau kosong.
Dengan kata lain, terang yang diciptakan pada hari pertama dilengkapi atau disempumakan pada hari keempat dengan terang besar matahari dan bulan (dan "juga bintang-bintang," Kejadian 1:16). Udara dan air yang menjadi fokus pada hari kedua telah diisi dengan burung-burung dan makhluk-makhluk yang berkeriapan di air pada hari kelima (Kej. 1:6-8; 20-23). Kemudian daratan yang terpisah dari laut diisi dengan tumbuh-tumbuhan pada hari ketiga (Kej. 1:9-13) yang dilengkapi dengan binatang-binatang di darat bersama dengan manusia pada hari keenam. Akhirnya, dinyatakan bahwa semuanya "sungguh amat baik," dan kemu­dian dirayakan dengan megah pada hari ketujuh oleh Allah sendiri (Kej. 2:1-3).
Pokok pentingnya adalah, tidak ada dalam ayat-ayat ini yang meninggalkan indikasi bahwa ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Sebaliknya, ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa: segala sesuatu telah dikerjakan dengan teliti dan terencana.

Berdasarkan ayat berikut ini, siapakah juga yang percaya akan catat­an Alkitab tentang penciptaan?
1.      Matius 19:4
19:4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
2.      Keluaran 20:8-11
20:8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
20:9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
20:10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
20:11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.        
3.      1 Timotius 2:13
2:13 Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa.
4.      Yesaya 40:26
40:26 Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.

Segala sesuatu dalam Alkitab menunjukkan fakta bahwa Allah mencipta­kan dunia, prosesnya digambarkan dalam Kejadian 1 dan 2. Kitab Suci tidak membiarkan kita dalam ruang yang berbelit-belit mengenai hal itu. Seseorang dapat memilih penciptaan, atau seorang juga dapat memilih evolusi, tetapi de­ngan terus terang tidak diperbolehkan memilih dua-duanya. Ayat-ayat itu sen­diri tidak memberi kita opsi itu.

Senin 9 Januari
HATI SANG PENCIPTA

Drama pekan penciptaan sangat luar biasa. Hari demi hari Sang Pencipta berfirman untuk keberadaan sistem kehidupan dan bentuk kehidupan yang senantiasa menakjubkan para ahli ilmu pengetahuan. Bahkan Allah menunjukkan kegembiraan luar biasa pada waktu itu.

Bagaimanakah Allah menyatakan kepada Ayub kegembiraan yang menjadi bagian dari penciptaan bumi ini? Ayub 38:4-7.
Ayub 38:4-7
38:4. Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!
38:5 Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya? --Atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya?
38:6 Atas apakah sendi-sendinya dilantak, dan siapakah yang memasang batu penjurunya
38:7 pada waktu bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama-sama, dan semua anak Allah bersorak-sorai?

Gambaran kegembiraan dalam hati Pencipta pada pekan pertama itu juga dapat ditemukan pada ayat kedua Kejadian pasal satu: "dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air." Sepanjang masa, para sarjana Alkitab menjadi lebih menghargai keahlian sastra Musa menulis kitab Pentateukh (Lima buku pertama dari Alkitab). Dalam hal ini, sementara Musa menjelaskan Roh Allah "melayang-layang" di atas permukaan air pada pembukaan pekan penciptaan, dengan berhati-hati dia memilih sebuah kata yang dia hanya gunakan satu kali lagi—dalam Ulangan 32. Pasal tersebut merupakan bagian dari khotbah perpisahannya dengan orang Israel.

Bagaimanakah Musa menggunakan kata melayang-layang untuk ke­dua kali ini? Ulangan. 32:10, 11. (Lihat juga Matius 23:37).
Ulangan. 32:10, 11
32:10 Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.
32:11 Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,

Matius 23:37
23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.

Pikirkan bagaimana seekor induk burung dengan penuh cinta menyiapkan sangkar untuk anak-anaknya. Kemudian bayangkan induk itu melayang-layang di atas anak-anaknya, sambil membawa makanan, dan kemudian mengajar anak-anaknya bagaimana caranya terbang. Musa, yang sudah pernah menggembalakan domba selama 40 tahun, pasti telah biasa melihat fenomena alam tersebut terjadi setiap musim semi. Dalam ilham yang diterimanya, dia menggambarkan suasana yang sama dengan hati Roh Kudus sebagai "sarang" yang telah dibangun bagi kita umat manusia.
Kemudian, berbeda dengan berbagai macam model teori evolusi—yang melukiskan penciptaan kita sebagai pekerjaan dari kuasa-kuasa yang bersaing satu sama lain dengan sengitnya—segala sesuatu dalam catatan penciptaan menya­takan satu Allah yang mencintai ciptaan-Nya, memeliharanya, dan yang merancang semuanya dengan teliti dan dengan sengaja. Tidak ada yang tidak bersifat pribadi dalam penciptaan, tidak ada tanpa perasaan, dan tidak ada tanpa tujuan. Kasih ada di sana, pada permulaan pekan penciptaan. Betapa berbeda dengan leori evolusi, yang mengajarkan bahwa kasih suatu waktu timbul, tetapi hanya setelah milyaran tahun melewati kekerasan yang mementingkan diri sendiri. Kasihlah yang memotivasi penciptaan, dan kasih akan tetap ada ketika ciptaan yang sudah rusak ini diciptakan kembali.
Renungkanlah tentang keajaiban-keajaiban alam. Bagaimanakah Anda melihat kasih Allah yang mengagumkan yang dinyatakan di sana?

Selasa 10 Januari
LANGIT MENCERITAKAN

Kitab Mazmur terdiri dari kumpulan lagu memuji Pencipta. Dengan teratur dan bersorak kegirangan pemazmur menunjuk kepada "pekerjaan besar" Allah.
Mazmur 19. Kemajuan pikiran yang sangat berani. Pertama, Daud melukiskan kemuliaan langit dan cakrawala termasuk pancaran sinar matahari. Dia membandingkan cemerlangnya energi matahari dengan calon pengantin laki-laki yang sedang keluar untuk pernikahannya dan juga pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya (ayat 1-6). Dia kemudian menghubungkan kemegahan matahari ini kepada kesempurnaan hukum Allah dan kuasa ajaran-ajarannya. Isi hukum itu sangat berhubungan dengan kehebatan tindakan kreatif Allah (ayat 7-11).
Mazmur 92. "Nyanyian untuk hari Sabat" ini dimulai dengan sikap pujian dari hati yang bersyukur. Seseorang yang menelusuri penggunaan ungkapan "perbuatan tangan-Mu" dan "pekerjaan-Mu," yang digunakan di seluruh kitab Mazmur (atau di seluruh buku yang bersifat Alkitabiah yang menggunakan kata tersebut), akan berakhir pada pujian yang luas untuk dunia yang diciptakan termasuk pada Alki­tab. Dan siapa pun yang mempelajari semakin lebih dalam mengenai pekerjaan penciptaan Allan—apakah benda terkecil yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, atau bintang yang paling jauh atau planet dapat terhhat melalui tefeskop, atau hewan apa pun yang hidup (apakah itu berenang, terbang, atau berjalan)—kuasa perbuatan tangan Allah yang menakjubkan akan semakin nyata. Para ahli ilmu pengetahuan terus belajar lebih lanjut dan lebih lanjut lagi, tidak hanya mengenai perbedaan tumbuhan dan hewan tetapi juga mengenai bagaimana semua sistem kehidupan berinteraksi satu sama lain dalam suatu jaringan kehidupan yang rumit. Semakin mereka pelajari, makin kelihatan mengagumkan semuanya.

"Rahang dengan jelas bukan satu contoh rancangan yang cerdas; malah itu adalah suatu adaptasi yang tidak sempurna yang terjadi sebagai akibat dari seleksi alam, bekerja dengan alat-alat di tangan telah mengubah bentuk dan memperpendek moncong binatang menyusui menjadi suatu wajah." Owen Cingerich, God's Universe (Cambridge, Mass: Har­vard University Press, 2006), hlm. 98,99. Poin penting apakah yang dimiliki orang Kristen ini—yang dengan sia-sia mencampuradukkan evolusi dengan dunia Kristen—sayangnya gagal?

Tidak diragukan, dunia ciptaan menyatakan kasih dan kuasa Pencipta. Te­tapi dunia kita juga telah dihancurkan oleh dosa, oleh luka-luka dan kekacauan yang disebabkan pertentangan besar. Kita melihat akibat yang mengerikan di sekeliling kita dalam bentuk penyakit, kematian, bencana alam, dan sejenisnya. Tidak ada bagian dari ciptaan di bumi ini yang luput, dan tidak seorang pun manusia yang luput. Namun, walaupun di tengah-tengah kerusakan ini, kita dapat melihat kasih dan kuasa Pencipta. Kuncinya ialah jangan fokus pada hal-hal yang buruk tetapi pada yang baik yang mendasarinya. Kita dapat melihat, misalnya, pohon ceri dihantam oleh hama tumbuhan sehingga semua buahnya rusak. Hama, seburuk apa pun, tidak akan dapat menghapus kasih dan kebaikan yang dinyatakan dalam pohon itu sendiri, kasih dan kebaikan yang menun­juk kepada karakter Sang Pencipta.

Rabu 11 Januari
SALIB DAN PENCIPTAAN

Baca Yohanes 1:1-13. Dalam hal apakah Yohanes menghubungkan penciptaan dengan salib? Mengapa kedua pengajaran ini tidak dapat dipisahkan?
Yohanes 1:1-13
1:1. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
1:5. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;
1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.
1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.
1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.
1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.
1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.
1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Sejumlah ayat Alkitab dengan jelas menghubungkan Tuhan sebagai Pencipta dengan Tuhan sebagai Penebus, satu matarantai yangmenyediakan lebih banyak bukti bahwa evolusi tidak dapat menyatu dengan Alkitab, khususnya pengajar­an tentang salib. Kalau tidak, apa? Allah telah menjelma menjadi seekor kera yang diciptakan melalui kekejaman dan rasa sakit dari seleksi alam, itu semua untuk menghapuskan kematian, "musuh yang terakhir" (1 Kor. 15:26)? Tetapi bagaimanakah kematian dapat menjadi "musuh" jika itu merupakan salah satu dari cara yang dipilih Allah untuk menciptakan manusia, sedikitnya sesuai de­ngan model evolusi? Tuhan hams mengorbankan banyak homo erektus, homo heidelbergenesis, dan homo neanderthalensis yang mati supaya akhirnya satu dalam rupa-Nya sendiri (homo sapiens). Lalu, ini berarti bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan umat manusia dari proses Dia, sebagai Pencipta, sedang menciptakannya lebih dulu. Jika hal itu terdengar seperti menggelikan, karena memang begitulah adanya.

Baca Roma 5:2. Bagaimanakah ayat ini menolong kita memahami betapa pentingnya catatan mengenai penciptaan dalam kitab Kejadian terhadap seluruh rencana keselamatan?
Roma 5:2
5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Bagaimanakah ide mengenai kejatuhan, sangat jelas secara Alkitabiah, diterangkan oleh mereka yang berusaha mencampuradukkan evolusi dengan Al­kitab? Apakah Allah menggunakan proses kekerasan, egoisme, dan kekuasaan yang kuat melawan yang lemah untuk menciptakan suatu moral yang sempurna dan makhluk yang tidak mementingkan sendiri yang kemudian "jatuh" kepada kekerasan, egoisme, dan kekuasaan yang kuat melawan yang lemah—suatu keadaan yang dari padanya dia harus ditebus— atau yang lain akan menghadapi hukuman akhir?
Sekali lagi, kemustahilan keadaan tersebut menghapuskan sama sekali kemungkinan terjadinya hal itu. Satu-satunya cara untuk memahami salib, ten­tang perlunya Juruselamat untuk menebus umat manusia yang telah jatuh, adalah: karena umat manusia telah "jatuh" dari sesuatu, dan "kejatuhan" itu menimbulkan suatu kemerosotan, suatu proses kemunduran; itu artinya kita telah beranjak dari apa yang baik menuju sesuatu yang tidak baik. Maksud harfiah dari buku Kejadian dapat dimengerti dengan sempurna; sedangkan evolusi, ti­dak masuk akal sama sekali. Sesungguhnya, ide tentang evolusi juga membuat suatu penghinaan terhadap kejatuhan dan salib.

Kamis 12 Januari
PENCIPTAAN DAN PENCIPTAAN KEMBALI

Janji-janji indah apakah yang ditemukan dalam ayat ini? Yes. 65:17; Yes. 66:22; 2 Ptr. 3:13; Why. 21:4. Juga, bagaimanakah ayat tersebut berkaitan dengan penciptaan model Alkitab, sebagaimana dinyatakan pada pasal pembukaan kitab Kejadian?
Yes. 65:17;
65:17. "Sebab sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati.

Yes. 66:22;
66:22 Sebab sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu, tinggal tetap di hadapan-Ku, demikianlah firman TUHAN, demikianlah keturunanmu dan namamu akan tinggal tetap.

2 Ptr. 3:13;
3:13 Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.

Why. 21:4.
21:4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu."

Seluruh umat Kristen menaruh pengharapan pada janji akan langit yang baru dan bumi yang baru, langit dan bumi tanpa pengrusakan yang telah dibawa dosa kepada satu dunia yang kita diami sekarang. Tanpa pengharapan itu, tanpa jan­ji itu, kita tidak punya harapan sama sekali. Janji akan kehidupan yang kekal adalah sangat indah, tetapi kita menginginkan kehidupan kekal yang tanpa ketakutan, tanpa penderitaan, dan tanpa kekecewaan itu di dunia kita ini. Apakah yang lebih buruk dari kematian kekal yang menunggu orang-orang yang tidak diselamatkan dibandingkan dengan kehidupan kekal di dunia yang penuh de­ngan kesengsaraan yang sering menguasai kita?
Semua yang menuntun kepada beberapa pertanyaan yang sangat menarik berkenaan dengan asal mula dan bagaimana Allah bekerja dalam proses pencip­taan pertama—digambarkan dengan bagus sekali dalam kejadian 1 dan 2. Pertanyaannya adalah apakah langit yang baru dan bumi yang baru akan diciptakan oleh kuasa perintah Ilahi; sebagaimana digambarkan secara harfiah dalam ki­tab Kejadian; Allah berfirman dan dalam waktu yang singkat semua kehidupan ada secara ajaib di bumi yang sudah berbentuk, tanpa perubahan pikiran yang tiba-tiba, tanpa kekerasan, dan tanpa faktor kebetulan?
Atau, sebaliknya, apakah proses penciptaan berarti bahwa kehidupan akan, sekali lagi harus memikul "sukacita" dan kekerasan seleksi alam dan mencoba bertahan hidup untuk milyaran tahun lamanya hingga sebuah dunia baru, "di mana terdapat kebenaran" (2 Ptr. 3:13), akhirnya muncul?
Bagaimanapun juga, jika Allah memilih menggunakan evolusi untuk perta­ma kalinya menciptakan dunia ini, mengapa Dia melakukan hal yang berbeda pada kedua kalinya? Jika ini pilihan-Nya pada penciptaan semula, apakah itu tidak cukup baik untuk yang kedua? Kemustahilan dari ide bahwa Allah akan menggunakan evolusi untuk menciptakan kembali langit yang baru dan bumi yang baru semakin membuktikan kemustahilan dari pendapat bahwa pada mulanya Dia telah menciptakan dunia dengan cara evolusi. Tidak diragukan, Salib, Penebusan, dan janji tentang langit yang baru dan bumi yang baru merupakan tema yang tidak dapat dipisahkan dalam kitab Kejadian.

Coba bayangkan seperti apakah dunia kita ini dalam keindahannya yang asli. Bayangkan, juga, seperti apa bilamana diciptakan kembali. Pi­kiran dan hati kita hanya dapat mulai menduga-duga seperti apa itu. Me­ngapa di dunia ini tidak ada yang berharga jika kita kehilangan apa yang telah dijanjikan kepada kita?

Jumat 13 Januari
PENDALAMAN: Melalui semua pelayanannya, Ellen G White tidak berkompromi dalam penolakannya terhadap teori evolusi.
Dia menulis, "Itu adalah jenis ketidaksetiaan yang terburuk; karena meskipun banyak yang mengaku mempercayai catatan tentang penciptaan, itu adalah ketidaksetiaan dengan sembunyi-sembunyi." The Sign of the Times, 20 Maret 1879.
"Haruskah kita, karena kesempatan menelusuri garis keturunan kita dari kuman kecil, dan kerang serta kera, setuju untuk menyingkirkan pemyataan Kitab suci tersebut, yang begitu agung dalam kesederhanaannya, 'Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia?' Kejadian 1:27."—Ellen G White, Membina Pendidikan Sejati, hlm. 117.
"Ketika Allah menyatakan bahwa Dia menjadikan dunia dalam enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh, Dia memaksudkan satu hari dua puluh empat jam, yang Dia tandai dengan terbit dan terbenamnya matahari."Testimonies to Ministers and Gospel Workers, hlm. 136.

PERTANYAAN UNTUK DIDISKUSIKAN:
1.      Masalah lain muncul dari usaha mencampuradukkan evolusi dan Alkitab adalah kebangkitan orang mati pada akhir zainan. Bukankah itu suatu pro­ses seketika, bahkan dalam "sekejap mata" (I Kor. 15:52)? Sebagian orang tclali meninggal ribuan tahun lamanya. Namun, jika Allah dapat mencip­takan kembali mereka dengan seketika, mengapa dia menggunakan evolusi untuk menciptakan mereka pada mulanya?
2.      Bertentangan pada konsep popular, Charles Darwin mendasarkan teori evolusinya atas alasan teologis. Dia menyatakan seperti ini "Saya melihat" tulis Darwin, "terlalu banyak kesengsaraan dalam dunia. Saya tidak dapat meyakinkan diri saya bahwa Allah yang bersifat dermawan dan Mahakuasa telah dengan sengaja menciptakan (penyengat parasite) dengan maksud memberi makanan mereka dalam tubuh ulat bulu yang hidup, atau kucing harus bermain dengan tikus." Tentu saja Allah yang "bersifat dermawan dan Mahakuasa" tidak melakukan hal seperti itu. Apakah yang salah de­ngan asumsi Darwin, dan menurut Anda bagaimanakah itu mempengaruhi dia memunculkan teori radikal yang salah perihal asal mula manusia?
3.      Sebagai satu kelas, gunakan beberapa saat di alam untuk mengagumi berbagai keindahan ciptaan. Sementara Anda melakukannya, tetaplah lihat dampak kerusakan yang diakibatkan dosa, dan lihat bagaimana Anda da­pat membedakan antara ciptaan dan apa yang telah dilakukan dosa ter­hadap ciptaan itu. Mengapa selalu penting menyimpan perbedaan ini da­lam pikiran kita?

RANGKUMAN: Meskipun banyak usaha untuk mencampuradukkan Al­kitab dengan teori evolusi, dua pengajaran itu sangat bertolak belakang. Orang Krislen harus berpendirian teguh pada kisah penciptaan yang Alkitabiah; sekali itu hilang, maka rencana kesclamatan pun akan hilang bersamanya.


PRATINJAU PELAJARAN 3
Allah sebagai Penebus

Sabat Petang

BACALAH UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Roma 1:18; Kejadian3:15; Roma 16:20; 1 Petrus 1:19; Markus 10:32-45; Matins 27:46.

AYAT HAFALAN: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk me-nerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" (Wahyu 5:12, NKJV).

Pokok Pikiran:  Allah Tritunggal tidak hanya Pencipta kita saja, Dia juga Penebus kita.

Sangat dekat hubungan Allah sebagai Pencipta dan peran-Nya sebagai Pene­bus kita. Dosa sangat jahat, sangat mematikan, sangat bermusuhan dengan dunia ciptaan, sehingga hanya Sang Pencipta sendiri yang dapat menyelesaikan masalah tersebut. Dan Dia melakukannya, dalam diri Yesus Kristus.
"Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu 'jauh,' sudah menjadi 'dekat' oleh darah Kristus." (Ef. 2:13, NKJV). Bukan melalui usaha kita, tidak melalui apa pun yang dapat kita lakukan, tetapi melalui kasih karunia-Nya, yang dinyatakan di salib, kita orang berdosa ditebus oleh Tuhan dan "dibawa lebih dekat" kepada-Nya. Kristus telah menanggung murka Allah sehingga tidak seorang pun kita yang harus binasa. Itulah inti dari rencana keselamatan.
Paulus juga mengatakan kepada jemaat di Korintus bahwa "pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, teta­pi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah" (1 Kor. 1:18, NKJV). Hukuman keji di salib muncul diluar akal manusia: Allah, Ma­hakuasa, Pencipta yang kudus, menjadi korban demi jiwa manusia yang terbelit dosa, bahkan demi musuh-musuh-Nya, Dia menanggungkan pada diri-Nya sen­diri hukuman atas dosa-dosa mereka sehingga mereka tidak usah menghadapi hukuman mereka sendiri! Bukankah hal itu sulit dimengerti? Penebusan dosa sangat dalam, sangat berat, amat sangat besar, sehingga kita hanya memahami apa yang dapat kita mengerti. Melebihinya, jangan pikirkan, dan semua yang kita dapat lakukan adalah menyembah-Nya.
*Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat, 21 Januari.

2 comments:

  1. Thanks Renungannya

    ReplyDelete
  2. Ada yang baru lagi ga sekolah sabatnya??? :)

    ReplyDelete